ASKEP TUMOR GINJAL



ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN TUMOR GINJAL



BAB I
PENDAHULUAN
1.    Latar belakang
Angka kejadian dari neoplasma pada ginjal tidak terlalu signifikan yaitu
sekitar2%dari seluruh kematian yang disebabkan oleh kanker. Berbagai mekanisme timbulnya kanker pada ginjal telah berkembang dan penyebabpastinya belum diketahui secara pasti. Selain itu, berbagai varian/tipe dari kanker pada ginjal pun semakin banyak (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 75).
Penyebab pasti tumor ginjal tidak diketahui, beberapa keterkaitan telah di bangun antara kanker ginjal dengan merokok, hipertensi dan obesitas. Terpapar timah, kadnium dan fostat juga meningkatkan resiko perkembangan kanker (Black & Hawks, 2014, hal. 296).
Seseorang yang ingin menghindari kanker ginjal harus berhenti atau tidak memulai merokok. Menghindari paparan kimia seperti timah, fosfat, dan kadnium juga mungkin mencegah beberapa kanker ginjal. Setelah pembedahan, sebagian besar klien kesulitan dalam berurusan dengan kanker dan resiko kekambuhan. Jika nefretomi diperlukan, klien sering kwatir tentang hidup hanya dengan satu ginjal (Black & Hawks, 2014, hal. 297)

2.    Batasan masalah
Dengan rawat inap yang lebih pendek, klien yang telah melakukan nefrektomi mungkin memerlukan perawatan dirumah dan dukungan. Klien lemah karena pembedahan dan mungkin karena pengobatan lainnya. Aktivitas harus ditingkatkan secara berangsur-ansur, khususnya,6 minggu harus berlalu sebelum klien siap kembali bekerja atau mengangkan lebih dari 10 pon (Black & Hawks, 2014, hal. 301)
Perhatian terhadap kekambuhan kanker umum dilakukan. The American Cancer Society dan kelompok pendukung lainnya dapat membantu penyesuaian diri klien terhadap kanker. Orang dengan satu ginjal dapat menjalani kehidupan normal. Bagaimanapun ada kebutuhan untuk menjaga ginjal yang tersisa dengan pencegahan infeksi dan trauma (Black & Hawks, 2014, hal. 301).

3.    Rumusan masalah
Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan penyakit tumor ginjal.
1.    Tujuan
2.    Tujuan umum
Mendapatkan gambaran tentang pemenuhan kebutuhan aktivitas pada pasien tumor ginjal serta dalam pemberian asuhan keperawatan yang benar supaya penderita tumor ginjal tidak mengalami komplikasi yang semakin berat.
2.    Tujuan khusus
3.    Agar mehasiswa dapat mengetahui dan memahami bagaimana definisi dari tumor ginjal
4.    Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami etiologi dari tumor ginjal
5.    Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahi bagaiman tanda dan gejala dari tumor ginjal
6.    Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahi bagaimana patofisologi dari tumor ginjal
7.    Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami apa saja klasifikasi dari tumor ginjal.
8.    Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami apa saja komplikasi dari tumor ginjal
9.    Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami bagimana auhan keperawatan dari tumor ginjal.


  
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.    KONSEP PENYAKIT
2.    Definisi
Tumor ginjal merupakan sebuah jaringan abnormalitas idealnya harus dilakukan pengangkatan (estomi) untuk mengembalikan fungsi jaringan yang sehat (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 79).
Sel karsinoma ginjal (RCC), atau adenokarsinoma, adalah jenis tumor yang paling umum, terhitung 90% dari semua kanker ginjal. Pertumbuhan ginjal dimulai dari korteks ginjal dan biasanya terus berlanjut untuk beberapa wktu sebelum ia membuat manimfestasi. (Black & Hawks, 2014, hal. 297).
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa tumor ginjal adalah jaringan yang abnormal pada ginjal dan dimana ginjal tidak bisa berfungsi dengan baik.
2.    Etiologi
Penyebab pasti dari kanker ginjal belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor resiko diketahui maupun memicu kejadian kanker ginjal, yaitu
•    Merokok
Perilaku merokok (aktif/pasif) meningkatkan resiko terkena kanker ginjal (40%). Anak yang sering menjadi perokok pasif (status paparan) meningkatkan resiko terkena tumor wilms (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 76).
•    Obesitas
Gaya hidup obesitas akan memicu terjadinya hiperlipidemia (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 78).
•    Diet tinggi lemak hewani dan hiperkolesterol
Hiperkolesterol menyebabkan resiko atherosklerosis (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 78).
•    Hormonal
Peningkatan kadar diethylstillbestrol (berdasrkan uji eksperimen pada hamster) mempengaruhi timbulnya adenokarsinoma pada ginjal (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 76).
3.    Tanda dan gejala
Berikut ini adalah tanda dan gejala yang ditunjukkan oleh klien dengan kanker ginjal (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 76).
1.    Hematuria
Dengan pemeriksaan mikroskopis untuk melihat komponen pada urine (urinalisis) sering didapatkan adanya gross hematuria pada klien kanker ginjal. Tanda ini merupakan tanda pertama yang memberikan sinyal pada dugaan keganasan pada ginjal. Selain itu, gross hematuria bisa terjadi secara intermitten. Hal ini menunjukkan bahwa kanker telah menyebar ke bagian pelvis ginjal.
1.    Nyeri
Nyeri merupakan alarm (sinyal) alamiah bagi tubuh akan adanya gangguan fisiologis. Pada klien dengan kanker ginjal sering terjadi nyeri konstan pada abdomen. Terlebih jika jarinagan kanker telah mengalami robekan/perdarahan maka akan terjadi kolik yang akut.
1.    Adanya massa
Pada palpasi akan teraba masa dengan jaringan yang harus , berkumpul, dan adanya nyeri tekan (karena ada kompresi pada jaringan abnormal.
1.    Demam
Biasanya terjadi karena adanya perdarahan, sehingga volume intravaskular menurun atau karena adanya jaringan tumor yang nekrosis.
1.    Penurunan berat badan drastis
Terjadi karena intake nutrisi tidak adekuat
1.    Hipertensi
Jika terjadi tekanan pada arteri renalis dengan iskemia pada jaringan parenkim ginjal
1.    Hiperkalsemia
Karena dorongan sekresi hormon parathyroid oleh rangsangan tumor.
1.    Retensi urine
Bisa dikarenakan adanya clotting darah akibat akumulasi perdarahan pada urinary track.




4.    Patofisiologi
Tumor dapat tumbuh sangat besar dan cenderung untuk menekan parenkim ginjal yang berdekatan daripada memasukinya. Tumor biasanya avaskuler, cenderung mengelilingi pembulu darah dan menyempitkannya. Paru-paru dan mediastinum adalah daerah metastsatis yang paling sering terjadi. Hati, tulang, kulit, limpa, vena ginjal, dan otak adalah daerah metastasis umum lainnya.
Jenis kanker ginjal lainnya termasuk (1) nefroblastoma, (2) sarkoma, (3) tumor epitel di pelvis ginjal. Nefroblastoma atau tumor wilm, pada dasarnya adalah penyakit yang menyerang anak-anak walaupun kadang kala terjadi pada orang dewasa. Prognosis untuk orang dewasa lebih buruk daripada anak-anak, dengan beberapa sumber yang melaporkan hanya 25% tingkat kelangsungan hidup. Sarkoma jarang dan biasanya muncul di kapsul ginjal. Sebagaian besar tumor pelvis ginjal pada dasarnya berasal dari urotelial dan termasuk tiga jenis jaringan : sel transisional, sel skuamosa, dan adenokarsinoma.
Agresi spontan adenokarsinoma ginjal dilaporkan terjadi pada kurang dari 1% dari seluruh kasus. Kebanyakan dari agresi ini terjadi setelah nefrektomi dan melibatkan daerah metastasis. Pihak yang berwenang menganggap episode ini sebagai bukti bahwa penyakit berhubungan dengan faktor imonologi dan hormonal (Black & Hawks, 2014, hal. 297).



Pathway (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 78)
                                      


5.    Klasifikasi
Tumor ginjal merupakan tumor urogenetalia
1.    Tumor jinak (Nurarif & Kusuma, 2015, hal. 135).
2.    Hemartoma
Hemartoma atau angiomiolipoma ginjal adalah tumor ginjal yang terdiri atas komponen lemak, pembuluh darah dan otot polos. Lesi ini bukan merupakan tumor sejati, tetapi paling cocok disebut sebagai hemartoma. Tumor jinak ini biasanya bulat atau lonjong dan menyebabkan terangkatnya simpai ginjal. Kadang tumor ini ditemukan juga pada lokasi eksternal karena pertumbuhan yang multisentrik.
1.    Fibroma renalis
Fibroma renalis berupa benjolan masa yang kenyal keras, dengan diameter kurang dari 10 mm yang terletak dalam medula atau papilla. Tumor tersesusun atas sel spinel dengan kecerendungan  mengelilingi tubulus di dekatnya.
1.    Adenoma korteks benigna
Adenoma korteks benigna merukan tumor terbentuk nodulus berwarna kuning kelabu dengan diameter biasanya kurang dari 20 mm, yang terletak dalam korteks ginjal.
1.    Onkositoma
Onkositoma merupakan subtipe dari odenoma yang sitoplasma granulernya  (tanda terhadap adanya mitokondria yang cukup besar dan mengalami distorsi) banyak ditemukan. Onkositoma kadang-kadang dapat begitu besar sehingga mudah dikacaukan dengan karsinoma sel renalis .
1.    Tumor jinak lainya
Tumor jinak dapat timbul dari jenis sel apapun dari dalam ginjal. Beberapa menyebabkan masalah klinis, seperti hemagioma yang dapat menyebabkan masalah klinis , seperti hemangioma yang dapat menyebabkan terjadinya perdarahan, sehingga memberikan rasa nyeri atau merupakan predisposisi kehilangan darang yang banyak sewaktu terjadi trauma. Tumor yang jarang ditemukan ialah tumor sel jukstaglomerulor yang memproduksi renin yang merupakan penyebab terjadinya hipertensi.
2.    Tumor ganas (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 75).
Tumor ginjal yang ganas biasanya berupa tumor padat yang bersal dari urotelium, yaitu karsinoma sel tradisonal atau berasal dari epitel ginjal atau adenokarsinoma, yaitu tumor grawiz atau dari sel nefroblas, yaitu tumor wilms.
1.    Karsinoma ginjal
Kanker tipe ini berasal dari sel epitel tubular ginjal. Kanker tipe ini merupakan sebuah adenokarsinima (hipernefroma) dengan angka sebaran/metastase 10% bilateral.
1.    Tumor wilms (nefroblastoma)
adalah kanker pada ginjal yang banyak terjadi pada anak-anak (kanak-kanak, batita/ bawah 3thn, dan balita/bawah 5thn). Tumor ini merupakan tumor ganas yang berasal dari emrional ginjal.
1.    Karsinoma sel trasisional
Kanker ini berasal dari epitel yang membatasi sistem pelvicalyces.
6.    Komplikasi
Oleh karena ginjal adalah organ yang sangat vaskular, maka resiko pendarahanya tinggi. Embolisasi arteri ginjal pada ginjal yang terkena mungkin dilakukan untuk menghalangi suplai darah ke tumor dan mengirangi vaskularitasnya, sehingga mengurangi resiko perdarhan. Embolisasi biasanya dilakukan dengan menutup jalan arteri ginjal menggunakan spon gelatin yang dapat menyerap (gelfoam), komparan logam, bariaum, lemak subkutan, isobutil-2-cyanoacrylate, etanol absolut, atau balon.Prosedur ini mungkin juga dilakuakan untuk mengontrol pendarahan pada ginjal yang tidak dapat dibedah. Selanjutnya, beberapa penelitian percaya bahwa embolisasi mungkin merangsang respon imun terhadap el kanker yang hampir mati. Kemungkinan komplikasi lainnya yang berkaitan dengan bedah besar seperti atelektasi, pnemonia, tromboembolisme dan infeksi luka bedah (Black & Hawks, 2014, hal. 299).



1.    KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
2.    Pengkajian
3.    Identitas
Tumor paling umum terjadi pada orang berusia 50-70 tahun.tumor ini lebih sering mengenai laki-laki daripada permpuan. Sekitar 51.190 kasus kanker ginjal baru di perkirakan di diagnosis di amerika serikat pada tahun 2007 (Black & Hawks, 2014, hal. 296)
1.    Status kesehatan saat ini
•    Keluhan utama
Keluhan utama biasanya adanya benjolan diperut, perut membuncit, hematuria karena invasi tumor yang menembus sistem pelveokalisis (Nurarif & Kusuma, 2015, hal. 136).
•    Alasan masuk rumah sakit
Adanya keluhan kencing berdarah, oedema sekitar daerah mata/ seluruh tubuh (anasarka), anoreksia, mual, muntah dan diare. Kesadaran mulai timbul untuk segera di bawa kerumah sakit (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 80)
•    Riwayat penyakit sekarang
Adanya masa abdominal yang terasa ditemukan selama pemeriksaan fisik menimbulkan kecurigaan pertama. Rata-rata onset nyeri adalah 9 bulan diantara nyeri awal dan didiagnosis adalah 14 bulan (Black & Hawks, 2014, hal. 297-298)
1.    Riwayat penyakit terdahulu
•    Riwayat penyakit sebelumnya
Biasanya pasien yang mempunyai penyakit tumor ginjal mempunyai beberapa keterkaitan dengan hipertensi dan obesitas (Black & Hawks, 2014, hal. 296)
•    Riwayat penyakit keluarga
Biasanya pasien yang menderita penyakit tumor ginjal keluarganya mempunyai riwayat penyakit yang sama karena sebuah inaktivasi gen kritis pada lengan pendek kromosom 3 diduga terkait dengan perkembangan kanker ginjal (Black & Hawks, 2014, hal. 296).


•    Riwayat pengobatan
1.    Kosultasikan dengan dokter tentang penanganan lanjutan (kemoterapi, radiasi, pembedahan).
2.    Tingkatkan daya tahan tubuh. Cukup istirahat, makan makanan yang bergizi.
3.    Berikan pada dukungan pada penderita supaya tidak timbul depresi.
4.    Berolahraga fisik ringan terutama yang statis agar tubuh dan ketahanan meningkatkan secara bertahap(Nurarif & Kusuma, 2015, hal. 134)
5.    Pemeriksaan fisik
•    Keadaan umum
1.    Kesadaran
Pada klien kanker yang ginjal stadium awal biasanya tidak ada keluhan yang signifikan. Namun dengan perkembangan sel kanker sering ditemukan adanya tekanan darah yang tinggi. Dari hasil pemeriksaan palpasi pada abdomen secara bimanual (dalam) ditemukan adanya ditemukan adanya massa (pembesaran ginjal), dan nyeri tekan pada ginjal (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 81)
1.    Tanda-tanda vital
Pada saat pemeriksaan pasien dengan tumor ginjal perlu dilakukan  pemeriksaan tanda tanda vital seperti warna urine abnormal (gelap atau coklat) karena terdapat darah dalam urine, kehilangan berat badan dan pemeriksaan tekanan darah (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 80)
•    Body system
1.    Sistem pernapasan
Seseorang yang ingin menghindari kanker ginjal harus berhenti atau tidak memulai merokok (Black & Hawks, 2014, hal. 297).
I : bentuk simetris, irama normal, tidak ada skar atau bekas luka.
P :tidak ada nyeri tekan, tidak ada benjolan.
P : suara normal/ sonor
A : tidak ada suara tambahan sep. Ronki atau wheezing.
1.    Sistem kardiovaskuler
Gaya hidup yang meminimalisis perkembanagan obesitas dan hipertensi (Black & Hawks, 2014, hal. 296)
I : ictus cordis tidak teraba (denyutan)
P : ictus cordis teraba
P : Kanan atas : SIC II linea para sternalis dextra
Kanan bawah : SIC IV linea para sternalis dextra
Kiri atas : SIC II linea para sternalis sinistra
Kiri bawah : SIC IV linea medio clavicularis sinistra

A: s1 s2 tunggal
1.    Sistem persyarafan
Biasanya jika telah bermetastase ke paru akan terjadi gangguan pada persyarafan dan RR meningkat (Black & Hawks, 2014, hal. 297).
1.    Sistem perkemihan
Gangguan pada eliminasi urine karena gangguan fungsi filtrasi dan reabsobsi, sehingga terjadi oliguria, anuria, proteinuria, dan hematuria (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 80).
1.    Sistem pencernaan.
Sangat rentan terjadi infeksi karena depresi sistem imun. Adanya anoreksia, nausea, vomiting sehingga intake nutrisi tidak adekuat (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 80).
I : bibir terlihat pucat.
P : tidak terdapat nyeri tekan atau benjolan.
1.    Sistem integument(Prabowo & Pranata, 2014, hal. 80).
Terjadi uremia di kulit.
I : kulit terlihat pucat, tidak ada lesi atau skar.
P : terjadi oedema
P :kulit lembab
1.    Sistem mukuloskeletal
Terjadi malaise, kelemahan otot sehingga tonus akibat hiperkalemia. Selain itu, intertoleransi aktifitas bisa terjadi karena adanya komplikasi aedema paru (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 80).
I : tidak ada skar atau bekas luka
P : adanya nyeri tekan pada pinggang dan benjolan.
1.    Sistem endokrin
Peningkatan kadar diethylstilbasterol mempengaruhi timbulnya adenokarsinoma pada ginjal (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 78).
1.    Sistem reproduksi
Produksi prostaglandin meningkat di sel karsinoma ginjal yang berfungsi untuk mendorong sel sperma menuju ovarium (Black & Hawks, 2014, hal. 298)
I : tidaka ada skar atau bekas luka.
P : tidak ada nyeri tekan, tidak ada oedeme.
1.    Sistem pengindraan
Sistem pengindraan tidak mengalami gangguan, kecuali jika mengalami anemia muka/mata akan terlihat pucat (Nurarif & Kusuma, 2015, hal. 136)
I : bentuk simetris, tidak terdapat jejas.
P : terdapat terdapat nyeri tekan, tidak ada benjolan.
1.    Sistem imun
Stimulan sistem imun telah membuahkan hasil positif selama tumor tidak terlalu besar dan imunosupresinya tidak terlalu parah (Black & Hawks, 2014, hal. 298-299).
Pemeriksaan penunjang (Nurarif & Kusuma, 2015, hal. 136).
1.    Ulrasound abdominal
Terdapat masa pada perut (retperitoneal) sebelah atas.
2.    scan
Dapat memberikan pembesaran ginjal dan sekaligus menunjukkan pembesaran kelenjar regional atau infiltrasi tumor ke jaringan sekitarnya
3.    Foto torak
Karena tingginya insiden metastase tumor ke paru-paru, maka setiap pasien dengan tumor wilms harus dilakukan pemeriksaan foto torak.
4.    Pemeriksaan darah dan urin
Menilai fungsi ginjal dan hati.
5.    Biopsi
Dilakukan untuk mengambil contoh jaringan dan pemeriksaan
mikroscopik. Biopsi tumor ini mengevaluasi sel dan diagnosis

1.    Penatalaksanaan
Dengan berkembangnya teknology ilmu pengetahuan kesehatan saat ini telah banyak tindakan untuk mengatasi kanker. Berikut ini adalah penata laksanaan yang bisa dilakukan untuk mengatasi kanker ginjal (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 79)
1.    Pembedahan
Kanker yang merupakan sebuah jaringan abnormalitas idealnya harus dilakukan pengangkatan (ektomi) untuk mengembalikan fungsi jaringan yang sehat. Saat ini banyak sekali pembedahan dengan prinsip mini insisi dilakukan. Pada klien kanker ginjal beberapa hal bisa dilakukan adalah dengan teknik laparascopy nephrectomy maupun partial nephrectomy. Khusunya untuk klien dengan resiko tinggi, maka pembedahan bisa dilakukan dengan cryoablation, radiofrequency ablation, maupun arterial embolization. Untuk menghindari perluasan metastase kanker, biasanya tim medis melakukan rindakan nefrektomi radikal (pengangkatan ginjal, kelenjar adrenal, lemak dan kelenjar getah bening sekitar)
2.    Terapi radiasi
Terapi radiasi jarang dilakukan jika kanker sudah metastase dan prognosa klien sydah buruk.
3.    Terapi hormonal
Terapi hormonal terkadang juga dilakukan untuk meningkatkan aktivitas fungsional tubuh.
4.    Systemic terapi
Kanker sel ginjal biasanya tidak berespon dengan prosedur jemoterapi tradisional sitotoksik. Namun, ada beberapa temuan baru yang lebih efektif yaitu sutent, nexavar, torisel dan efinitor.
5.    Terapi interferon
Saat ini sedang dikembangkan dalm penelitian tentang terapi interferon untuk mengatasi kanker ginjal yang sudah stadium lanjut.

2.    Diagnosa keperawatan
3.    Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera (biologis, fisik, dan psikologis) (PPNI, 2017, hal. 172).
Definisi : Pengalaman sensori atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jariangan aktual atau fungsional dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari tiga bulan.
Batasan karakteristik : tekanan darah meningkat, pola nafas berubah, nafsu makan berubah, proses berfikir terganggu, menarik diri, berfokus pada diri sendiri, diaforesis.
Gangguan afterload : tampak meringis, bersikap protektif ( misal : waspada, posisi menghindari nyeri), gelisah, frekuensi nadi meningkat, sulit tidur.
Faktor yang berhubunagan : kondisi pembedahan cedera traumatis, infeksi, sindrom konorer akut, glaukoma.
1.    Retensi urin berhubungan dengan sumbatan (obstruksi)(PPNI, 2017, hal. 155)
Definisi : pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap.
Batasan karakteristik : inkontinesia berlebih, residu urin 150 ml atau lebih.
Gangguan afterload : disuria/anutria, distensi kandung kemih.
Faktor yang berhubungan : benigna prostat hiperplasia, pembekakan perineal, cedera medula spinalis, rektokel, tumor di saluran kemih.
1.    Ketidak seimbangan nutrisi kurang dr kebutuhan tubuh(PPNI, 2017, hal. 56).
Definisi : asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme.
Batasan karakteristik : bising usus hiperaktif, otot pengunyah lemah, otot menelan lemah, membran mukosa pucat, sariawan, serum albumin turun, rambut rontok berlebihan, diare.
Gangguan afterload : berat badan menurun minimal 10% dibawah rentang ideal.
Faktor yang berhubunagn : stroke, parkinson, mobius syndrome, cerebral palsy, cleft lip, cleft palate, amyotropic lateral sclerosis, kerusakan neoromoskular, luka bakar, kanker, infeksi, AIDS, penyakit Crohn’s.
1.    Resiko ketidak seimbangan volume cairan(PPNI, 2017, hal. 87-88).
Definisi : beresiko mengalami penurunan, peningkatan atau percepatan perpindahan cairan dari intravaskuler, interstisial atau intraselutar.
Batasan karakteristik : peradangan didalam  pankreas, terdapat penyakit ginjal yang menyertai di dalam nya, mengalami ketidak seimbangan cairan (misalnya dehidrasi dan intoksikasi air) dan kelebihan volume cairan.
Gangguan afterload : mengalami dehidrasi dan intoksikasi air, terdapat gangguan di dalam disfungsi ginjal dan mengalami gagal ginjal.
Faktor yang berhubungan : prosedur pembedahan mayor, penyakit ginjal dan kelenjar, perdarahan luka bakar.
3.    Intervensi
4.    Nyeri akut (Walkinson, 2016, hal. 296-299)
•    Tujuan dan kriteria hasil :
1.    Memperlihatkan pengendalian nyeri, yang dibuktikan oleh indikator sebagai berikut (sebutan 1-5: tidak pernah, jarang, kadang-kadang, sering, atau selalu) :
Mengenali awitan nyeri
Menggunakan tindakan pencegahan
Melaporkan nyeri dapat dikendalikan
1.    Menunjukkan tingkat nyeri, yang dibuktikan oleh indikator sebagai berikut (sebutan 1-5 : sangat berat, berat, sedang, ringan, atau tidak ada) :
Ekspresi nyeri pada wajah
Gelisah atau ketegangan otot
Durasi episode nyeri
Merintih dan menangis
Gelisah
•    Intervensi (NIC)
1.    Aktivitas keperawatan
Pengkajian (Walkinson, 2016, hal. 298)
•    Gunakan laporan dari pasien sendiri sebagai pilihan pertama untuk mengumpulkan informasi pengkajian.
•    Minta pasien untuk menilai nyeri atau ketidak nyamanan pada skala 0-10 ( 0 = tidak ada nyeri atau ketidak nyamanan, 10 = nyeri hebat ).
•    Gunakan bagan alir nyeri untuk memantau peredaan nyeri oleh analgesik dan kemungkinan efek samping.
•    Kaji dampak agama, budaya kepercayaan dan lingkungan terhadap nyeri dan respon pasien.
•    Dalam mengkaji nyeri pasien, gunakan kata-kata yang sesuai usia dan tingkat perkembangan pasien.
•    Managemen nyeri (NIC) :
Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, awitan dan durasi, frekuensi, kwalitas, intensitas atau keparahan nyeri, dan faktor presipitasinya.
Observasi isyarat nonverbal ketidak nyamanan, khususnya pada mereka yang tidak mampu berkomunikasi efektif.
1.    Penyuluhan pasien/keluarga(Walkinson, 2016, hal. 298)
•    Sertakan dalam intruksi pemulangan pasien obat khusus yang harus diminum, frekuensi pemberian, kemungkinan efek samping, kemungkinan ineraksi obat, kewaspadaan khusus saat mengkonsumsi obat tersebut (misal : pembatas aktifitas fisik, pembatasan diet), dan nama orang yang harus dihubungi bila mengalami nyeri membandel.
•    Intruksikan pasien untuk menginformasikan kepada perawat jika peredaan nyeri tidak dapat dicapai.
•    Informasikan kepada pasien tentang prosedur yang dapt meningkatkan nyeri dan tawarkan stategi koping yang disarankan.
•    Perbaiki kesalahan presepsi tentang analgesik narkotik atau opioid (misalnya : resiko ketergantungan atau overdosis).
•    Manajemen nyeri (NIC) : ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologi (misalnya: umpan-balik biologis, transcutaneous electrikcal nerve stimulation [TENS], hipnotis, relaksasi, imajinasi terbimbing, terapi musik, distraksi, terapi bermain, terapi aktifitas, akupresur, kompres hangat atau dingin, dan masase ) sebelum, setelah, dan jika memungkinkan, selama aktivitas yang menimbulkan nyeri, sebelum nyeri terjadi atau meningkat, dan bersamaan penggunaan tindakan peredaan nyeri lain.
1.    Aktivitas koloboratif
(Walkinson, 2016, hal. 298)
•    Kelola nyeri pascabedah awal dengan pemberian obat yang tejadwal (misalnya : setiap 4jam selama 36jam) atau PCA.
•    Manajemen nyeri (NIC) :
Gunakan tindakan pengendalian nyeri sebelum nyeri menjadi berat.
Laporkan kepada dokter jika tindakan tidak berhasil atau jika keluhan saat ini merupakan perubahan saat ini yang bermakna dari pengalaman nyeri pasien di masa lalu.
1.    Retensi urine(Walkinson, 2016, hal. 469-470)
•    Tujuan dan karakteristik hasil
1.    Menunjukkan eliminasi urine, yang dibuktikan oleh indikator berikut (sebutan 1-5 : selalu, sering, kadang-kadang, jarang, atau tidak mengalami gangguan) :
Pola eliminasi
Mengosongkan kandung kemis secara tuntas
1.    Menunjukkan eliminasi urin, yang dibuktikan oleh indikator beriku (sebutan 1-5: selalu, sering, kadang-kadang, jarang, atau tidak ada) :
Retensi urine
•    Intervensi NIC
1.    Aktivitas keperawatan
Pengkajian :
•    Identifikasi dan dokumentasikan pola pengosongan kandung kemih
•    Perawatan retensi urine (NIC) :
Pantau penggunaan agens non-resep dengan anti kolinergik atau agonis alfa
Pantau efek obat resep, seperti penyekat saluran kalsium dan antikolnergik
Pantau asupan dan haluaran
Pantau derajat distensi kandung kemih melalui palpasi dan perkusi
1.    Penyuluhan untuk pasien/keluarga
•    Ajarkan pasien tentang tanda dan gejala infeksi saluran kemih yang harus dilaporkan (mis, demam, menggigil, nyeri pinggang, hematuria, serta perubahan konsistensi dan bau urine)
•    Perawatan retensi urine (NIC) : instruksikan pasien dan keluarga untuk mencatat haluran urine, bila diperlukan.
1.    Aktifitas kolaboratif
•    Rujukan ke perawat terapi enterestoma untuk intruksi kateterisasi intermiten mandiri menggunakan prosedur bersih setiap 4-6 jam pada saat terjaga
•    Perawatan retensi urine (NIC) : Rujuk pada spesialis kontinensia urine jika diperlukan
1.    Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh (Walkinson, 2016, hal. 282-284)
•    Tujuan dan karakteristik
1.    Memperlihatkan status nutrisi, yang dibuktikan oleh indikator sebagai berikut (sebutkan 1-5 : gangguan ekstrem, berat, sedang, ringan atau tidak ada penyimpangan dari rentang normal) :
Asupan gizi
Asupan makanan
Asupan cairan
Energi
•    Intervensi NIC
1.    Aktivitas keperawatan
Pengkajian
•    Tentukan motivasi pasien untuk mengubah kebiasaan makan
•    Tentukan kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
•    Pantau nilai laboratorium, khususnya transferin, albumin, dan elektrolit
•    Manajemen nutrisi (NIC) :
Ketahui makanan kesukaan pasien
Pantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan asupan
Timbang pasien pada interval yang tepat
1.    Penyuluhan untuk pasien dan keluarga
•    Ajarkan metode untuk perencanaan makan
•    Ajarkan pasien/keluarga tentang makanan yang bergizi dan tidak mahal
•    Manajemen nutrisi (NIC) : Berikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi dan bagaimana memenuhinya
1.    Aktivitas kolaboratif
•    Diskusikan dengan ahli gizi dalam menentukan kebutuhan protein pasien yang mengalami ketidak adekuatan asupan protein atau kehilanagan protein ( mis, pasien anoreksia nervosa, penyakit glomerular atau dialisis peritoneal)
•    Diskusikan dengan dokter kebutuhan stimulus nafsu makan, makanan pelengkap, pemberian makanan melalui slang, atau nutrisi parenteral total agar asupan kalori yang adekuat dapat dipertahankan
•    Rujuk ke dokter untuk menentu8kan penyebab gangguan nutrisi
•    Rujuk ke progam gizi di momunitas yang tepat, jika pasien tidak dapat membeli atau menyiapkan makanan yang adekuat
•    Manajemen nutrisi (NIC) : Tentukan, dengan melakukan kolaborasi bersama ahli gizi, jika diperlukan, jumlah kalori dan jenis zat gizi yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi [ khususnya untuk pasien dengan kebutuhan energi tinggi, seperti pasien pascabedah dan luka bakar, trauma, dendam, dan luka]
1.    Resiko ketidak seimbangan volume cairan (Walkinson, 2016, hal. 184-185)
•    Tujuan dan kriteria hasil :
1.    Kekurangan volume cairan akan teratasi, dibuktikan oleh keseimbangan cairan, hidrasi yang adekuat, dan statys nutrisi : asupan makanan dan cairan yang adekuat
2.    Keseimbangan cairan akan dicapai, di buktikan oleh indikator gangguan berikut (sebutkan 1-5 : gangguan ekstrem berat, sedang, ringan atau tidak ada gangguan) :
Tekanan darah
Denyut nadi radial
Nadi perifer
Elektrolit serum
Berat badan stabil
•    Intervensi NIC
1.    Aktifitas keperawatan
Pengkajian :
•    Pantau warna, jumlah dan frekuensi kehilanagn cairan.
•    Observasi kususnya kehilangan cairan yang tinggi elektrolit (mis, diare, dreinase luka, pengisapan nasogastrik, diafuresis dan drainase iliestomi)
•    Pantau pedarahan (mis, periksa semua sekret dari adanya darah nyata atau drah samar)
•    Identifikasi faktor pengaruh terhadap bertambah buruknya dehidrasi( mis, obat-obatan, demam, sters, dan progam pengobatan)
•    Pantau hasil laboratorium yang relevan dengan keseimbangan cairan (mis, kadar hematokrit, BUN, albumin, protein total, osmolalitas serum, dan berat jenis urin)
•    Kaji orientasi terhadap orang, tempat, waktu
•    Kaji adanya vertigo atau hipotensi postural
•    Cek arahan lanjut klien untuk menentukan apakah pengganti cairan pada pasien sakit terminal dapat dilakukan
•    Menejemen cairan atau NIC :
Pantau status hidrasi (mis, kelembapan membran mukosa, keadekuatan nadi, dan tekanan darah ostotatik).
Timbang berat badan setiap hari dan pantau kecenderungannya.
Pertahankan keakuratan catatan asupan dan haluaran.

1.    Penyuluhan pasien/keluarga (Walkinson, 2016, hal. 179)
•    Anjurkan pasien untuk menginformasikan perawat bila haus.
1.    Aktifitas kolaboratif (Walkinson, 2016, hal. 179)
•    Laporkan dan catat haluaran kurang dari ____mL
•    Laporkan dan catat haluaran lebih dari ___Ml
•    Laporkan abnormalitas elektrolit
•    Manajemem cairan (NIC) :
Atur ketersediaan produk darah untuk transfusi, bila perlu
Berikan ketentuan penggantian nasogastrik berdasarkan haluaran, sesuai kebutuhan
Berikan terapi IV, sesuai progam


DAFTAR PUSTAKA
Hawks, J. M. (2014). Keperawatan medikal bedah. Singapura: Pentasada Media Edukasi.
Kusuma, A. H. (2015). Nanda Nic-Noc. Jogjakarta: Mediaction.
PPNI, T. (2017). Standart Diagnosa Keperawatan. Jakarta Selatan: Dewan pengurus pusat.
Pranata, E. P. (2014). Asuhan Keperawatan Sistem Perkemihan. Yogyakarta: Nuha Medika.
Walkinson, J. M. (2016). Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC.



0 Response to "ASKEP TUMOR GINJAL "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel