ASKEP TUMOR GINJAL 2019




ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN TUMOR GINJAL




BAB I
PENDAHULUAN

1.    Latar Belakang
Tumor ginjal merupakan tumor urogenitali
anomertigater banyak setelah tumor prostat dan tumor kandung kemih. Klasifikasinya meliputi limfangioma, lipoma, fibroma medular, ademo, leiomyoma danonkositoma. Ketika tumor besar jinak terjadi secara keseluruhan tidak mungkin membedakan dengan tumor ganas melalui pemeriksaan rontgen, paling tidak 85% dari seluruh tumor ginjal adalah ganas, dan sekitar 12.890 orang meninggal karena kanker ginjal setiap tahunnya. Tumorpaling umum terjadi pada orang usia 50-70 tahun. Tumor ini lebih sering mengenai laki-laki pada perempuan sekitar 51.190 kasus kanker ginjal baru di perkirakan di diagnose di Amerika serikat pada tahun 2007. (Black & Hwaks, 2014, hal. 296)
Tumor ginjal inI berasal dari sel-sel yang melapisi tubulus renalis ginjal, bahanya tumor ginjal ini ditemukan pada saat mengalami metastasis dan sudah menyebar ke organ tubuh lainnya .Karena pada stadium dini jarang sekali menunjukkan gejalanya. Gejalanya baru mulai terasa pada stadium lanjut, yaitu terjadi hematuria. Penyakit ini salah satu penyakit yang ganas dan sering terjadi pada orang dewasa. (Nurarif & Kusuma, 2015, hal. 152)

1.    Batasan Masalah
Batasan masalah yang akan dibahas adalah mengenai  bagaimana asuhan keperawatan bagi penderita penyakit Tumor Ginjal sehingga dapat mengurangi keluhan yang dirasakan untuk proses penyembuhan yang meliputi definisi , etiologi,  serta tanda dan gejala pada tumor ginjal.
1.    Rumusan masalah
2.    Jelaskan definisi tumor ginjal !
3.    Jelaskan etiologi tumor ginjal !
4.    Jelaskan tanda dan gejala tumor ginjal !
5.    Jelaskan patofisiologi tumor ginjal !
6.    Jelaskan klasifikasi tumor ginjal !
7.    Jelaskan komplikasi yang terjadi pada tumor ginjal !

1.    Tujuan
•    Tujuan Umum
Mendapatkan gambaran tentang pemenuhan kebutuhan aktivitas pada pasien dengan penyakit Tumor Ginjal serta dalam pemberian asuhan keperawatan yang benar supaya penderita Tumor Ginjal tidak mengalami komplikasi yang semakin berat.
•    Tujuan Khusus
1.    Agar Mahasiswa dapat Mengetahui dan Memahami Bagaimana definisi dari Tumor Ginjal.
2.    Agar Mahasiswa dapat Mengetahui dan Memahami Apa saja etiologi dari Tumor Ginjal.
3.    Agar Mahasiswa dapat Mengetahui dan Memahami Bagaimana tanda dan gejala dari Tumor Ginjal
4.    Agar Mahasiswa dapat Mengetahui dan Memahami Bagaimana patofisiologi dari Tumor Ginjal
5.    Agar Mahasiswa dapat Mengetahui dan Memahami Apa saja klasifikasi dari Tumor Ginjal
6.    Agar Mahasiswa dapat Mengetahui dan Memahami Apa saja komplikasi dari Tumor Ginjal
7.    Agar Mahasiswa dapat Mengetahui dan Memahami Bagaimana asuhan keperawatan dari Tumor Ginjal














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


1.    Konsep Medis Tumor Ginjal
2.    Definisi
Tumor ginjal yaitu tumor ginjal padat jinak dan tumor ginjal ganas. Tumor ginjal padat ialah adenoma, onkositoma, leiomioma, lipoma, hemangioma, dan hemartoma. Sedangkan tumor ginjal ganas biasanya berupa tumor padat yang berasal dari urotelius, yaitu karsinoma sel transional atau yang berasal dari sel epitel ginjal. (Nurarif & Kusuma, 2015, p. 139)
Tumor ginjal adalah penyakit yang ganas dimana sel kanker terbentuk dalam tubulus pada ginjal. Ketika tumor besar jinak terjadi secara keseluruhan tidak mungkin membedakan dengan tumor ganas melalui pemeriksaan rontgen, paling tidak 85% dari seluruh tumor ginjal adalah ganas, dan sekitar 12.890 orang meninggal karena kanker ginjal setiap tahunnya. (Black & Hwaks, 2014, hal. 196)
Berdasarkan definisi diatas dapat diambil kesimpulan penyakit tumor ginjal adalah  penyakit yang ganas dimana sel kanker terbentuk dalam tubulus pada ginjal, dan biasanya berupa tumor padat yang berasal dari urotelius, yaitu karsinoma sel transional atau yang berasal dari sel epitel ginjal.

2.    Etiologi
Mengenai etiologinya hanya sedikit yang diketahui merokok mungkin mempunyai peran. Pada 40%  penderita telah ditemukan metastasis pada waktu tumor primer ditemukan. Lama hidup rata-rata penderita ini 6-12bulan,tanpa penangannan proses lokal ini meluas dengan bertumbuh terus kedalam jaringan sekelilingnya dan bermetastasis menyebabkan kematian. Progesititasnya berbeda beda karena itu periode sakit total bervariasi anatara beberapa bulan dan beberapa tahun. Gambaran histologiknya heterogen, di samping sel-sel(clear cell) dan eosinofil glandular(granular cell) terdapat lebih bannyak  sel polifrom,fusifrom dan sel-sel raksasa. Bagian karsinoma sering terdapat disamping bagian – bagian pseudosarkomatosa diselingi dengan nekrosis dan pendarahan.Penyebab pasti dari kanker ginjal belum diketahui secara pasti. Ada beberapa faktor resiko diketahui  mampu memicu kejadian kanker ginjal yaitu.
1.    Merokok
Perilaku merokok aktif/pasif meningkatkan resiko terkena kanker ginjal  (40%). Anak yang sering menjadi perokok pasif (status paparan) meningkatkan resiko terkena Tumor Wilms.
1.    Obesitas pada wanita
Mungkin juga obesitas pada wanita disebabkan karena pengaruh faktor endokrin, karena kondisi ini muncul pada saat-sat adanya perubahan hormonal tersebut.
1.    Hormonal
Peningkatan kadar diethylstibestrol(berdasarkan uji eksperimen pada hamster) mempengaruhi timbulnya adenoharsinoma pada ginjal. Dan biasanya kanker ginjal dimulai setelah usia 40 tahun dan akan memuncak pada usia antara 50 tahun sampai 60 tahun (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 76)

3.    Tanda Dan Gejala
Menurut (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 76-77) tanda gejala pada penderita kanker ginjal antara lain:
1.    Hematuria
Pemeriksaan mikroskopis untuk melihat komponen pada urine(urinalisis) sering didapatkan adanya gross hematuria pada kanker ginjal. Tanda ini tanda pertama yang memberikan sinyal pada dugaan adanya keganasan pada ginjal.
1.    Nyeri
Merupakan alarm(sinyal) alamiah bagi tubuh akan adanya gangguan fisiologis. Pada klien dengan kanker ginjal sering terjadi nyeri yang konstan pada abdomen terlebih ketika kanker mengalami pendarahan.
1.    Adanya massa
Pada palpasi akan teraba massa dengan jaringan yang halus,berkumpul,dan adanya nyeri tekan(karena ada kompresi pada jaringan abnormal)
1.    Demam
Biasanya terjadi karena adanya perdarahan, sehingga volume intravaskuler menurun atau karena adanya jaringan tumor yang nekrosis.
1.    Anoreksia
Anoreksia suatu masalah kesehatan jiwa yang mana pengidapnya terobsesi untuk memiliki tubuh kurus dan sangat takut jika terlihat gemuk.
1.    Penurunan berat badan drastis
2.    Edema lengan
3.    Nausea
4.    Vorniting
5.    Hipertensi
Jika terjadi tekanan pada arteri renalis dengan iskemia pada jaringan parenkim ginjal.
1.    Hiperkalsemia
Karena dorpongan sekresi hormon parathyroid oleh rangsangan tumor.
1.    Retensi urine

4.    Patofisiologi
Tumor  ginjal meskipun memiliki angka yang tidak signifikan dibandingkan kanker yang lain namun memiliki  tingkat prognosa yang buruk jika tidak tertangani dengan baik. Tumor ini berasal daeri tubulus proksimalis ginjal yang mula-mula berada di dalam kortex, dan kemudian menembus kapsul ginjal. Beberapa jenis tumor ini disertai dengan pseudokapsul yang terdiri atas perenkim ginjal yang tertekan oleh jaringan tumor dan jaringan fibrosa. Tidak jarang ditemukan kista-kista yang berasal dari tumor yang mengalami nekrosis dan diresorbsi. Fasia gerota merupakan barier yang menahan penyebaran tumor ke organ sekitarnya.Pada irisan tampak berwarna kuning sampai oranye sedangkan pada gambaran histopologik terdapat berbagai jenis clear cell, granular, sarkomatoid, papiler dan berbentuk campuran. (Prabowo & Pranata, 2014, p. 17)
Merokok, obesitas pada wanita, diet lemak tinggi dan kolesterol mengakibatkan toksik pada vaskular yang mengakibatkan elastisitas vaskuler turun yang menyebabkan hiposirkulasi. Hiperlipidemia pada wanita obesitas mengakibatkan kompresi vaskuler juga mengakibatkan laju sirkulasi menurun. Diet tinggi lemak dan kolesterol mengakibatkan pasien memiliki resiko atherosklerosis. Hiposirkulasi dan atherosklerosis menyebabkan hipoksia pada organ ginjal yang menyebabkan inflamasi sel sehingga sel akan mengalami metaplasia/hiperplasia sel yang berpotensi menjadi kanker ginjal. Ca ginjal mengakibatkan hipervaskularisasi sel ganas yang meningkatkan tekanan intravaskuler yang mengakibatkan urine yang keluar bercampur darah (hematuria) yang mengakibatakan nyeri akut (Nurarif & Kusuma, 2015, p. 135)
PATHWAY
Merokok

Obesitas pada wanita
Diet tinggilemak&hiperkolesterol
Elastisitas vaskuler  turun
Kompresivaskuler
Kadar dietlylsdlbestrol meningkat
Inflamasi sel
Lajusirkulasiturun
Hipoksia sel ginjal
Resiko atherosklerosis
Timbunan lemak  vaskuler meningkat
Hiposirkulasil
CA Ginjal
Proses desak ruang
Ruptur vaskuler
Tek. Intravaskuler meningkat
Hipervaskularisasi sel ganas
Metabolisme sel meningkat
Kuantitas sel meningkat
Stress penyakit
Mual, muntah, anoreksia
Kebutuhannutrisimeningkat
Cemas
Keseimbangan nutrisi terganggu
Iritabilitas meningkat
Hematuria
Obstruksi sal.kemih
Inflamasi meningkat
HCL meningkat
Metaplasma sel/hiperplasia
Hormonal
Hiperlipidemia
Toksikpdvaskuler
Nyeri Akut
Defisit Nutrisi
Urine flow turun
Lass of Blood
Intake turun
Hipovolemia
Retensi Urine






































Sumber : (Nurarif & Kusuma, 2015, p. 139)
5.    Klasifikasi
6.    Tumor jinak
7.    Hematoma
Mermatoma atau angiomiolipoma ginjal adalah tumor ginjal yang terdiri atas komponen lemak, pembuluh darah dan otot polos. Lesi ini bukan merupakan tumor sejati, tetapi paling cocok disebut sebagai hermatoma. Tumor jinak ini biasanya bulat atau lonjong dan menyebabkan terangkatnya simpai ginjal. Kadang tumor ini ditemukan pada lokasi ekstrarenal  karena pertumbuhan yang multisentrik.
1.    Fibroma renalis
Fibroma renalis merupakan benjolan massa yang kenyal keras, dengan diameter kurang dari 10mm yang terletak dalam medulla atau papilla. Tumor tersusun atas sel spindel dengan kecenderungan mengelilingki tubulus di dekatnya.
1.    Adenoma korteks benigna
Adenoma korteks benigno merupakan tumor berbentuk nodulus berwarna kuning kelabu dengan diameter biasanya kurang dari 20mm, yang terletak dalam korteks ginjal.
1.    Onkositoma
Onkositoma merupakan subtipe dari adenoma yang sitoplasma granulernya (tanda terhadap adanya mitokondria yang cukup besar dan mengalami distorsi) banyak ditemukan. Onkositoa kadang-kadang dapat begitu besar sehingga mudah dikacaukan dengan karsinoma sel renalis

2.    Tumor Ganas
1.    Tumor Ginjal yang ganas biasanya berupa tumor padat yang berasal dari urotelium, yaitu karsinoma sel trasisional atau berasal dari sel epitel ginjal atau adenokarsinoma, yaitu tumor grawitz atau dari sel nefrobals,yaitu tumor wilms. Kanker tipe ini berasal dari sel epitel tubular ginjal. Kanker  tipe ini merupakan sebuah adenokarsinoma(hipernefroma) dengan angka sebaran/ metastase 10% bilateral.
2.    Tumor Wilms (Nefroblastoma)
Kanker pada ginjal dan banyak terjadi pada anak-anak,(batita anak tiga tahun,dan balita bawah lima tahun). Tumor ini merupakan tumor ganas yang berasal dari embrional ginjal.
1.    Karsinoma sel trasisional
Kanker ini berasal dari epitel yang membatasi sistem pelvicalyces
1.    Infiltrasi keganasan sekunder
Tipe ini sebenarnya bukan kanker yang berasal utama dari ginjal, melainkan sekunder dari  keganasan pada sistem lain yang metastase ke ginjal. Kanker sekunder ini bisa bisa berasal dari limfoma atau leukemia (Nurarif & Kusuma, 2015, p. 115)
6.    Komplikasi
7.    Komplikasi biopsi ginjal antara lain hematoma hematuria makroskopik,fistula arteriovena,infeksi dan pembedah
8.    Perdarahan hematoma parirenal ditandai dengan penurunan Hb. Hematuria makroskopik dengan hematoma parirenal terjadi 2%, dan hanya 1% membutuhkan transfusi darah. Hematuria yang berat dapat menyebabkan kolik. Bila hematuria berlanjut perlu angiografi untuk tindak lanjut embolisasi
9.    Fistula arteriovena. Sering tidak ada keluhan dan ditemukan secara radiologi. Frekuensi sekitar 10% bila diperiksa secara arteriografi atau doppler berwarna. Kebanyakan kasus akan sembuh spontan. Fistula arteriovena yang menetap, dapat menyebabkan hematuria, hipertensi dan gangguan fungsi ginjal. Dalam situasi demikian embolisasi perlu dilakukan.
10.    Komplikasi lain,walaupun sangat jarang, biopsi ginjal dapat menyebabkan fistula peritoneal/kalises,hematotorak,perforasi kolon atau page kidney dimana terjadi tamponade ginjal.
11.    Kematian karena biopsi sangat jarang dan biasanya disebabkan perdarahan. (Black & Hwaks, 2014, hal. 299)

1.    KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
2.    Pengkajian
3.    Identitas
Tumor ginjal dapat terjadi pada pria maupun wanita. Biasanya tumor paling umum terjadi pada usia 50-70 tahun. Dan tumor ini lebih sering mengenai laki-laki daripada perempuan. (Black & Hwaks, 2014, hal. 296)
1.    Status kesehatan saat ini
•    Keluhan utama
Biasanya hanya benjolan di perut, perut membuncit, hermaturi karena  invasi tumor yang menembus sistem pelveokalises. Demam dapat terjadi sebagai reaksi anafilaksis tubuh terhadap protein tumor. Gejala lain yang bisa muncul adalah : (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 76-77)
1.    Malaise (merasa tidak enak badan)
2.    Anorexia
3.    Anemia
4.    Lethargi
5.    Hemihypertorfi
6.    Nafas pendek,dyspnea,batuk,nyeri dada (karena ada metastase)
•    Alasan masuk rumah sakit
Adanya keluhan berupa kencing berwarna merah, oedema sekitar daerah mata atau seluruh tubuh (anasarka), anoreksia, mual,muntah dan diare (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 77)
•    Riwayat penyakit sekarang
Pasien demam karena reaksi analaksis tubuh terhadap protein. Di perut terdapat benjolan, hermaturi karena  invasi tumor yang menembus sistem pelveokalises (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 76-77)





1.    Riwayat kesehatan terdahulu
1.    Riwayat penyakit sebelumnya
Pasien yang mempunyai penyakit tumor ginjal kebanyakan mempunyai beberapa keterkaitan dengan keluhan hipertensi dan obesitas. (Black & Hwaks, 2014, hal. 296)
2.    Riwayat penyakit keluarga
Biasanya pasien yang menderita penyakit tumor ginjal keluarganya mempunyai riwayat penyakit yang sama karena sebuah inaktivasi gen kritis pada lengan pendek kromosom 3 diduga terkait dengan perkembangan kanker. (Black & Hwaks, 2014, hal. 296)
3.    Riwayat pengobatan
Adanya riwayat pengobatan antibiotik, antihipertensi,serta penggunaan vitamin. (Black & Hwaks, 2014, hal. 297)
1.    Pemeriksaan fisik
•    Keadaan umum
1.    Kesadaran
Terjadi malaise,kelemahan otot dan kehilangan tonus akibat hiperklemia, adanya tekanan darah yang tinggi.Gangguan tidur karena adanya sesak nafas dan pruritus(gatal) karena uremia. (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 81)
1.    Tanda-tanda vital
Pemeriksaantanda vital yang terkait dengan tekanan darah, nadi, suhu, turgor kulit, dan frekuensi pernafasan
1.    Body sistem
1.    Sistem pernafasan
Pada pasien tumur ginjal biasanya ditemukan nafas pendek, dyspnea, nyeri dada diakibatkan karena adanya metastase (Nurarif & Kusuma, 2015, p. 136)
1.    Sistem kardiovaskuler
Pada pasien tumor ginjal sering ditemukan adanya tekanan darah tinggi karena perkembangan sel kanker (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 81).


1.    Sistem persyarafan
Pada fase yang berat pasien tumor ginjal ditemukan adanya neuropati perifer (Black & Hwaks, 2014, hal. 298)
1.    Sistem perkemihan
Gangguan pada eliminasi urine karena gangguan fungsi filtrasi dan reabsorsi, sehingga terjadi oliguria, proteinuria dan hematuria (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 80).
1.    Sistem pencernaan
Dari pemeriksaan palpasi pada abdomen secara bimanual (dalam) ditemukan massa (pembesaran ginjal), dan nyeri tekan pada ginjal (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 81)
1.    Sistem integumen
Terjadi edeme pada lengan (Prabowo & Pranata, 2014:77)
1.    Sistem muskuloskeletal
Pasien mengalami penurunan aktivitas . (Prabowo & Pranata, 2014:77)
1.    Sistem endokrin
Ditemukan adanya peningkatan kadar diethylstilbestrol yang mempengaruhi timbulnya adenokarsinoma pada ginjal (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 76)
1.    Sistem reproduksi
Gangguan pada testis untuk pria mengalami pembesaran pada skrotum  dan gangguan pada labia mayora pada perempuan mengalami nyeri tekan (Black & Hwaks, 2014, hal. 295)
1.    Sistem penginderaan
Pada sistem pengindraan tidak terjadi gangguan (Prabowo & Pranata, 2014, hal. 76)
1.    Sistem imun
Stimulun sistem imun telah membuahkan hasil positif selama tumor tidak terlalu besar (Black & Hwaks, 2014:298)

1.    Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang akan membantu menegakkan diagnosa medis kanker ginjal antara lain: (Nurarif & Kusuma, 2015, hal. 136)
1.    Ultrason abdominan : terdapat masa pada perut(retrperitoneal) sebelah atas.
2.    CT scan : dapat memberikan gamabaran pembesaran ginjal dan sekaligus menunjukan pembesaran kelenjar regional atau infiltrasi tumor ke jaringan sekitarnya.
3.    Foto toraks : karena tingginya insiden metastase tumor ke paru-paru,maka setiap pasien dengan Tumor Wilms harus di lakukan pemeriksaan foto toraks.
4.    Pemeriksaan darah dan urine : untuk menilai fungsi ginjal dan hati
5.    Biopsi : dilakukan untuk mengambil contoh jaringan dan pemeriksaan mikroskopik. Biospi tumor ini intuk mengevaluasi sel dan diagnosis.
6.    MRI Perut
7.    CBC,BUN,dan Kreatinin
8.    PIV dan nefroktom
9.    Urinalis : untuk mengetahui kandungan sedimentasi dan partikel pada urine(darah,gula,protein dan bakteri)
10.    Darah lengkap : pemeriksaan dasar untuk melakukan status hemodinamik dalam darah
11.    Angiography : menggunakan zat kontras akan menggambarkan secara jelas imaging dari kanker sampai pada vaskuler di ginjal.
12.    X-Ray Thoraks : pemeriksaan ini untuk mengetahui metastase tumor ke paru-paru.klien dengan tumor ginjal sangat rentan untuk ke paru karena sirkulasi yang bersifat sistemik.
13.    Penatalaksanaan
Penanganan pada beberapa jenis tumor ginjal antara lain :
(Nurarif & Kusuma, 2015, hal. 136-137)
•    Hermatoma ginjal
Tumor kecil dan tanoa menimbulkan keluhan tidak perlu diobati, hanya saja memerlukan evaluasi berkala yang teratur untuk mengetahui perkembangan besarnya massa tumor. Jika tumor menjadi semakin besar dan sangat  mengganggu perlu dieprtimbangkan untuk tindakan nefrektomi.


•    Adenokarsinoma Ginjal
1.    Nefrektomi : tumor yang masih dalam stadium dini dilakukan nefrektomi radikal yaitu mengangkat ginjal beserta kapsula gerota.
2.    Hormonal : penggunaa terapi hormonal belum banyak diketahui hasilnya.
3.    Imuno terapi : harganya sangat mahal dan hasil terapi dengan obat-obatan ini masih belum jelas.
4.    Radial eksterna : radiasi eksterna tidak banyak memberi manfaat pada adenokarsinoma ginjal karena tumor ini adalah tumor yang radioresisten.
•    Sitotastika : demikian pula pemakaian sitotastika tidak banyak memberikan manfaat pada tumor ginjal.
•    Nefroblastoma
1.    Sitotastika : pemberian ini diberikan sebelum pembedahan dan dilanjutkan beberapa seri setelah pembedahan dengan memberikan hasil yang cukup memuaskan.
2.    Radiasi eksterna : tumor wilms memeberikan respon yang cukup baik terhadap radio terapi.
3.    Nefrektomi radikal merupakan terpai terpilih apabila tumor belum melewati garis tengah dan belum menginflitrasi jaringan lain.
•    Tumor wilm dikenal sebagai tumor yang radiosensitif. Akan tetapi radio terapi dapat mengganggu pertumbuhan anak dan menimbulkan penyulit jantung, paru dan hati
•    Tumor pelvis renalis
Tumor ini kurang memberikan respon pada pemberian sitostatika maupun radiasi ekaterna. Terapi yang paling baik untuk tumor ini pada stadium awal.







2.    Diagnosa Keperawatan
Menurut (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017) diagnosa keperawatan yang muncul pada tumor ginjal antara lain :
Diagnosa I
1.    Nyeri akut
Definisi :Pengalaman sensori dan emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan.
1.    Penyebab:
•    Agen pencedera fisiologis (mis, inflamasi, iskemia, neoplasma.
•    Agen pencedera kimiawi (mis, terbakar, bahan kimia iritan).
•    Agen pencedera fisik (mis, abses, amputasi, terbakar, terpotong, mengangkat berat, prosedur operasi, trauma, latihan fisik berlebihan).
1.    Gejala dan Tanda mayor
Subjektif:
Mengeluh nyeri
Obyektif:
Tampak meringis, Bersikap protektif (mis, waspada, posisi menghindari posisi nyeri),Gelisah, Frekuensi nadi meningkat, Sulit tidur
1.    Gejala dan Tanda Minor
Subjektif : (tidak tersedia)
Objektif:  Tekanan darah meningkat, Pola napas berubah, Nafsu makan berubah, Proses berpikir terganggu, Menarik diri, Berfokus pada diri sendiri dan Diaforesis.
1.    Kondisi Klinis Terkait
•    Kondisi Pembedahan
•    Cedera traumatis
•    Infeksi
•    Sindrom koroner akut
•    Glaukoma (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017, hal. 172)
Diagnosa II
1.    Defisit Nutrisi
Definisi : Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme.
1.    Penyebab
•    Ketidakmampuan menelan makanan
•    Ketidakmampuan mencerna makanan
•    Ketidakmampuan mengabsorsi nutrien
•    Peningkatan kebutuhan metabolisme
•    Faktor ekonomi (mis, finansial tidak mencukup)
•    Faktor psikologis(mis, stres, keengganan untuk makan)
1.    Gejala dan Tanda mayor
Subjektif
(tidak tersedia)
Objektif
•    Berat badan menurun minimal 10% dibawah rentang ideal
Gejala dan Tanda minor
Subjektif
•    Cepat kenyang setelah makan
•    Kram/nyeri abdomen
•    Nafsu makan menurun
1.    Gejala dan Tanda Minor
Objektif
•    Bising usu hiperaktif
•    Otot pengunyah lemah
•    Otot menelan lemah
•    Membran mukosa pucat
•    Sariawan
•    Serum albumin turun
•    Rambut rontok berlebihan
•    Diare
1.    Kondisi Klinis terkait
•    Stroke
•    Parkinson
•    Mobius syndrome
•    Cerebral palsy
•    Cleft lip
•    Cleft palate
•    Amvotropic lateral sclerosis(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017, hal. 56)
Diagnosa III
1.    Hipovolemia
Definisi : Penurunan volume cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraselular.
1.    Penyebab
o    Kehilangan cairan aktif
o    Kegagalan mekanisme regulasi
o    Peningkatan permeabilitas kapiler
o    Kekurangan intake cairan
o    Evaporasi
2.    Gejala dan Tanda Mayor
Subjektif
(tidak tersedia)
Objektif
•    Frekuensi nadi meningkat
•    Nadi teraba lemah
•    Tekanan darah meningkat
•    Tekanan nadi menyempit
•    Turgor kulit menurun
•    Membran mukosa kering
•    Volume urin menurun
•    Hematokrit meningkat
1.    Gejala dan Tanda Minor
Subjektif
•    Merasa lemah
•    Mengeluh haus
Objektif
•    Pengisian vena menurun
•    Status mental berubah
•    Suhu tubuh meningkat
•    Konsentrasi urin meningkat
•    Berat badan turun tiba-tiba
1.    Kondisi Klinis terkait
•    Penyakit Addison
•    Trauma / pendarahan
•    Luka bakar
•    AIDS
•    Penyakit Crohn
•    Muntah
•    Diare
•    Kolitis ulseratif
•    Hipoalbuminemia(Tim Pokja SDKI PPNI, 2017, hal. 64)
Diagnosa IV
1.    Retensi urine
Definisi : Pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap.
1.    Penyebab
•    Penekanan tekanan uretra
•    Kerusakan arkus refleks
•    Blok spingter
•    Disfungsi neurologis (mis, trauma, penyakit saraf)
•    Efek agen farmakologis (mis, atropine, belladonna, psikotropik, antihistamin, opiate)
1.    Gejala dan Tanda Mayor
Subjektif
•    Sensasi penuh pada kandung kemih
Objektif
•    Disuria/anuria
•    Distensi kandung kemih
1.    Gejala dan Tanda Minor
Subjektif
•    Dribbling
Objektif
1) kontinensia berlebih
2) Residu urin 150 ml atau lebih
1.    Kondisi Klinis terkait
1) Benigna prostat hiperplasia
2) Pembengkakan perineal
3) Cedera medula spinalis
4) Rektokel
5) Tumor di saluran kemih (Tim Pokja SDKI PPNI, 2017, hal. 64)

1.    Intervensi
1.    Nyeri akut (Wilkinson & Ahern, 2016, p. 296)
1.    Tujuan : memperlihatkan pengendalian nyeri, yang dibuktikan oleh indicator sebagai berikut (sebutkan 1-5 : tidak pernah, jarang, kadang-kadang, sering, atau selalu):
    Mengenali awitan nyeri
    Menggunakan tindakan pencegahan
    Melaporkan nyeri yang dapat dikendalikan
2.    Kriteria Hasil :
2.    Mampu mengenali serangan nyeri.
3.    Mampu mendeskripsikan penyebab nyeri.
4.    Menggunakan teknik pencegahan nyeri, khususnya teknik non farmakologis.
5.    Melaporkan perubahan gejala nyeri secara periodic kepada tenaga kesehatan.
6.    Menunjukkan gejala terhadap nyeri (keluhan, menangis, gerakan lokalisir,ekspresi wajah, gangguan istirahat tidur, agitasi, iritabilitas meningkat, diaphoresis, penurunan konsentrasi, kehilangan nafsu makan, dan nausea).
7.    Tanda-tanda vital dalam rentang normal (respiratory rate, apical heart rate, radial heart rate, tekanan darah).
8.    Menunjukkan perubahan dampak dari nyeri (disruptive effects), antara lain penurunan konsentrasi, penurunan motivasi, gangguan tidur, kerusakan mobilitas fisik, gangguan pemenuhan ADL, dan kerusakan eliminasi urine dan alvi.
1.    Nursing Interventions Classification (NIC) :
Aktifitas Keperawatan :
1.    Kaji nyeri (lokasi, karakteristik, onset/durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan faktor presipitasi dari nyeri).
2.    Kaji pengetahuan klien tentang nyeri serta pengalaman sebelumnya.
3.    Kaji dampak dari nyeri (gangguan tidur, penurunan nafsu makan, gangguan aktifitas, penurunan konsentrasi).
4.    Beri lingkungan yang nyaman kepada klien.
5.    Ajari klien pola manajemen nyeri.
6.    Ajari klien penggunaan teknik non farmakologis untuk mengurangi nyeri.
7.    Lakukan teknik PCA (Patient Controlled Analgesia) sesuai kebutuhan.
8.    Anjurkan klien untuk istirahat yang cukup untuk mengurangi intensitas nyeri.
9.    Monitoring kepuasan pasien atas pelaksanaan manajemen nyeri.
Penyuluhan pasien/keluarga
1.    Sertakan dalam instruksi pemulangan pasien obatt khusus yang harus di minum, frequensi pemberian, kemungkinan efek samping, kemungkinan interaksi obat, kewaspadaan khusus saat mengonsumsi obat tersebut (misalnya pembatasan aktivitas fisik, pembatasan diet) dan nama orang yang harus dihubungi bila mengalami nyeri membandel.
2.    Instruksikan pasien untuk menginformasikan kepada perawat jika peredaan nyeri tidak dapat dicapai.
3.    Informasikan kepada asien tentang prosedur yang dapat meningkatkan nyeri dn tawarkan strategi koping yang disarankan.
4.    Perbaiki kesalahan persepsi tentang analgesic narkotik atau opioid (misalnya, risiko ketergantungan atau overdosis)
5.    Managemen Nyeri (NIC) : berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama akan berlangsung, dan antisipasi ketidaknyamanan akibat prosedur.
6.    Managemen Nyeri (NIC) : ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologis (misalnya, umpan-balik biologis, transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS), hypnosis, relaksasi, imajinasi terbimbing, terapi musik, distraksi, terapi bermain, terapi aktivitas, akupresur, kompres hangat atau dingin, dan masase) sebelum, setelah, dan jika memungkinkan, selama aktivitas yang menimbulkan nyeri, sebelum nyeri terjadi atau meningkat dan bersama penggunaan tindakan peredaran nyeri yang lain.
Aktifitas kolaboratif
1.    Gunakan tindakan pengendalian nyeri sebelum nyeri menjadi lebih berat laporkan kepada dokter jika tindakan tidak berhasil atau jika keluhan saat ini merupakan perubahan yang bermakna dari pengalaman nyeri pasien di masa lalu.

2.    Ketidakseimbangannutrisi : kurangdarikebutuhantubuh
3.    Tujuan : pasien akan mempertahankan kebutuhan nutrisi yang adekuat
4.    Kriteria hasil:
5.    Membuat pilihan diet untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dalam situasi individu
6.    Menunjukkan peningkatan BB

3.    Intervensi (NIC)
Aktivitas keperawatan
1.    Teneukan motivasi pasien untuk mengubah kebiasaan makan.
2.    Pantau nilai laboratorium, khusunya transferin, albumin, dan elektrolit.
3.    Menejemen nutrisi (NIC) :
•    Ketahui makanan kesukaan pasien
•    Tentukan kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.
•    Pantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan asupan.
•    Timbang pasien pada interval yang tepat.
Penyuluhan untuk pasien/keluarga
1.    Ajrakan metode untuk perencanaan makan.
2.    Ajarkan pesien atau keluarga tentang makanan yang bergizi dan tidak mahal.
3.    Menejeman nutri (NIC) : beriakn informasi yang tepat tentang keseimbangan nutrisi dan bagaimana memenuhinya.
Aktivitas kolaboratif
1.    Diskusikan dengan ahli gizi dalam menentukan kebutuhan protein pasien yang menglami ketidakadekuatan asupan protein atau kehilangan protein (misal, pasien anoreksia nervosa atau pasien penyakit glomerular/dialisis peritoneal)
2.    Diskusikan dengan dokter kebutuhan stimulasi nafsu makan, makanan pelengkap, pemberian makanan melaui selang, atau nutrisi perenteral total agar asupan kalori yang adekuat dapat dipertahankan.
3.    Rujuk ke dokter untuk menentukan penyebab gangguan nutrisi.
4.    Rujuk ke program gizi di komunitas yang tepat, jika pasie tidak dapat membeli atau menyiapkan mkanan yang adekuat.
5.    Manajemen nutrisi (NIC): tentukan dengan melakukan kolaborasi bersama ahli gizi, jika diperlukan, jumlah kalori dan jenis zat gizi yang dibutuhkan unntuk memenuhi kebutuhan nutrisi (khususnya untuk pasien dengan kebutuhan energi tinggi, seperti pasien pasca bedah dan luka bakar trauma demam, dan luka)

3.    Resikoketidakkeseimbangan volume cairan
4.    Tujuan : pasien tidak akan mengalami ketidak seimbangan elektrolityang dibuktikan oleh penyembuhan luka bakar, keseimbangan cairan, fungsi gastrointestinal, hidrasi, dan keparahan mual serta muntah dalam rentang yang diterima.
5.    Kriteria Hasil :
1.    Pasien akan menujukkan keseimbangan elektrolit & asam basa yang di buktikan oleh indikator
2.    Pasien akan menunjukkan keseimbangan elektrolit & asam basa yang dibuktikan oleh indikator berikut seperti kogn
6.    Nursing Interventions Classification (NIC)
1.    Manajemen Diare : menangani dan mengurangi diare
2.    Manajemen Cairan / Elektrolit : mengatur dan mencegah komplikasi dari perubahan kadar cairan dan / elektrolit
3.    Terapi Hemodialisis : menangani pengeluaran ekstrakorporeal darah pasien melalui dialyzer
4.    Manajemen Medikasi : memfasilitasi penggunaan obat resep dan obat non resep secara aman dan efektif
5.    Terapi Dialisis Peritonial : memberikan dan memantau larutan dialisis ke dalam dan keluar rongga peritoneal
Aktifitas keperawatan
Pada umumnya, aktifitas keperawatan untuk diagnosis ini berfokus pada mengidentifikasi faktor yang menempatkan pasien pada resiko ketidakseimbangan elektrolit, memantau tanda dan gejala, dan menangani ketidakseimbangan khusus( biasanya secara kolaboratif). Asuhan keperawatan bergantung pada etiologi ketidakseimbangan elektrolit(luka bakar, diare, dialisis)


DAFTAR PUSTAKA

Black, J. M., & Hwaks, J. H. (2014). Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Salemba Medika.
Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Yogyakarta: Media Action.
Prabowo, E., & Pranata, A. E. (2014). Asuhan Keperawatan Sistem Perkemihan. Yogyakarta: Nuha Medika.
Tim Pokja SDKI PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.
Wilkinson, J. M., & Ahern, N. R. (2016). Diagnose Keperawatan. Jakarta: EGC.

0 Response to "ASKEP TUMOR GINJAL 2019"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel