Askep Efusi Pleura


ASUHAN KEPERWATAN KLIEN DENGAN EFFUSI PLEURA
BAB 1
PENDAHULUAN


1.    Latar Belakang

Efusi pleura merupakan salah satu kelainan yang mengganggu sistem pernafasan. Efusi pleura
bukanlah diagnosis dari suatu penyakit, melainkan hanya merupakan gejala atau komplikasi dari suatu penyakit. Efusi pleura juga suatu keadaan dimana terdapat cairan berlebihan dirongga pleura, jika kondisi ini dibiarkan akan membahayakan jiwa penderitanya. (Muttaqin, 2008, hal. 126)
Cairan dalam keadaan normal dalam rongga pleura bergerak dari kepiler didalam pleura parietalis keruang pleura dan kemudian diserap kembali melalui pleura viceralis. Selisih perbedaan absorbsi cairan pleura melalui pleura viceralis lebih besar dari pada selisih perbedaan pembentukan cairan oleh pleura parietalis dan permukaan pleura viceralis lebih besar dari pada pleura parietalis sehingga pada ruang pleura dalam keadaan normal hanya terdapat beberapa mililiter (ml) cairan. Pada dasarnya effusi pleura itu merupakan komplikasi dari penyakit gagal jantung kongesif, pneumonia, tuberculosis, emboli paru. (Morton, 2012, hal. 727)
Di negara-negara barat, efusi pleura terutama disebabkan oleh gagal jantung kongestif, sirosis hati, keganasan, dan pneumonia bakteri, sementara di negara-negara yang sedang berkembang, seperti indonesia, lazim diakibatkan oleh infeksi tuberkulosis. Efusi pleura keganasan merupakan salah satu komplikasi ang bisa ditemukan pada penderita keganasan dan terutama disebabkan oleh kanker paru dankanker payudara. Efusi pleura merupakan manifestasi klinik yang dapat dijumpai pada kisaran 50-60% penderita keganasan pleura primer atau metastatik. Sementara 5% penderita kasus mesotelioma (keganasan pleura primer) dapat disertai efusi pleura dan sekitar 50% penderita kanker payudara akhirnya akan mengalami efusi pleura. (Pratama, 2010, hal. 125)
Di indonesia trauma dada juga bisa menjadi penyebab efusi pleura mortalitas dan morbiditas efusi pleura ditentukan berdasarkan penyebab, tingkat keparahan dan jenis biochemical dalam cairan pleura. Hal ini akan sejalan bila masyarakat indonesia terbebas dari masalah dengan gangguan system pernapasan yang salah satunya adalah efusi pleura sekitar 10-15 juta dengan 100-250 ribu kematian tiap tahunnya. Efusi pleura suatu kesatuan penyakit (disease entry) dan merupakan suatu gejala penyakit yang serius yang dapat mengancam jiwa penderita. Tingkat kegawatan pada efusi pleura ditentukan oleh jumlah cairan, kecepatan pembentukan cairan dan tingkat penekanan paru. (Pratama, 2010, hal. 125)

1.    Batasan Masalah
Pada pembahasan ini hanya membatasi konsep teori Effusi Pleura dan kosep asuhan keperawatan pada klien effusi pleura

1.    Rumusan Masalah
2.    Menjelaskan konsep medis efusi pleura ?
3.    Menjelaskan konsep asuhan keperawatan efusi pleura ?

1.    Tujuan
2.    Tujuan Umum
Mahasiswa dapat meningkatkan pengetahuan tentang asuhan keperawatan tentang effusi pleura
2.    Tujuan Khusus
3.    Mahasiswa dapat mengetahui konsep medis effusi pleura
4.    Mahasiswa dapat mengetahui konsep asuhan keperawatan effusi pleura













BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
1.    KONSEP PENYAKIT
2.    Definisi
Effusi pelura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan dalam pleura berupa transudat atau eksudat yang diakibatkan terjadinya ketidakseimbangan antara produksi dan absorpsi di kapiler dan pleura viseralis. (Muttaqin, 2008, hal. 126-135)
Efusi pleura merupakan gangguan pada sistem pernapasan. Efusi pleura bukan termasuk penyakit, tetapi hanya gejala-gejala yang yang timbul karena suatu komplikasi dari penyakit. Jika kondisi ini dibiarkan akan membahayakan jiwa penderitanya. (Muttaqin, 2008, hal. 126-135)
Efusi pleura adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak diantara permukaan visceral dan parietal, proses penyakit primer jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penakit lain. secara normal, ruang pleura mengandung sejumlah kecil cairan (5-15 ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleura bergerak tanpa adanya friksi.
2.    Etiologi
Kelainan pada pleura hampir selalu merupakan kelainan sekunder. kelainan primer pada pleura hanya ada dua macam yaitu :
1.    Infeksi kuman primer intrapleura
2.    Tumor primer pleura
Timbulnya efusi pleura dapat disebabkan oleh kondisi-kondisi:
1.    Hambatan reabsobsi cairan dari rongga pleura, karena adanya bendungan seperti pada dekompensasi kordis, penyakit ginjal, tumor mediatinum, sindroma meig (tumor ovarium) dan sindroma vena cava superior
2.    Peningkatan produksi cairan berlebih, karena radang (tuberculosis, pneumonia, virus), bronkiektasis, abses amuba subfrenik yang menembus ke rongga pleura, karena tumor dimana masuk cairan berdarah dan karena trauma. di indonesia 80% karena tuberculosis.

Secara patologis efusi pleura disebabkan oleh keadaan-keadaan:
1.    Meningkatnya tekanan hidrostatik (misalnya akibat gagal jantung)
2.    Menurunnya tekanan osmotic koloid plasma (misalnya hipoproteinemia)
3.    Meningkatnya permeabilitas kapiler ( misalnya infeksi bakteri)
4.    Berkurangnya absorbsi limfatik
Effusi Pleura disebabkan oleh :
1.    Peningkatan tekanan pada kapiler subpleura atau limfatik
2.    Peningkatan permeabilitas kapiler
3.    Penurunan tekanan osmotic kolid darah
4.    Peningkatan tekanan negatif intrapleura
Ada juga yang disebabkan oleh infeksi (eksudat) :
1.    Tubercolosis
2.    Pneumonia
3.    Emboli paru
4.    Kanker
5.    Infeksi virus, jamur, dan parasit
Ada juga yang disebabkan oleh non-infeksi (transudat) :
1.    Gagal jantung kongesif (90% kasus)
2.    Sindrom nefrotik
3.    Gagal hati
4.    Gagal ginjal
5.    Emboli paru(Morton, 2012, hal. 727)

3.    Tanda dan Gejala
Gejala-gejala umum dari effusi pleura :
1.    Batuk kering
2.    Demam
3.    Kesulitan bernapas saat berbaring
4.    Nyeri dada
5.    Sesak napas
Gejala klinik effusi pleura tergantung dari cairan yang ada serta tingkat kompresi paruh. Jika jumlah effusi sedikit, mungkin belum menimbulkan manifestasi klinik dan hanya dapat dideteksi dengan menggunakan X-ray (photo thorax), dengan membesarnya effusi akan terjadi restriksi eksvansi paru dan pasien mengkin mengalami anatar lain :
1.    Bispneu bervariasi
2.    Ruang interkostalis (effusi berat). (Scott & Jeffrey, 2012, hal. 137)

4.    Patofisiologi
Dalam keadaan normal tidak ada rongga kosong antara pleura pareitalis dan pleura viceralis, karena diantara pleura tersebut terdapat caira antara 1-20 cc yang merupakan lapisan tipis serosa dan selalu bergerak teratur. Diketahui bahwa cairan diproduksi oleh pleura parietalis dan selanjutnya diabsorbsi tersebut dapat terjadi karena adanya tekanan hidrostatik pada pleura parietalis dan tekanan osmotic koloid pada pleura viceralis. Hal yang memudahkan penyerapan cairan yang pada pleura viceralis adalah terdapatnya banyak mikrovili disekitar sel-sel mesofelial. Jumlah cairan dalam rongga pleura tetap. Karena adanya keseimbangan antara produksi dan absorbsi. Keadaan ini bisa terjadi karena adanya tekanan hidrostatik dan tekanan osmotic koloid. Keseimbangan tersebut dapat terganggu oleh beberapa hal, salah satunya adalah infeksi tuberkolosa paru.
Terjadi infeksi tuberkolosa paru, yang pertama basil mikrobakterium tuberkolosa masuk melalui salura napas menuju alveoli, terjadilah infeksi primer. Infeksi primer ini akan menimbulkan suatu peradangan saluran getah bening menuju hilus (Limfangitis local) serta terjadi juga pembesaran kelenjar getah bening hilus (Limphadinitis regional). Peradangan pada saluran getah bening akan memperngaruhi permeabilitas membran. Permeabilitas membran akan meningkat yang akhirnya dapat menimbulkan akumulasi cairan dalam rongga pleura. Kebanyyakan terjadinya effusi pleura akibat tuberkolosa paru melalui focus subpleura yang robek atau melalui aliran getah being. Sebab lain dapat juga dari robeknya saluran getah being yang menuju rongga pleura, iga atau columna vetebralis.
Adapun bentuk cairan effusi akibat tuberkolusa paru yang biasanya disebut cairan effusi pleura eksudat, yang terdapat pada cairan effusi pleura eksudat adalah protein. Cairan ini biasanya serous, kadang-kadang bisa juga hemoragik.Didalam cairan tersebut mengandung 500-2000 ml leukosit. Mula-mula yang dominan adalah sel-sel polimorfonuklear, tapi kemudian sel limfosit, cairan effusi sangat sedikit mengandung kuman tuberkolusa. Timbulnya cairan effusi bukanlah karena adanya bakteri tuberkolosis, tapi karena akibat adanya effusi pleura dapat menimbulkan beberapa perubahan fisik antara lain: Irama pernapasan tidak teratur, frekuensi pernapasan meningkat, pergerakan dada esimetris, dada yang lebih cembung, fremitus raba melemah, perkusi redup. Selain hal-hal diatas ada perubahan lain yang ditimbulkan oleh effusi pleura ang diakibatkan infeksi tuberkolosa paru yaitu peningkatan suhu, batuk dan berat badan menurun. (Muttaqin, 2008, hal. 126-135)


























Pathway

Permiabilitas vasculer
Peradangan permukaan pleura
Tekanan hidrostatik
Penghambatan Drainase Limfatik
Transudasi cairan intravaskuler
Tekanan Osmotik koloid plasma
EFFUSI PLEURA
Ekspansi paru menurun
Penumpukan cairan dalam rongga pleura
Pola napas tidak efektif
Sesak napas
Gangguan pola tidur
Infeksi
Gangguan pemenuhan kebutuhn nutrisi
Nyeri dada
Transudasi
Nafsu makan menurun
Tekanan kapiler paru meningkat
Cavum pleura
Edema













































5.    Klasifikasi
Effusi pleura dibagi menjadi 2 yaitu :
1.    Effusi pleura transudat
merupakan ultrafiltrasi plasma, yang bisa membuktikan bahwa pleura ini tidak terkena penyakit. Akumulasi cairan disebabkan oleh faktor sistemik ang mempengaruhi produksi dan absorbsi cairan pleura.
1.    Effusi Pleura eksudat
effusi pleura ini terjadi akibat kebocoran cairan melewati pembuluh kapiler yang rusal dan masuk kedalam paru terdekat. (Morton, 2012, hal. 727)

6.    Komplikasi
7.    Fibrotoraks
Effusi pleura ang berupa eksudat ang tidak ditangani dengan drainase yang baik akan terjadi pelekatan fibrosa antara pleura parietalis dan pleura viceralis. Keadaan ini disebut dengan fibrotoraks. Jika fibrotoraks meluas dapat menimbulkan hambatan mekanis ang berat pad ajaringan-jaringan ang berada dibawahnya. Pembedahan pengupasan (dekortikasi) perlu dilakukan untuk memisahkan membran-mebran pleura tersebut.
1.    Atelektasis
Atelektasi adalah pengembangan paru yang tidak sempurna yang disebabkan oleh penekanan akibat effusi pleura.
1.    Fibrosis paru
Fibrosis paru adalah suatu keadaan dimana jumlah jaringan ikat paru melebihi batas normal atau berlebih. Fibrosis paru ini timbul karena perbaikan jaringan paru yang menimbulkan peradangan. Pada effusi pleura, atelektasis yang berkepanjangan dapat menyebabkan penggantian jaringan paru yang terserang dengan jaringan fibrosis.
1.    Kolaps paru
pada effusi pleura, atelektasis tekanan yang diakibatkan oleh tekanan ekstrinsik pada sebagian atau semua bagian paru akan mendorong udara keluar dan mengakibatkan kolaps paru.
1.    Empiema
Kumpulan nanah dalam rongga antara paru-paru dan membran ang mengelilinginya (rongga pleura). Empiema disebebkan oleh infeksi yang menebar dari paru-paru dan menyebabkan akumulasi nanah dalam rongga pleura. Cairan yang sudah terinfeksi dapat mencapai 500 ml atau lebih, yang menimbulkan tekanan pada paru-paru dan akhirnya menilbukan rasa sesak napas serta rasa nyeri pada dada. (Scott & Jeffrey, 2012, hal. 137)

1.    KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
2.    Pengkajian
3.    Identitas
Pada tahap ini perawat perlu mengetahui tentang nama, umur, jenis kelamin, alamt rumah, agama atau kepercayaan, suku bangsa, bahasa yang dipakai, status pendidikan dan pekerjaan pasien. (Muttaqin, 2008, hal. 126-135)
1.    Status kesehatan saat ini
•    Keluhan utama
Keluhan utama merupakan faktor utama yang mendorong pasien mencari pertolongan atau berobat kerumah sakit. Biasanya pada pasien dengan effusi pleura didapatkan keluhan berupa sesak napas, rasa berat pada dada, nyeri pleuritik akibat iritasi pleura yang bersifat tajam dan terlokaslisir terutama pada saat batuk dan bernapas. (Muttaqin, 2008, hal. 126-135)
•    Alasan masuk rumah sakit
Pada klien terjadi tanda dan gejala gejala seperti Nyeri dada, sulit bernafas, sesak nafas, batuk kering bahkan demam. (Muttaqin, 2008, hal. 126-135)
•    Riwayat penyakit sekarang
Klien atau pasien dengan efusi pleura biasanya akan mengeluhkan  batuk, sesak nafas, nyeri pleuritis, rasa berat pada dada, dan berat badan menurun. (Muttaqin, 2008, hal. 126-135)
1.    Riwayat kesehatan terdahulu
•    Riwayat penyakit sebelumnya
Klien pernah menderita penyakit seperti TB paru, pneumonia, gagal jantung, trauma, asites, dan sebagainya. Hal ini perlu diketahui untuk melihat ada tindakan kemungkinan faktor predisposisi. (Muttaqin, 2008, hal. 126-135)
•    Riwayat penyakit keluarga
Sangat penting juga menanyakan pada anggota keluarga apakah ada yang menderita penyakit-penyakit yang mengakibatkan effusi pleura seperti kanker paru, asma, TB paru, dan lain sebagainya. (Muttaqin, 2008, hal. 126-135)
1.    Pemeriksaan fisik
•    Keadaan umum
1.    Kesadaran
Kesadaran compos mentis
1.    Tanda tanda vital
Suhu : 37˚C
RR : 26x/menit
Nadi : 96x/menit
TD : 140/90 mmHg
(Nugroho, 2011, hal. 175)
•    Body system
1.    Sistem pernafasan
Inspeksi           : pada efusi pleura massif terdapat perubahan kesimetrisan rongga dada, klien sesak napas, menggunakan oto bantu napas, keringat dingin, klien nampak kelelahan, napas cepat dan dangkal.
palpasi             : aktil premitus menurun atau hilang pada daerah yang sakit, ICS melebar pada sisi yang sakit.
perkusi             : bunyi redup atau peka pada sisi yang sakit.
auskultasi        : bunyi napas hilang atau melemah pada sisi yang sakit, biasnya didapatkan suara ronkhi atau wheezing. (Muttaqin, 2008, hal. 130)
1.    Sistem kardiovaskuler
Nyeri dada didapatkan bila proses peradangan melibatkan pleura. Capilliary refill dibawah 1 detik, sering didapatkan keringat dingin dan pusing. (Muttaqin, 2008, hal. 130)
1.    Sistem persarafan
Kesadaran biasanya compos mentis, pada kasus lebih parah klien bisa mengeluh pusing dan gelisah.
Kepala dan wajah       : dilihat adanya sianosis
Mata                            : sklera biasanya tidak ikterik, konjungtiva didapatkan anemis pada kasus efusi pleura haemorragis kronis
Leher                           : biasanya JVP (Jugular Venous Pressure) dalam batas normal (Muttaqin, 2008, hal. 130)
1.    Sistem perkemihan
Jumlah urine yang dikeluarkan biasanya dalam batas normal dan tidak ada keluhan lain atau tambahan pada sistem perkemihan (Muttaqin, 2008, hal. 130)
1.    Sistem pencernaan
Pada pasien efusi pleura biasanya mengeluhkan mual, nyeri lambung yang bisa menyebabkan nafsu makan pasien berkurang atau menurun. Peristaltik menurun menyebabkan klien mengelami konstipasi atau jarang BAB. (Muttaqin, 2008, hal. 130)
1.    Sistem integumen
Karena pengguanaan otot bantu naps yang lama, klien terlihat kelelahan. Sering didapatkan intoleransi aktifitas dan pemenuhan ADL (Activities of Daily Living). (Nugroho, 2011, hal. 175)
1.    Sistem muskuloskeletal
Adanya edema peritibial, feel pada kedua ekstermitas dan kekuatan otot antara bagian kiri dan kanan (Muttaqin, 2008, hal. 130)
1.    Sistem endokrin
Tidak terdapat gangguan pada sistem endokrin (Muttaqin, 2008, hal. 130)
1.    Sistem reproduksi
Tidak ditemukan adanya gangguan pada sistem genetalia (Muttaqin, 2008, hal. 130)
1.    Sistem penginderaan
Tidak ditemukan kerusakan pada penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan. (Muttaqin, 2008, hal. 130)
1.    Sistem imun
Terjadinya peningkatan tekanan pada kapiler subpleura atau limfatik. (Muttaqin, 2008, hal. 130)
1.    Pemeriksaan penunjang
2.    Foto thorax
suatu permukaan cairan yang terdapat didalam rongga pleura akan membentuk suatu bayangan seperti kurva, dengan permukaan daerah lateral lebih tinggi daripada bagian medial. Bila permukaannya horisontal dari lateral ke medial, pasti terdapat udara dalam rongga tersebut yang dapat berasal dari luar atau dari paru-paru sendiri. Biasanya juga terjadi kesulit dalam membedakan antara bayangan cairan bebas dalam pleura dengan adhesi karena radang (pleuritis). Disini juga memerlukan pemeriksaan foto dada dengan posisi lateral dekubitus.
2.    CT-Scan
Biasanya pada kasus kanker paru CT-Scan berguna sekali untuk mendeteksi adanya tumor juga sekaligus menentukan staging klinik yang meliputi, sebagai berikut :
1.    Mendeteksi adanya tumor dan seberapa besar tumor
2.    Mendeteksi adakah invasi tumor kedinding thorax, bronkus, mediatinum dan pembuluh darah besar (arteri)
3.    Mendeteksi adanya efusi pleura
Disamping diagnosa tumor dan kanker paru CT-Scan juga dapat berguna untuk menentukan tindakan TTNA (Trans Thoracal Needle Aspiration), evaluasi pengobatan, mendeteksi kekambuhan dan CT planing radiasi. (Scott & Jeffrey, 2012, hal. 137)

1.    Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyebab dasar, untuk mencegah penumpukan kembali cairan, dan untuk menghilangkan ketidaknyamanan serta dispnea. Pengobatan spesifik ditujukan pada penyebab dasar (misal gagal jantung kongestif, pneumonia, serosis).
Torakosintesis dilakukan untuk membuang cairan, untuk mendapatkan specimen guna keperluan analisis, dan untuk menghilangkan dispnea. Namun bila penyebab dasar adalah malignansi, efusi dapat terjadi kembali dalam beberapa hari atau minggu. Toraksintesis berulang menyebabkan nyeri, penipisan protein dan elektrolit, dan kadang pneumothorax. Dalam keadaan ini pasien mungkin diatasi dengan pemasangan selang dada dengan drainase ang dihubungkan kesistem drainase water seal atau pengisapan untuk mengevaluasi ruang pleura dan pengembangan paru.
Tindakan yang dilakukan pada efusi pleura bertujuan untuk pengobatan penyakit dasar dan pengosongan cairan ( thorakosentesis ). Indikasi untuk melakukan thorakosentesis adalah :
1.    Mengurangi atau menghilangkan sesak nafas yang disebabkan oleh akumulasi cairan dalam rongga pleura.
2.    Jika terapi spesifik pada penyakit primer tidak efektif atau gagal.
3.    Jika terjadi reakumulasi cairan.
Pengambilan pertama cairan pleura, tidak boleh lebih dari 1000 cc, karena pengambilan cairan pleura dalam waktu singkat dan dalam jumlah yang banyak dpat menimbulkan edema paru yang ditandai denagn batuk dan sesak.
Kerugian thorakosentesis adalah :
1.    Dapat menimbulkan kehilangan protein yang berada dalam cairan pleura.
2.    Dapat menimbulkan infeksi di rongga pleura
3.    Dapat terjadi pneumothoraks.
4.    Diagnosa keperawatan
Menurut (SDKI, DPP PPNI, 2016) diagnosa keperawatan efusi pleura yang muncul antara lain :
1.    Bersihan jalan napas tidak efektif
Definisi : ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten.
Penyebab :
Fisiologis
•    Spasme jalan napas
•    Hipersekresi jalan napas
•    Disfungsi neuromuskuler
•    Benda asing dalam jalan napas
•    Adanya jalan napas buatan
•    Sekresi yang tertahan
•    Hiperplasia dinding jalan napas
•    Proses infeksi
•    Respon alergi
•    Efek agen farmakologis
Situasional
•    Merokok aktif
•    Merokok Pasif
•    Terpajan polutan
Gejala dan tanda mayor
Subjektif
(Tidak tersedia)
Objektif
•    Batuk tidk efektif
•    Tidak mampu batuk
•    Sputum berlebih
•    Mengi, wheezing dan ronkhi kering
•    Mekonium dan jalan napas
Gejala dan tanda minor
Subjektif
•    Dispnea
•    Sulit bicara
•    Ortopena
Objektif
•    Gelisah
•    Sianosis
•    Bunyi napas menurun
•    Frekuensi napas berubah
•    Pola napas berubah
(SDKI, DPP PPNI, 2016, hal. 18)

3.    Intervensi
4.    Ketidakefektifan pola napas
•    Tujuan : pola pernapasan efektif, yang di buktikan oleh status pernapasan, status ventilasi dan pernapasan yang terganggu, kepatenan jalan napas, dan tidak ada penyimpangan tanda vital dari rentang normal.

•    Kriteria hasil :
Menunjukkan status pernapasan : ventilasi tidak terganggu, yang dibuktikan oleh indikator gangguan sebagai berikut (sebelum 1-5 : gangguan ekstrem, berat, sedang, ringan, tidak ada gangguan) kedalam inspirasi dan kemudahan bernapas, ekspansi dada simetris.
Menunjukkan tidak adanya gangguan status pernapasan : ventilasi yang dibuktikan oleh indikator berikut (sebutkan 1-5 : gangguan ekstrem, berat, sedang, ringan, tidak ada gangguan) penggunaan otot eksesorius, suara napas tambahan, pendek napas
Pasien akan :
1.    Menunjukkan pernapasan pada saat terpasang ventilator mekanis.
2.    Mempunyai kecepatan dan irama pernapasan dalam batas normal.
3.    Mempunyai fungsi paru dalam batas normal untuk pasien.
(Wilkinson, 2016, hal. 10)

•    Intervensi NIC
Manajemen jalan nafas : memfasilitasi kepatenan jalan nafas
Pengisapan jalan nafas : mengeluarkan sekret jalan nafas dengan cara memasukkan kateter pengisap ke dalam jalan napas oral atau trakea pasien.
Manajemen anafilaksis : meningkatkan ventilasi dan perfusi jaringan yang adekuat untuk individu yang mengalami reaksi alergi berat ( antigen-antibodi )
Manajemen jalan nafas buatan : memelihara slang endotrakea dan slang trakeostomi serta mencegah komplikasi yang berhubungan dengan penggunaannya
Manajemen asma : mengidentifikasi, mengobati, dan mencegah reaksi inflamasi/kontriksi di jalan nafas
Ventilasi mekanis : menggunakan alat buatan untuk membantu pasien bernafas
Penyapihan ventilator mekanis : membantu pasien untuk bernafas tanpa bantuan ventilator mekanis
Pemantauan pernafasan : mengumpulkan dan menganalisis data pasien untuk memastikan kepatenan jalan nafas dan pertukaran gas yang adekuat
Bantuan ventilasi : mningkatkan pola pernafasan spontan yang optimal sehingga memaksimalkan pertukaran oksigen dan karbondioksida di dalam paru
Pemantauan tanda vital :mengumpilkan dan menganalisis data kardiovaskular, pernapasan, dan suhu tubuh pasien untuk menentukan dan mencegah komplikasi (Wilkinson, 2016, hal. 60-63)

Aktivitas keperawatan
Pada umumnya, tindakan keperawatan untuk diagnosis ini berfokus pada pengkajian penyebab ketidakefektifan pernapasan, pemantauan status pernapasan, penyuluhan mengenai penatalaksanaan mandiri terhadap alergi, membimbing pasien untuk memperlambat pernapasan dan mengendalikan renspon diri, dan membantu pasien dalam proses pengobatan pernapasan, serta menenangkan pasien selama periode dispnea dan napas pendek. (Wilkinson, 2016, hal. 60-63)
Pengkajian
1.    Pantau adanya pucat dan sianosis
2.    Pantau efek obat pada status pernapasan
3.    Tentukan lokasi dan luasnya krepitasi di sangkar iga
4.    Kaji kebutuhan insersi jalan napas
5.    Memonitoring dan dokumentasikan ekspansi dada bilateral terhadap pasien yang terpasang ventilator(Wilkinson, 2016)

Penyuluhan untuk pasien/keluarga
1.    Informasikan kepada pasien dan keluarga tentang teknik relaksasi untuk memperbaiki pola pernapasan.
2.    Diskusikan dengan keluarga tentang rencana perawatan dirumah, meliputi pengobatan, peralatan pendukung, tanda dan gejala komplikasi yang dapat dilaporkan, sumber-sumber komunitas
3.    Diskusikan cara menghindari alergen, sebagai contoh :
4.    Memeriksa rumah adanya jamur di dinding rumah
5.    Tidak menggunakan karpet dilantai
6.    Menggunakan filter elektronik alat perapian dan AC
7.    Ajaran teknik batuk efektif
8.    Informasikan kepada pasien dan keluarga bahwa tidak boleh merokok di dalam ruangan
9.    Instruksikan kepada pasien dan keluarga bahwa mereka harus memberitahukan perawat pada saat terjadi ketidakefektifan pola pernapasan(Wilkinson, 2016, hal. 60-63)

Aktivitas kolaboratif
1.    Perawat melakukan konsultasi dengan ahli terapi tentang terapi pernapasan untuk memastikan keadekuatan fungsi ventilator mekanis
2.    Lakukan pelaporan jika terjadi perubahan sensori, bunyi napas, pola pernapasan, nilai GDA, sputum, dan sebagainya, jika perlu atau sesuai protokol
3.    Berikan obat ( misalnya bronkodilator ) sesui instruksi dan program yang diberikan oleh dokter
4.    Berikan terapi nebulizer ultrasonik dan udara atau oksigen yang dilembabkan sesuai dengan konsultasi dari ahli terapi.
5.    Berikan obat nyeri untuk mengoptimalkan pola pernapasan(Wilkinson, 2016, hal. 60-63)




DAFTAR PUSTAKA
Morton, G. (2012). Kapita Selekta Kedokteran jilid 1 dan 2. Jakarta: Media Aesculapius.
Muttaqin, A. (2008). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernafasan. Jakarta: Salemba medika.
Nugroho, T. (2011). Asuhan Keperawatan Maternitas, Anak, Bedah, Dan Penyakit Dalam. Yogyakarta: Nuha Medika.
Pratama, A. &. (2010). Studi Pustaka untuk Steganografi dengan Beberapa Metode. Yogyakarta: ANDI.
Scott & Jeffrey. (2012). Kedaruratan Medik. Tangerang: Binarupa Aksara.
SDKI, DPP PPNI. (2016). Standart Diagnosis Keperawatan Indonesia : definisi dan indikator diagnosis. Jakarta: DPPPPNI.
Wilkinson, J. m. (2016). Diagnosis Keperawatan Nanda Nic Noc. Jakarta: EGC.

0 Response to "Askep Efusi Pleura"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel