ASKEP | Asuhan Keperawatan Hemoroid


askep Asuhan Keperawatan Hemoroid



ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.S
DENGAN DIAGNOSA MEDIS : HEMOROID
DI RUANGAN PERAWATAN UMUM KELAS II – B
RSI HJ.SITI MUNIROH TASIKMALAYA


Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Praktek Kerja Lapangan
Disusun :
LIYA FUJI ASTUTI
10.1213.0346




KOMPETENSI KEAHLIAN KEPERAWATAN
SMK BHAKTI KENCANA CIAWI
TASIKMALAYA

2014




LEMBAR PENGESAHAN


ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. S
DENGAN DIAGNOSA MEDIS : HEMOROID
DI RUANGAN PERAWATAN UMUM KELAS II – B
RSI HJ.SITI MUNIROH TASIKMALAYA

Disahkan di : Ciawi
Tanggal : November 2014





Ka. Komli,





Neneng Siti Rukoyah, S.Kep.


Pembimbing,











Neneng Siti Rukoyah, S.Kep.





Kepala SMK Bhakti Kencana Ciawi,



Asep Mahmud, S.Pd., M.Pd.









KATA PENGANTAR



Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Alloh SWT, karena Alhamdulillah dengan limpahan karunia dan nikmat-Nya penyusun dapat menyelesaikan laporan dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. S DENGAN DIAGNOSA MEDIS : HEMOROID DI RUANGAN PERAWATAN UMUM KELAS II – B RSI HJ.SITI MUNIROH TASIKMALAYA”.Penulisan laporan ini bertujuan untuk memenuhi tugas Praktek Belajar Lapangan (PKL), dan mudah – mudahan tugas ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Keberhasilan penyusun dalam menyelesaikan laporan ini tidak terlepas dari bantuan dan dorongan berbagai pihak. Untuk itu penyusun mengucapkan terimakasih kepada :
1.      Bapak Eddi Supriadi, SIP, SKM, M.MKes., selaku Ketua Pelaksana Yayasan Adhi Guna Kencana.
2.      Bapak Asep Mahmud, S.Pd, M.Pd., selaku Kepala Sekolah SMK Bhakti Kencana Ciawi.
3.      Ibu Neneng Siti Rukoyah, S.Kep., selaku Ketua Kompetensi Keperawatan SMK Bhakti Kencana Ciawi dan sekaligus Pembimbing.
4.      Orang tua yang telah turut membantu, membimbing, dan mengatasi berbagai kesulitan.
5.      Teman-teman seperjuangan yang telah memberikan dukungan, semangat dan informasinya.
Penyusun menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, maka kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penyusun harapkan demi penyempurnaan laporan ini.
Harapan penyusun semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semua orang yang membacanya.

Malangbong, November 2014

Penyusun




DAFTAR ISI



LEMBAR PENGESAHAN......................................................................      i
KATA PENGANTAR..............................................................................      ii
DAFTAR ISI..............................................................................................      iii
BAB I      :      PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang..............................................................      1
B.     Tujuan Penulisan...........................................................      1
C.     Metode Penulisan..........................................................      2
D.    Sistematika Penulisan....................................................      3
BAB II    :      TINJAUAN TEORITIS
A. Pengertian........................................................................      4
B.  Etiologi............................................................................      4
C.  Tanda dan Gejala.............................................................      5
D. Patofisiologi.....................................................................      5
E.  Klasifikasi........................................................................      5
F.   Data Penunjang................................................................      6
G. Data Fokus.......................................................................      6
H. Riwayat Kesehatan..........................................................      7
I.    Pemeriksaan Fisik............................................................      8
J.    Analisa Data....................................................................      9
K. Masalah Keperawatan yang Mungkin Muncul................      10
L.  Rencana Tindakan dan Rasional......................................      11
M.Tindakan yang Dilakukan................................................      13
N. Evaluasi............................................................................      15
BAB III   :      TINJAUAN KASUS
A. Pengkajian........................................................................      17
B.  Analisis Data....................................................................      23       
C.  Masalah Keperawatan yang Muncul................................      24
D. Rencana Tindakan yang Akan Dilakukan.......................      26
E.  Prosedur Tindakan...........................................................      27
F.   Evaluasi............................................................................      29
BAB IV   :      PEMBAHASAN
A. Pengkajian........................................................................      31
B.  Diagnosa Keperawatan....................................................      31
C.  Implementasi....................................................................      32
D. Pelaksanaan......................................................................      33
E.  Evaluasi............................................................................      33
BAB V    :      PENUTUP
A.    Kesimpulan......................................................................      35
B.     Penutup............................................................................      35
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................      37






BAB I

PENDAHULUAN



A.    Latar Belakang

Hemoroid adalah bagian vena yang berdilatasi dalam anal kanal. Hemoroid sangat umum terjadi pada usia 50-an, 50% individu mengalami berbagai tipe hemoroid berdasarkan luas vena yang terkena. Sering terjadi namun kurang diperhatikan kecuali bila sudah menimbulkan nyeri dan perdarahan. Hemoroid juga biasa terjadi pada wanita hamil. Tekanan intra abdomen yang meningkat oleh karena pertumbuhan janin dan juga karena adanya perubahan hormon menyebabkan pelebaran vena hemoroidalis.
Hemoroid diklasifikasikan menjadi dua tipe. Hemoroid internal yaitu hemoroid yang terjadi diatas sfingter anal sedangkan yang muncul di luar stfingter anal disebut hemoroid eksternal. (Brunner & Suddarth, 1996)
Kedua jenis hemoroid ini sangat sering terjadi dan terdapat pada sekitar 35% penduduk. Hemoroid bisa mengenai siapa saja, baik laki-laki maupun wanita. Insiden penyakit ini akan meningkat sejalan dengan usia dan mencapai puncak pada usia 45-65 tahun. Walaupun keadaan ini tidak mengancam jiwa, tetapi dapat menyebabkan perasaan yang sangat tidak nyaman. Berdasarkan hal ini penulis tertarik untuk membahas penyakit hemoroid karena hemoroid jarang diperhatikan oleh masyarakat bila belum terjadi perdarahan dan rasa nyeri.

B.     Tujuan Penulisan

1.      Tujuan Umum
Memahami dan menerapkan asuhan keperawatan terhadap klien dengan penyakit hemoroid secara komprehensif melalui bio-psiko-sosial-spiritual.
2.      Tujuan Khusus
Melalui aspek bio-psiko-sosial-spiritual diharapkan siswa mampu :
a.       Melaksanakan pengkajian terhadap klien dengan penyakit hemoroid.
b.      Mampu mendiagnosa keperawatan sesuai dengan prioritas masalah.
c.       Mampu membuat rencana tindakan dan rasional dalam praktek nyata sesuai dengan masalah yang telah diprioritaskan.
d.      Mampu melaksanakan tindakan dalam praktek nyata sesuai dengan masalah yang telah diprioritaskan.
e.       Mampu menilai dan mengevaluasi hasil dari tindakan yang telah dilaksanakan pada klien dengan penyakit hemoroid.
f.       Mampu mendokumentasikan rencana tindakan asuhan keperawatan yang dilaksanakan.
g.      Mampu membahas kesenjangan antara teori yang diperoleh dengan studi kasus atau penerapan di lapangan.

C.     Metode Penulisan

Metode yang digunakan adalah pendekatan studi kasus, yaitu metode yang memberikan gambaran terhadap suatu kejadian atau keadaan yang berlangsung melalui proses keperawatan.
Adapun teknik-teknik yang digunakan untuk memperoleh data dan informasi dengan cara :
1.      Wawancara
Penulis melakuakan wawancara dengan keluarga klien, dan petugas kesehatan lain untuk mendapatkan data subjektif klien.
2.      Studi dokumentasi
Data – data yang didapatkan dari rekam medis klien diruangan, seperti catatan keperawatan, catatan dokter, dan tim kesehatan lain.
3.      Studi kepustakaan
Untuk mendapatkan literatur dan tinjauan teoritis, baik mengenai konsep dasar penyakit dan konsep dasar keperawatan maka penulis melakukan studi kepuatakaan baik dari internet maupun dari buku – buku sumber lainnya.
4.      Observasi
Melaksanakan Asuhan Keperawatan secara langsung pada klien dan mengamati langsung parubahan – perubahan yang terjadi untuk memperoleh data serta mencatat hal – hal penting termasuk pemeriksaan fisik.
5.      Pemeriksaan Fisik
Penulis melakukan pemeriksaan fisik pada klien melalui tahapan langkah – langkah berikut :
a.       Inspeksi adalah pemeriksaan fisik dilakukan dengan cara melihat apakah terdapat luka, ada tidaknya hematom dll.
b.      Palpasi adalah pemeriksaan fisik dilakukan dengan cara meraba apakah ada benjolan atau masa atau tidak.
c.       Perkusi adalah pemeriksaan fisik dilakukan dengan cara mengetuk dengan menggunakan jari dan reflek hammer.
d.      Auskultasi adalah pemeriksaan fisik dilakukan dengan cara mendengarkan menggunakan stetoskop.

D.    Sistematika Penulisan

Penulis membagi penulisan asuhan keperawatan ini menjadi 5 bab, yang terdiri dari :
BAB I      :    PENDAHULUAN
                     Terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan serta sistematika penulisan.
BAB II    :    TINJAUAN TEORITIS
                     Terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan serta sistematika penulisan.
BAB III   :    TINJAUAN KASUS
                     Terdiri dari pengkajian, analisa data, masalah keperawatan yang muncul, prosedur tindakan, dan evaluasi.
BAB IV   :    PEMBAHASAN
                     Terdiri dari pengkajian, diangnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
BAB V    :    PENUTUP
                     Terdiri dari kesimpulan dan saran.



BAB II

TINJAUAN TEORITIS



A.    Definisi

Hemoroid adalah masa vaskuler yang menonjol kedalam lumen rectum bagian bawah atau area perianal (Sandra M. Nettina, 2002).
Hemoroid adalah pembengkakan yang tidak wajar / distensi vena di daerah rektal yang tidak signifikan (D.D. Ignatavicius, 1998).
Hemoroid adalah pelebaran varises satu segmen atau lebih vena -  vena hemoroidalis (bacon) (kapita selekta kedokteran).
Hemoroid adalah dilatasi vena hemoroidal interior atau superior (kamus saku kedokteran Dorland, 1998).

B.     Etiologi

Yang menjadi faktor predisposisi adalah herediter, anatomi, makanan, pekerjaan, psikis, dan sanilitas. Sedangkan sebagai faktor presipitas adalah faktor mekanis (kelainan sirkulasi parsial dan peningkatan tekanan intra abdominal), fisiologis, dan radang. Pada umumnya faktor etiologi tersebut tidak berdiri sendiri tetapi saling berkaitan (kapita selekta kedokteran).
Faktor penyebab hemoroid adalah :
1.      Mengejan pada waktu defekasi
2.      Konstipasi menahun
3.      Kelemahan dinding struktural dari dinding pembuluh darah
4.      Herediter
5.      Pembesaran prostat
6.      Peningkatan tekanan intra abdomen
a.       Kehamilan
b.      Konstipasi
c.       Berdiri dan duduk terlalu lama
7.      Fibroma uteri
8.      Tumor rectum
9.      Diare
10.  Kongesti pelvis
11.  Usia lanjut
12.  Obesitas

C.     Tanda dan Gejala

1.      Gejala utama
a.       Perdarahan melaui anus yang berupa darah segar tanpa rasa nyeri
b.      Prolaps yang berasal dari tonjolan hemoroid sesuai gradasinya
2.      Gejala lain yang mengikuti
a.       Nyeri sebagai akibat adanya infeksi sekunder atau thrombus
b.      Iritasi kronis sekitar anus oleh karena anus selalu basah
c.       Anemia yang menyertai perdarahan kronis yang terjadi

D.    Patofisiologi

Hemoroid timbul akibat kongesti vena yang disebabkan gangguan aliran balik dari vena hemoroidalis. Kantung – kantung vena yang melebar menonjol kedalam saluran anus dan rectum terjadi trombosis, ulserasi, perdarahan dan nyeri. Perdarahan umumnya terjadi akibat trauma oleh feses yang keras. Darah yang keluar berwarna merah segar meskipun berasal dari vena karena kaya akan asam. Nyeri yang timbul akibat inflamasi dan edema yang disebabkan oleh trombosis (pembekuan darah dalam hemoroid).

E.     Klasifikasi

1.      Berdasarkan asal / tempat penyebabnya

a.       Hemoroid interna

Hemoroid ini berasal dari vena hemoroidales superior dan medial, terletak diatas garis anorektal dan ditutupi oleh mukosa anus. Hemoroid ini tetap berada di dalam anus.

b.      Hemoroid eksterna

Hemoroid ini dikarenakan adanya dilatasi (pelebaran pembuluh darah) vena hemoroidales inferior, terletak dibawah garis anorektal dan ditutupi oleh mukosa usus. hemoroid ini keluar dari anus (wasir luar).
 
2.      Hemoroid interna diklasifikasikan lagi berdasarkan perkembangannya
a.       Stadium I : Hemoroid interna dengan perdarahan segar tanpa nyeri pada waktu defekasi.
b.      Stadium II : Hemoroid interna yang menyebabkan perdarahan dan mengalami prolaps pada saat mengedan ringan,tetapi dapat masuk kembali secara spontan.
c.       Stadium III : Hemoroid interna yang mengalami perdarahan dan disertai prolaps dan diperlukan intervensi manual memasukkan ke dalam kanalis.
d.      Stadium IV : Hemoroid interna yang tidak kembali ke dalam atau berada terus – menerus di luar.
(Thornton, scott C 2009)

F.      Data Penunjang

1.      Anamnesa : BAB diselimuti darah segar atau menetes darah segar sehabis BAB.
2.      Fisik : kemungkinan tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan luar, kadang – kadang didapatkan anemia.
3.      Colok dubur : tidak didapatkan rasa nyeri, tidak teraba tumor, colok dubur harus dilakukan untuk mengetahui kelainan lain.
4.      Proktoskopi : ditentukan local dan gradasi hemoroid interna yang selanjutnya digunakan untuk menentukan cara pengobatannya.

G.    Data Fokus

Dalam data fokus terdapat DS dan DO. DS atau Data Subjektif merupakan data yang diperoleh dari keluhan klien kepada pemeriksa, sedangkan DO atau Data Objektif merupakan data yang diperoleh oleh pemeriksa melalui pengkajian pemeriksaan secara real dan objektif.
DS dan DO yang mungkin muncul antara lain :

1.      DS
a.       Klien mengeluh nyeri dan panas pada daerah anus.
b.      Klien mengeluh nyeri pada saat duduk.
c.       Klien mengeluh nyeri pada saat BAB.
d.      Klien mengeluh fesesnya keras pada saat BAB.
e.       Klien mengeluh adanya perdarahan pada saat BAB.
f.       Klien mengeluh pola BAB tidak normal.
g.      Klien mengatakan tidak BAB karena takut anusnya nyeri.
h.      Klien mengeluh BAB keras sehingga harus mengedan.
i.        Klien mengeluh aktivitasnya dibantu.
j.        Klien mengeluh tidak dapat beraktivitas secara mandiri.
k.      Klien mengeluh badan terasa panas.

2.      DO
a.       Saat dilakukan pemeriksaan anus, ada benjolan di daerah anus.
b.      Klien tampak meringis menahan nyeri.
c.       Klien tampak memegangi daerah yang terasa nyeri.
d.      Skala nyeri klien 2-3 dari 5.
e.       Tampak ada perdarahan pada saat klien BAB.
f.       Konjungtiva pucat.
g.      Intake dan output klien tidak seimbang.
h.      Klien tampak lemah.
i.        Aktivitas klien tampak dibantu.
j.        Klien tidak dapat beraktivitas secara mandiri.
k.      Badan klien saat diraba terasa panas.
l.        Suhu klien > 36.5oC.

H.    Riwayat Kesehatan

1.      Keluhan Utama
Keluhan utama merupakan hal yang pertama kali dikeluhkan klien kepada perawat / pemeriksa.

2.      Riwayat Kesehatan Sekarang
Riwayat kesehatan sekarang merupakan pengembangan dari keluhan utama yang mencakup PQRST. Adapun hal – hal yang harus diperhatikan saat melakukan pengkajian riwayat kesehatan sekarang klien, yaitu :
a.       Apakah ada rasa gatal, panas / terbakar dan nyeri pada saat defekasi.
b.      Adakah nyeri abdomen.
c.       Apakah ada perdarahan di rectum, seberapa banyak, seberapa sering, dan apa warnanya (merah segar atau warna merah tua).
d.      Bagaimana pola eliminasi klien, apakah seing menggunakan laktasif atau tidak.
3.      Riwayat Kesehatan Dahulu
Tanyakan pada klien apakah dahulu pernah mengalami hal yang sama, kapan terjadinya, bagaimana cara pengobatannya. Apakah memiliki riwayat penyakit yang dapat menyebabkan hemoroid atau yang dapat menyebabkan kambuhnya hemoroid.
4.      Riwayat Kesehatan Keluarga
Tanyakan apakah keluarga klien memiliki riwayat penyakit menular (seperti TBC, HIV/AIDS, hepatitis, dll) maupun riwayat penyakit keturunan (seperti hipertensi, Diabetes, asma, dll).

I.       Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik pada pasien hemoroid biasanya seperti pemeriksaan fisik pada umumnya, tetapi pada saat pemeriksaan rectum dilakukan hal – hal sebagai berikut :
Pasien dibaringkan dengan posisi menungging dengan kedua kaki ditekuk dan dada menempel pada tempat tidur (posisi genupectoral / kneechest).
1.      Inspeksi
a.       Pada inspeksi lihat apakah ada benjolan sekitar anus
b.      Apakah benjolan terlihat saat prolaps
c.       Bagaimana warnanya, apakah kebiruan, kemerahan, atau kehitaman.
d.      Apakah benjolan tersebut terletak diluar atau didalam (internal / eksternal)
2.      Palpasi
Palpasi dilakukan dengan menggunakan sarung tangan dan vaselin dengan melakukan rektal taucher, dengan memasukan satu jari kedalam anus. Apakah ada benjolan, apakah benjolan tersebut lembek, lihat apakah ada perdarahan.

J.       Analisa Data

No
Data
Etiologi
Masalah
1.
DS : - Klien mengeluh nyeri dan panas pada daerah anus
-   Klien mengeluh nyeri pada saat duduk
-   Klien mengeluh nyeri pada saat BAB
DO : -  Saat dilakukan pemeriksaan anus, ada benjolan di daerah anus
-      Klien tampak meringis menahan nyeri
-      Klien tampak memegangi daerah yang terasa nyeri
-      Skala nyeri klien 2-3 dari 5
Kantung – kantung vena melebar



Menonjol ke saluran anus

Terjadi benjolan
 


Nyeri pada saat BAB
Gangguan rasa nyaman : nyeri
2.
DS : - Klien mengeluh fesesnya keras pada saat BAB
-   Klien mengeluh adanya perdarahan pada saat BAB
DO : - Tampak ada perdarahan pada saat klien BAB
-  Konjungtiva pucat
Feses yang keras

pecahnya vena hemoroidalis

perdarahan pada saat BAB/perdarahan di anus
Perdarahan di anus
3.
DS : - Klien mengeluh pola BAB tidak normal
-   Klien mengatakan tidak BAB karna takut anusnya nyeri
-   Klien mengeluh BAB keras sehingga harus mengedan
DO: - Intake dan output klien tidak seimbang
Feses yang keras
 


Adanya benjolan di anus

nyeri

tidak mau BAB
Konstipasi
4.
DS : - Klien mengeluh badan terasa panas
DO: - Badan klien saat diraba terasa panas
-   Suhu klien > 36.5oC
Adanya benjolan di anus

kerusakan jaringan pada rektal
                
pertahanan tubuh kurang adekuat





mudah masuknya kuman
 


resiko infeksi
Resiko infeksi
5.
DS : - Klien mengeluh aktivitasnya dibantu
-   Klien mengeluh tidak dapat beraktivitas secara mendiri
-   Klien mengeluh lemas
DO: - Aktivitas klien tampak dibantu
-   Klien tidak dapat beraktivitas secara mandiri
-   Klien tampak lemas
Nyeri hemoroid
                
Badan lemas karna kelelahan menahan nyeri
                
Tidak dapat beraktivitas secara mandiri
                
Intoleransi aktivitas
Intoleransi aktivitas

K.    Masalah Keperawatan yang Mungkin Muncul

1.      Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan adanya hemoroid, ditandai dengan :
DS : - Klien mengeluh nyeri dan panas pada daerah anus
-   Klien mengeluh nyeri pada saat duduk
-   Klien mengeluh nyeri pada saat BAB
DO : - Saat dilakukan pemeriksaan anus, ada benjolan di daerah anus
-   Klien tampak meringis menahan nyeri
-   Klien tampak memegangi daerah yang terasa nyeri
-   Skala nyeri klien 2-3 dari 5
2.      Perdarahan di anus berhubungan dengan pecahnya vena hemoroidalis, ditandai dengan :
DS : - Klien mengeluh fesesnya keras pada saat BAB
-   Klien mengeluh adanya perdarahan pada saat BAB
DO : - Tampak ada perdarahan pada saat klien BAB
-   Konjungtiva pucat
3.      Konstipasi berhubungan dengan nyeri karena ada benjolan di anus, ditandai dengan :
DS : - Klien mengeluh pola BAB tidak normal
-   Klien mengatakan tidak BAB karena takut anusnya nyeri
-   Klien mengeluh BAB keras sehingga harus mengedan
DO: - Intake dan output klien tidak seimbang
4.      Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan pada rektal, ditandai dengan :
DS : - Klien mengeluh badan terasa panas
DO: - Badan klien saat diraba terasa panas
-   Suhu klien > 36.5oC
5.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri karena hemoroid, ditandai dengan :
DS : - Klien mengeluh aktivitasnya dibantu
-   Klien mengeluh tidak dapat beraktivitas secara mandiri
DO: - Aktivitas klien tampak dibantu
-   Klien tidak dapat beraktivitas secara mandiri

L.     Rencana Tindakan dan Rasional

No
Diagnosa keperawatan
Intervensi
Rasional
1.
Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan adanya hemoroid, ditandai dengan :
DS :
-     Klien mengeluh nyeri dan panas pada daerah anus
-     Klien mengeluh nyeri pada saat duduk
-     Klien mengeluh nyeri pada saat BAB
DO :
-     Saat dilakukan pemeriksaan anus, ada benjolan di daerah anus
-     Klien tampak meringis menahan nyeri
-     Klien tampak memegangi daerah yang terasa nyeri
-     Skala nyeri klien 2-3 dari 5
-     Berikan posisi yang nyaman


-     Berikan bantalan di bawah bokong saat duduk
-     Ajarkan teknik untuk mengurangi rasa nyeri seperti relaksasi dan distraksi
-     Observasi tingkatan nyeri


-     Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian analgesik, pelunak feses, dan dilakukannya hemoroidectomi
-     Meminimalkan stimulasi / meningkatkan relaksasi
-     Meminimalkan tekanan di bawah bokong saat duduk
-     Pengalihan perhatian dengan kegiatan lain untuk mengurangi nyeri

-     Memantau sejauh mana nyeri tersebut, berkurang atau bertambah
-     Mengurangi nyeri dan menurunkan rangsang saraf simpatis dan untuk mengangkat hemoroid
2.
Perdarahan di anus berhubungan dengan pecahnya vena hemoroidalis, ditandai dengan :
DS :
-     Klien mengeluh fesesnya keras pada saat BAB
-     Klien mengeluh adanya perdarahan pada saat BAB
DO :
-     Tampak ada perdarahan pada saat klien BAB
-     Konjungtiva pucat
-     Monitor banyaknya perdarahan klien
-     Monitor warna dan konsistensi darah


-     Observasi TTV secara rutin
-     Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian vitamin K dan B12 sesuai indikasi
-     Untuk menentukan tingkat kehilangan cairan
-     Untuk mengetahui darah yang keluar dari anus akibat hemoroid
-     Untuk menentukan tindakan selanjutnya
-     Untuk membantu proses pembekuan darah dan untuk meningkatkan produksi sel darah merah
3.
Konstipasi berhubungan dengan nyeri karna ada benjolan di anus, ditandai dengan :
DS :
-     Klien mengeluh pola BAB tidak normal
-     Klien mengatakan tidak BAB karna takut anusnya nyeri
-     Klien mengeluh BAB keras sehingga harus mengedan
DO:
-     Intake dan output klien tidak seimbang
-     Berikan dan anjurkan pasien untuk minum + 2 liter / hari
-     Berikan posisi semi fowler
-     Anjurkan klien mengkonsumsi makanan tinggi serat
-     Berikan laktasif sesuai advis dokter
-     Mencegah dehidrasi secara oral


-     Meningkatkan usaha evakuasi feses
-     Makanan tinggi serat dapat melancarkan proses defekasi
-     Membantu melancarkan proses defekasi
4.
Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan pada rektal, ditandai dengan :
DS :
-     Klien mengeluh badan terasa panas
DO:
-     Badan klien saat diraba terasa panas
-     Suhu klien > 36.5oC
-     Lakukan teknik septik dan antiseptik dalam membersihkan anus apabila sudah BAB
-     Jaga kebersihan daerah rektum

-     Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian antibiotic
-     Adanya kerusakan jaringan di rektum  rentan terhadap perkembangbiakan kuman dan bakteri

-     Mencegah perkembangan kuman dan bakteri
-     Mencegah terjadinya infeksi
5.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri karna hemoroid, ditandai dengan :
DS :
-     Klien mengeluh aktivitasnya dibantu
-     Klien mengeluh tidak dapat beraktivitas secara mendiri
DO:
-     Aktivitas klien tampak dibantu
-     Klien tidak dapat beraktivitas secara mandiri
-     Kaji tingkat aktvitas klien

-     Bantu klien dalam melakukan aktivitas sehari – hari

-     Mandirikan klien dalam melakukan aktivitas sehari – hari

-     Berikan motivasi kepada klien utuk bisa melakukan aktivitas secara mandiri
-     Untuk mengetahui tingkat kelemahan klien
-     Membantu aktivitas klien secara bertahap dapat membantu toleransi aktivitas klien
-     Mengurangi ketergantungan aktivitas klien dengan bantuan perawat
-     memberikan motivasi dapat mempercepat penyembuhan dan dapat mengurangi ketergantungan aktivitas klien

M.   Tindakan yang Dilakukan

No
Diagnosa keperawatan
Implementasi
1.
Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan adanya hemoroid, ditandai dengan :
DS :
-     Klien mengeluh nyeri dan panas pada daerah anus
-     Klien mengeluh nyeri pada saat duduk
-     Klien mengeluh nyeri pada saat BAB
DO :
-     Saat dilakukan pemeriksaan anus, ada benjolan di daerah anus
-     Klien tampak meringis menahan nyeri
-     Klien tampak memegangi daerah yang terasa nyeri
-     Skala nyeri klien 2-3 dari 5
-     Memberikan posisi yang nyaman
-     Memberikan bantalan di bawah bokong saat duduk
-     Mengajarkan teknik untuk mengurangi rasa nyeri seperti relaksasi dan distraksi
-     Mengobservasi tingkatan nyeri
-     Berkolaborasi dengan tim medis untuk pemberian analgesik, pelunak feses, dan dilakukannya hemoroidectomi
2.
Perdarahan di anus berhubungan dengan pecahnya vena hemoroidalis, ditandai dengan :
DS :
-     Klien mengeluh fesesnya keras pada saat BAB
-     Klien mengeluh adanya perdarahan pada saat BAB
DO :
-     Tampak ada perdarahan pada saat klien BAB
-     Konjungtiva pucat
-     Memonitor banyaknya perdarahan klien
-     Memonitor warna dan konsistensi darah
-     Mengobservasi TTV secara rutin
-     Berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian vitamin K dan B12 sesuai indikasi
3.
Konstipasi berhubungan dengan nyeri karna ada benjolan di anus, ditandai dengan :
DS :
-     Klien mengeluh pola BAB tidak normal
-     Klien mengatakan tidak BAB karna takut anusnya nyeri
-     Klien mengeluh BAB keras sehingga harus mengedan
DO:
-     Intake dan output klien tidak seimbang
-     Memberikan dan anjurkan pasien untuk minum + 2 liter / hari
-     Memberikan posisi semi fowler
-     Menganjurkan klien mengkonsumsi makanan tinggi serat
-     Memberikan laktasif sesuai advis dokter
4.
Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan pada rektal, ditandai dengan :
DS :
-     Klien mengeluh badan terasa panas
DO:
-     Badan klien saat diraba terasa panas
Suhu klien > 36.5oC
-     Melakukan teknik septik dan antiseptik dalam membersihkan anus apabila sudah BAB
-     Menjaga kebersihan daerah rectum
-     Berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian antibiotic
5.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri karna hemoroid, ditandai dengan :
DS :
-     Klien mengeluh aktivitasnya dibantu
-     Klien mengeluh tidak dapat beraktivitas secara mendiri
DO:
-     Aktivitas klien tampak dibantu
Klien tidak dapat beraktivitas secara mandiri
-     Mengkaji tingkat aktivitas klien
-     Membantu klien dalam melakukan aktivitas sehari – hari
-     Memandirikan klien dalam melakukan aktivitas sehari – hari
-     Memberikan motivasi kepada klien utuk bisa melakukan aktivitas secara mandiri

N.    Evaluasi

Evaluasi merupakan langkah akhir dari proses keperawatan. Semua tahap proses keperawatan  harus dilakukan evaluasi.
Ada tiga alternatif dalam menilai suatu tindakan berhasil atau tidak, alternatif tersebut yaitu :
1.      Tujuan tercapai / masalah teratasi
2.      Tujuan tercapai sebagian / masalah teratasi sebagian
3.      Tujuan belum tercapai / masalah belum teratasi
Evaluasi dilakukan bertujuan untuk memantau perkembangan klien dan mengkaji ulang keberhasilan dari tahap proses keperawatan, harus dilakukan pengkajian ulang jika tindakan yang dilakukan belum berhasil. Evaluasi dari tahap proses keperawatan kasus hemoroid ini diharapkan klien pulang dari RS lekas sembuh.
Evaluasi dari tahap proses keperawatan pada kasus ini diharapkan sebagai berikut :
No
Diagnosa keperawatan
Evaluasi
1.
Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan adanya hemoroid, ditandai dengan :
DS :
-     Klien mengeluh nyeri dan panas pada daerah anus
-     Klien mengeluh nyeri pada saat duduk
-     Klien mengeluh nyeri pada saat BAB
DO :
-     Saat dilakukan pemeriksaan anus, ada benjolan di daerah anus
-     Klien tampak meringis menahan nyeri
-     Klien tampak memegangi daerah yang terasa nyeri
-     Skala nyeri klien 2-3 dari 5
S : - Klien mengatak nyeri berkurang bahkan hilang
-   Klien mengatakan rasa panas di anus hilang
-   Klien mengatakan tidak terasa nyeri saat duduk
O: - Benjolan hilang
-   Klien tidak meringis
-   Skala nyeri 1 bahkan 0
A : Masalah teratasi
P : Intervensi selesai
2.
Perdarahan di anus berhubungan dengan pecahnya vena hemoroidalis, ditandai dengan :
DS :
-     Klien mengeluh fesesnya keras pada saat BAB
-     Klien mengeluh adanya perdarahan pada saat BAB
DO :
-     Tampak ada perdarahan pada saat klien BAB
-     Konjungtiva pucat
S : - Klien mengatakan fesesnya tidak keras
-   Klien mengatakan tidak ada perdarahan saat BAB
O: - Perdarahan pada BAB tidak ada
-   Konjungtiva tidak pucat
A : Masalah teratasi
P : Intervensi selesai
3.
Konstipasi berhubungan dengan nyeri karna ada benjolan di anus, ditandai dengan :
DS :
-     Klien mengeluh pola BAB tidak normal
-     Klien mengatakan tidak BAB karna takut anusnya nyeri
-     Klien mengeluh BAB keras sehingga harus mengedan
DO:
-     Intake dan output klien tidak seimbang
S : Klien mengatakan pola  BAB normal
O : Intake dan output klien seimbang
A : Masalah teratasi
P : Intervensi selesai
4.
Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan pada rektal, ditandai dengan :
DS :
-     Klien mengeluh badan terasa panas
DO:
-     Badan klien saat diraba terasa panas
Suhu klien > 36.5oC
S : Klien mengatakan badan tidak terasa panas
O : Suhu klien normal (36,50C – 37,50C)
A : Masalah teratasi
P : Intervensi selesai
5.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri karna hemoroid, ditandai dengan :
DS :
-     Klien mengeluh aktivitasnya dibantu
-     Klien mengeluh tidak dapat beraktivitas secara mendiri
DO:
-     Aktivitas klien tampak dibantu
-     Klien tidak dapat beraktivitas secara mandiri
S : Klien mengatakan dapat beraktivitas secara mandiri
O : Klien tampak beraktivitas sendiri
A : Masalah teratasi
P : Intervensi selesai




BAB III

TINJAUAN KASUS



A.    Pengkajian

1.      Pengumpulan Data

a.       Identitas Klien
Nama                                 : Ny.S
Umur                                 : 77 tahun
Jenis Kelamin                    : Perempuan
Pendidikan                        : SD
Pekerjaan                           : Petani
Agama                               : Islam
Suku / Bangsa                    : Sunda / Indonesia
Status Perkawinan             : Kawin
Diagnosa Medis                 : Hemoroid
Alamat                               : Kp. Padahayu RT/RW. 02/01 Desa.
                                             Bojong Asih Kec. Mertajaya
Tanggal Masuk RS            : 22 Oktober 2014           Pukul : 10.10 WIB
Tanggal Operasi                 : –
Tanggal Pengkajian           : 23 Oktober 2014           Pukul : 06.30 WIB
No.CM                              : 019679
b.      Identitas Penanggung Jawab
Nama                                 : Tn.M
Umur                                 : 55 tahun
Jenis Kelamin                    : Laki – laki
Pendidikan                        : SMA
Pekerjaan                           : Petani
Hubungan dengan Klien   : Anak
Alamat                               : Kp. Padahayu RT/RW. 02/01 Desa.
                                             Bojong Asih Kec. Mertajaya

2.      Keluhan Utama

Klien mengeluh BAB bercampur / dilumuti darah.

3.      Riwayat Penyakit

a.       Riwayat Penyakit Sekarang
Klien datang ke RSI Hj.Siti Muniroh Tasikmalaya tanggal 22 Oktober 2014 pukul 10.10 WIB dengan keluhan BAB berdarah sudah 2 hari, + 3 kali BAB berdarah, BAB berdarah bila feses keras, perdarahan terjadi karena adanya benjolan di anus, tidak terjadi perdarahan di daerah lain, warna darah merah segar, klien merasakan badannya lemas, BAB tidak teratur dan susah, BAK lancar.
b.      Riwayat Penyakit Dahulu
Klien menderita hemoroid sudah + 1 tahun yang lalu tetapi tidak dilakukan tindakan operasi sehingga sekarang kambuh kembali.
c.       Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga klien tidak ada yang menderita penyakit yang sama, penyakit keturunan (seperti diabetes, hipertensi, asma, dll), penyakit menular (seperti hepatitis, HIV/AIDS, TBC, dll).

4.      Data Biologis

No
Kebutuhan
Sebelum sakit
Sesudah sakit
1.
Nutrisi
a.  BB/TB
b.  Diit terakhir
c.  Kemampuan mengunyah
-     Mengunyah
-     Menelan
-     Bantuan total/sebagian
d. Frekuensi makan
e.  Porsi makan
f.   Makanan yang di sukai
g.  Makanan yang menimbulkan alergi

47 kg/140 cm
Nasi

Baik
Baik
Tidak ada
3x/hari
1 porsi
Tidak terkaji
Tidak ada

47 kg/140 cm
BN 1600 kal

Baik
Baik
Sebagian
3x/hari
1/2 porsi
Tidak terkaji
Tidak ada
2.
Cairan
a.  Intake
-       Oral
Jenis
Jumlah
Bantuan total/sebagian
-       Intervensi
Jenis
jumlah
b.  Output
-       Sunction
-       Drain
-       Muntah



Air putih
+ 1000 cc
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada



Air putih
+ 600 cc
Sebagian

RL
+ 400 cc

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
3.
Eliminasi
a.  BAB
Frekuensi
Warna
Jumlah
Keluhan
Bantuan total/sebagian
b.  BAK
Frekuensi
Warna
Jumlah
Keluhan
Bantuan total/senagian


1x/hari
Khas feses
+ 100 cc
Tidak ada
Tidak ada

3 – 4 x/hari
Kuning jernih
+ 800 cc
Tidak ada
Tidak ada


Belum pernah
-
-
-
-

3 x/hari
Kuning jernih
+ 600 cc
Tidak ada
Sebagian
4.
Istirahat
a.  Lama tidur
b.  Kesulitan mulai tidur
c.  Kebiasaan mulai tidur

8 – 9 jam
Tidak ada
Malam

6 – 7 jam
Gelisah
Siang + malam
5.
Personal hygiene
a.  Mandi
-     Frekuensi
-     Kebiasaan mandi
-     Bantuan
b.  Gosok gigi
c.  Cuci rambut
d. Gunting kuku
e.  Ganti pakaian


2x/hari
Pagi + sore
Tidak ada
2x/hari
1x/2 hari
1x/minggu
2x/hari

Belum pernah
-
-
-
-
-
-
1x/hari
6.
Aktivitas
a.  Kesulitan dalam melakukan aktivitas
b.  Anjuran badrest

Tidak ada

Tidak ada

Ya

Ya

5.      Pemeriksaan Fisik

a.       Kesadaran                     : CM
b.      Penampilan umum        : Kotor
c.       BB dan TB                   : 47 kg dan 140 cm

d.      Pemeriksaan TTV
1)      TD                           : 100/70 mmHg
2)      N                             : 72 x/menit
3)      R                             : 28 x/menit
4)      S                              : 36,50C

e.       Pengkajian Head To Toe
1)      Kepala
a)      Rambut
Rambut klien bersih, rambut hitam beruban, bentuk kepala simetris, tidak ada benjolan maupun lesi, tidak ada kelainan lain di kepala.

b)      Mata
Bentuk kedua bola mata simetris, kelopak mata simetris, bulu mata ada, konjungtiva pucat, reflek pupil normal, terbukti saat memakai cahaya penlight didekatkan pupil mengecil dan saat cahaya dijauhkan pupil kembali membesar. Pergerakan bola mata pasien normal terbukti saat mata pasien mengikuti arah jari pemeriksa. Ketajaman penglihatan klien sudah rabun terbukti saat klien dianjurkan membaca klien tidak tepat membaca kalimat tersebut. Saat dilakukan palpasi tidak ditemukan kelainan.

c)      Telinga
Kedua telinga simetris, telinga bersih tidak ada sekret/kotoran maupun perdarahan, tidak ada lesi maupun massa, tidak ada peradangan, pendengaran pasien terganggu, terbukti saat pemeriksa berbicara pelan / normal klien kurang mendengar dan harus diulangi dengan suara sedikit lebih keras.

d)     Hidung
Bentuk tulang hidung simetris, tidak ada pembengkakan, tidak ada perdarahan maupun sekret / kotoran, tidak ada massa dan nyeri di daerah hidung, penciuman klien normal, terbukti saat klien dianjurkan mencium wewangian (parfum, kayu putih, sabun) dan klien menjawab dengan tepat.

e)      Mulut, Lidah, Gigi
Bibir simetris, warna bibir pucat, bibir lembab, tidak ada lesi, mulut kotor, gigi sudah tidak utuh, warna gigi kekuningan, ada karies, keadaan gigi kotor, tidak ada lesi di daerah gusi, tidak ada pembengkakan dan nyeri di daerah gusi.
Bentuk lidah normal, warna lidah pucat, tidak ada kelainan di lidah. Saat dilakukan palpasi di rongga mulut tidak ada pembengkakan maupun nyeri tekan.
Indra perasa klien masih normal, terbukti saat pemeriksa memberikan perasa dan klien menjawab dengan tepat. Saraf kranial hipoglosal klien normal, terbukti saat klien dapat mengeluarkan dan menggerakan lidah. Gerak otot rahang klien masih bekerja dengan baik.

2)      Leher
Bentul leher normal, tidak ada pembengkakan, tidak ada massa, reflek menelan klien baik, saraf kranial asesori klien baik, terbukti saat klien di minta untuk menengok ke kiri / kanan kemudian ditahan oleh pemeriksa.

3)      Dada, Payudara, dan Ketiak
Tidak ada kelainan di daerah dada, bentuk dada simetris, ekspansi dada seimbang, terbukti saat pemeriksa merasakan getaran dan keseimbangan di punggung klien saat klien bernafas. Traktil fremitus klien seimbang terbukti saat pemeriksa meletakan kedua tangan di punggung klien pada saat klien mengucapkan bilangan “tujuh – tujuh”. Suara pernafasan jernih, tidak ada suara tambahan, irama nafas klien teratur dan normal.
Tidak ada suara tambahan pada jantung, irama jantung teratur dan normal.
Tidak ada edema di daerah payudara, bentuk payudara simetris, tidak ada massa dan lesi, tidak ada keluaran di daerah putting.
Tidak ada edema, massa maupun lesi di daerah ketiak, tidak ada kelainan lain, tidak ada nyeri tekan.

4)      Abdomen
Bentuk perut datar, simetris, tidak ada kelainan lain, tidak ada nyeri tekan di daerah perut, bising usus klien normal yaitu 9x/menit, tidak ada keluhan saat diperkusi, perut tidak kembung.
Posisi umbilikal normal, tidak ada peradangan ataupun keluaran, keadaan umbilikal bersih, tidak ada kelainan lain pada umbilikal.

5)      Genitalia
Klien tidak bersedia dilakukan pemeriksaan genitalia, klien mengatakan tidak ada keluhan dibagian genitalia, tetapi adanya benjolan di anus.

6)      Kulit dan Kuku
Warna kulit pucat, tidak ada lesi maupun edema, warna kuku pucat hampir berwarna putih, bentuk kuku normal, kuku tebal, tekstur kuku lembut, kelembapan kulit kurang, turgor kulit normal, pengisian kapiler / capillary refill lambat yaitu lebih dari 3 detik.

7)      Ekstermitas
a)      Atas
Bentuk kedua tangan simetris, tidak ada kelainan lain, reflek bisep dan trisep klien normal, terbukti saat dilakukan ketukan di lekukan sikut dan di sikut menggunakan reflek hammer adanya gerakan spontan di ujung ekstermitas. Tangan kanan klien terpasanng infus, tingkat kekuatan otot klien 4 dari 5 (cukup kuat tetapi tidak dengan kekuatan penuh dan dapat menahan tahanan)
4
4

b)      Bawah
Bentuk kedua kaki simetris, tidak ada kelainan lain, reflek patella normal terbukti saat dilakukan ketukan di lutut menggunakan reflek hammer adanya gerakan spontan di ujung ekstermitas. Reflek achilles normal terbukti saat dilakukan ketukan dipergelangan kaki dan kemudian adanya gerakan spontan pada kaki. Reflek plantar / babinski normal terbukti saat telapak kaki di sentuh klien merasa geli. Tingkat kekuatan otot kaki klien yaitu 5 dari 5 (kekuatan kontraksi penuh dan dapat menahan tahanan dengan baik)
5
5

6.      Hasil pemeriksaan Laboratorium

No
Jenis Pemeriksaan
Hasil
Nilai

Hematologi


1.
Hemoglobin
4,3 g/dl
Pria : 14 – 18 g/dl
Wanita : 12 – 16 g/dl
2.
Leukosit
2.300 mm3
Dewasa : 4.000 – 10.000 mm3
Bayi : 9.000 – 12.000 mm3
3.
hematokrit
15 %
Pria : 40 – 48 %
Wanita : 37 – 42 %
4.
Trombosit
414.000
150.000 – 450.000 mm3

7.      Terapi Sesuai Advis Dokter

a.       IVFD 2A 20 tpm
b.      Ceftriaxone inj 1 x 2 gr
c.       Ranitidine inj 2 x 1
d.      Asam tranexamat inj 3 x 1
e.       Dramamin 1 – 0 – 1
f.       Protransfusi PRL

B.     Analisa Data

No
Data
Etiologi
Masalah
1.
DS : - Klien mengeluh adanya perdarahan pada saat BAB
DO: - Warna kuku klien sangat pucat hampir berwarna putih
-   Konjungtiva pucat
-   Capillary refill > 3 detik
-   Hb klien 4,3 g/dl
Feses yang keras

pecahnya vena hemoroidalis

perdarahan pada saat BAB/perdarahan di anus
Perdarahan di anus
2.
DS : - Klien mengeluh nyeri dibagian anus
-   Klien mengeluh nyeri pada saat BAB
DO: - Saat dilakukan pemeriksaan anus, ada benjolan di daerah anus
-   Klien tampak meringis menahan nyeri
-   Skala nyeri klien 2 dari 5
Kantung – kantung vena melebar
 


Menonjol ke saluran anus

Terjadi benjolan
 


Nyeri pada saat BAB
Gangguan rasa nyaman : nyeri
3.
DS : - klien mengeluh lemas
-   Klien mengeluh aktivitasnya dibantu
-   Klien mengeluh tidak dapat beraktivitas secara mendiri
DO: - klien tampak lemah
-   Aktivitas klien tampak dibantu
-   Klien tidak dapat beraktivitas secara mandiri
-   Kekuatan otot klien :
·    Ekstremitas atas : kanan 4, kiri 4.
·    Ekstremitas bawah : kanan 5, kiri 5.
Nyeri hemoroid
                
Badan lemas karna kelelahan menahan nyeri
                
Tidak dapat beraktivitas secara mandiri
                
Intoleransi aktivitas
Intoleransi aktivitas
4.
DS : - Klien mengeluh badan terasa lengket
-   Klien mengatakan belum mandi
-   Klien mengeluh merasa tidak nyaman di badan
DO: - Badan klien tercium bau
-   Badan klien tampak kotor
-   Badan klien terasa lengket ketika diraba
Kelemahan fisik
                
Intoleransi aktivitas
                
Pemenuhan personal hygiene tidak terpenuhi
 


Defisit personal hygiene
Defisit personal hygiene

C.     Masalah Keperawatan yang Muncul

1.      Perdarahan di anus berhubungan dengan pecahnya vena hemoroidalis, ditandai dengan :
DS : - Klien mengeluh adanya perdarahan pada saat BAB
DO: - Warna kuku klien sangat pucat hampir berwarna putih
-   Konjungtiva pucat
-   Capillary refill > 3 detik
-   Hb klien 4,3 g/dl
2.      Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan adanya hemoroid, ditandai dengan :
DS : - Klien mengeluh nyeri dibagian anus
-   Klien mengeluh nyeri pada saat BAB
DO: - Saat dilakukan pemeriksaan anus, ada benjolan di daerah anus
-   Klien tampak meringis menahan nyeri
-   Skala nyeri klien 2 dari 5
3.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri karena hemoroid, ditandai dengan :
DS : - Klien mengeluh lemas
-   Klien mengeluh aktivitasnya dibantu
-   Klien mengeluh tidak dapat beraktivitas secara mendiri
DO: - klien tampak lemah
-   Aktivitas klien tampak dibantu
-   Klien tidak dapat beraktivitas secara mandiri
-   Kekuatan otot klien :
·    Ekstremitas atas : kanan 4, kiri 4.
·    Ekstremitas bawah : kanan 5, kiri 5
4.      Defisit personal hygiene berhubungan dengan kelemahan fisik, ditandai dengan :
DS : - Klien mengeluh badan terasa lengket
-   Klien mengatakan belum mandi
-   Klien mengeluh merasa tidak nyaman di badan
DO: - Badan klien tercium bau
-   Badan klien tampak kotor
-   Badan klien terasa lengket ketika diraba


D.    Rencana Tindakan

No
Diagnosa keperawatan
Tujuan
Intervensi
1.
Perdarahan di anus berhubungan dengan pecahnya vena hemoroidalis, ditandai dengan :
DS :
-     Klien mengeluh adanya perdarahan pada saat BAB
DO :
-     Warna kuku klien sangat pucat hampir berwarna putih
-     Konjungtiva pucat
-     Capillary refill > 3 detik
-     Hb klien 4,3 g/dl
Setelah dilakukan perawatan selama 1 x 24 jam, masalah klien dapat teratasi dengan kriteria :
-     Perdarahan pada saat BAB hilang
-     Konjungtiva tidak pucat
-     Warna kuku merah muda / normal
-     Capillary refill normal / < 2 detik
-     Hb 12 – 16 g/dl
-     Monitor banyaknya perdarahan klien
-     Monitor warna dan konsistensi darah
-     Observasi TTV secara rutin
-     Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian vitamin K dan B12 sesuai indikasi
2.
Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan adanya hemoroid, ditandai dengan :
DS :
-   Klien mengeluh nyeri dibagian anus
-   Klien mengeluh nyeri pada saat BAB
DO:          
-     Saat dilakukan pemeriksaan anus, ada benjolan di daerah anus
-   Klien tampak meringis menahan nyeri
-   Skala nyeri klien 2 dari 5
Setelah dilakukan perawatan selama 1 x 24 jam, masalah klien dapat teratasi dengan kriteria :
-     Nyeri di bagian anus hialng / berkurang
-     Nyeri pada saat BAB hilang
-     Perdarahan hilang
-     Bejnolan hilang
-     Klien tidak meringis
-     Skala nyeri 1 bahkan 0
-     Berikan posisi yang nyaman
-     Berikan bantalan di bawah bokong saat duduk
-     Ajarkan teknik untuk mengurangi rasa nyeri seperti relaksasi dan distraksi
-     Observasi tingkatan nyeri
-     Kolaborasi denngan tim medis untuk pemberian analgesik, pelunak feses, dan dilakukannya hemoroidectomi
3.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri karna hemoroid, ditandai dengan :
DS :
-     Klien mengeluh lemas
-     Klien mengeluh aktivitasnya dibantu
-     Klien mengeluh tidak dapat beraktivitas secara mendiri
DO :
-     Klien tampak lemah
-     Aktivitas klien tampak dibantu
-     Klien tidak dapat beraktivitas secara mandiri
-     Kekuatan otot klien :
·    Ekstremitas atas : kanan 4, kiri 4.
·    Ekstremitas bawah : kanan 5, kiri 5
Setelah dilakukan perawatan selama 1 x 24 jam, masalah klien dapat teratasi dengan kriteria :
-     Klien tidak lemas
-     Klien dapat beraktivitas secara mandiri
-     Kekuatan otot klien maksimal
-     Kaji tingkat aktvitas klien
-     Bantu klien dalam melakukan aktivitas sehari – hari
-     Mandirikan klien dalam melakukan aktivitas sehari – hari
-     Berikan motivasi kepada klien utuk bisa melakukan aktivitas secara mandiri
4.
Defisit personal hygiene berhubungan dengan kelemahan fisik, ditandai dengan :
DS :
-   Klien mengeluh badan terasa lengket
-   Klien mengatakan belum mandi
-   Klien mengeluh merasa tidak nyaman di badan
DO :
-   Badan klien tercium bau
-   Badan klien tampak kotor
-   Badan klien terasa lengket ketika diraba
Setelah dilakukan perawatan selama 1 x 24 jam, masalah klien dapat teratasi dengan kriteria :
-     Badan klien tercium harum
-     Badan klien bersih
-     Badan klien tidak lengket
-     Mandikan klien

E.     Prosedur Tindakan

No
Diagnosa
Implementasi
1.
Perdarahan di anus berhubungan dengan pecahnya vena hemoroidalis, ditandai dengan :
DS :
-     Klien mengeluh adanya perdarahan pada saat BAB
DO :
-     Warna kuku klien sangat pucat hampir berwarna putih
-     Konjungtiva pucat
-     Capillary refill > 3 detik
-     Hb klien 4,3 g/dl
23 – 10 – 2014    07.00 WIB
-     Memonitor banyaknya perdarahan klien
-     Memonitor warna dan konsistensi darah
-     Mengobservasi TTV secara rutin
-     Berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian vitamin K dan B12 sesuai indikasi
2.
Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan adanya hemoroid, ditandai dengan :
DS :
-   Klien mengeluh nyeri dibagian anus
-   Klien mengeluh nyeri pada saat BAB
DO:
-     Saat dilakukan pemeriksaan anus, ada benjolan di daerah anus
-   Klien tampak meringis menahan nyeri
-   Skala nyeri klien 2 dari 5
23 – 10 – 2014    07.00 WIB
-     Memberikan posisi yang nyaman
-     Memberikan bantalan di bawah bokong saat duduk
-     Mengajarkan teknik untuk mengurangi rasa nyeri seperti relaksasi dan distraksi
-     Mengobservasi tingkatan nyeri
-     Berkolaborasi denngan tim medis untuk pemberian analgesik, pelunak feses, dan dilakukannya hemoroidectomi
3.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri karna hemoroid, ditandai dengan :
DS :
-     Klien mengeluh aktivitasnya dibantu
-     Klien mengeluh tidak dapat beraktivitas secara mendiri
DO:
-     Aktivitas klien tampak dibantu
-     Klien tidak dapat beraktivitas secara mandiri
23 – 10 – 2014    07.00 WIB
-     Mengkaji tingkat aktvitas klien
-     Membantu klien dalam melakukan aktivitas sehari – hari
-     Memandirikan klien dalam melakukan aktivitas sehari – hari
-     Memberikan motivasi kepada klien utuk bisa melakukan aktivitas secara mandiri
4.
Defisit personal hygiene berhubungan dengan kelemahan fisik, ditandai dengan :
DS :
-   Klien mengeluh badan terasa lengket
-   Klien mengatakan belum mandi
-   Klien mengeluh merasa tidak nyaman di badan
DO :
-   Badan klien tercium bau
-   Badan klien tampak kotor
-   Badan klien terasa lengket ketika diraba
23 – 10 – 2014    07.30 WIB
-     Memandikan klien

F.      Evaluasi

No
Diagnosa Keperawatan
Evaluasi
1.
Perdarahan di anus berhubungan dengan pecahnya vena hemoroidalis, ditandai dengan :
DS :
-     Klien mengeluh adanya perdarahan pada saat BAB
DO :
-     Warna kuku klien sangat pucat hampir berwarna putih
-     Konjungtiva pucat
-     Capillary refill > 3 detik
-     Hb klien 4,3 g/dl
24 – 10 – 2014      07.00 WIB
S : Klien mengatakan perdarahan masih ada
O : Konjungtiva dan kuku masih pucat
A : masalah belum teratasi
P : lanjutkan intervensi
2.
Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan adanya hemoroid, ditandai dengan :
DS :
-   Klien mengeluh nyeri dibagian anus
-   Klien mengeluh nyeri pada saat BAB
DO:
-     Saat dilakukan pemeriksaan anus, ada benjolan di daerah anus
-   Klien tampak meringis menahan nyeri
-   Skala nyeri klien 2 dari 5
24 – 10 – 2014      07.00 WIB
S : Klien mengatakan BAB masih terasa nyeri, nyeri di anus masih ada
O : Benjolan di anus masih ada
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
3.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri karna hemoroid, ditandai dengan :
DS :
-     Klien mengeluh aktivitasnya dibantu
-     Klien mengeluh tidak dapat beraktivitas secara mendiri
DO:
-     Aktivitas klien tampak dibantu
-     Klien tidak dapat beraktivitas secara mandiri
24 – 10 – 2014      07.00 WIB
S : Klien mengatakn masih lemah
O : Aktivitas klien masih dibantu
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
4.
Defisit personal hygiene berhubungan dengan kelemahan fisik, ditandai dengan :
DS :
-   Klien mengeluh badan terasa lengket
-   Klien mengatakan belum mandi
-   Klien mengeluh merasa tidak nyaman di badan
DO :
-   Badan klien tercium bau
-   Badan klien tampak kotor
-   Badan klien terasa lengket ketika diraba
23 – 10 – 2014      08.10 WIB
S : Klien mengatakan merasa nyaman
O : Badan klien tercium harum dan tampak bersih
A : Masalah teratasi
P : Intervensi selesai



BAB IV

PEMBAHASAN



Dalam pembahasan mengenai Asuhan Keperawatan pada Ny. S dengan Diagnosa Medis : Hemoroid di Ruangan Perawatan Umum kelas II/B RSI Hj. Siti Muniroh Tasikmalaya pada tanggal 23 – 10 – 2014 melalui pendekatan studi kasus didapatkan kesenjangan teori dan kenyataan praktek di lapangan, pembahasan dilakukan melalui langkah – langkah keperawatan seperti :

A.    Pengkajian

Tahap pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan yang menggunakan teknik wawancara, observasi, studi kepustakaan atau catatan perawat dan pemeriksaan fisik. Penulis mendapatkan data yang diperlukan dengan baik karena adanya kerja sama yang baik dari klien, keluarga klien, dan perawat ruangan sehingga memudahkan dalam pengumpulan data.
Penulis dapat melakukan pengkajian pada klien dengan gangguan penyakit hemoroid yang dapat meliputi kumpulan data, analisa data, dan penegakan diagnosa keperawatan.
Pada waktu pengkajian, penulis melakukan pemeriksaan head to toe bukan pemeriksaan persistem. Pada saat pengkajian riwayat kesehatan, peran klien lebih dominan dibanding dengan peran keluarga klien. Peran klien sangat aktif dan kooperatif dalam memberikan berbagai informasi yang dibutuhkan untuk menengakkan diagnosa. Disamping itu penulis mendapatkan berbagai dukungan baik dari perawat ruangan, dokter, maupun petugas kesehatan lainnya yang bekerja di ruangan perawatan umum.

B.     Diagnosa Keperawatan

Dalam diagnosa keperawatan, penulis menemukan kesenjangan antara diagnosa yang terdapat dalam teori dan diagnosa yang ada pada kenyataannya.
Dalam teori terdapat lima diagnosa yang mungkin muncul, yaitu :
1.      Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan adanya hemoroid.
2.      Perdarahan di anus berhubungan dengan pecahnya vena hemoroidalis.
3.      Konstipasi berhubungan dengan nyeri karna ada benjolan di anus.
4.      Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan pada rektal.
5.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri karna hemoroid.
Tetapi pada kenyatannya hanya ada empat diagnosa yang muncul, yaitu :
1.      Perdarahan di anus berhubungan dengan pecahnya vena hemoroidalis.
2.      Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan adanya hemoroid.
3.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri karna hemoroid.
4.      Defisit personal hygiene berhubungan dengan kelemahan fisik.
Terdapat tiga diagnosa yang berbeda, yaitu dua diagnosa yang terdapat pada teori dan satu diagnosa yang terdapat pada kenyataannya.
1.      Konstipasi berhubungan dengan nyeri karena ada benjolan di anus.
2.      Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan pada rektal.
3.      Defisit personal hygiene berhubungan dengan kelemahan fisik.
Dua masalah yang terdapat pada teori tersebut tidak ditemukan pada klien dikarenakan pada kenyataannya klien dapat BAB secara normal tanpa rasa takut dan pada klien tidak ditemukan tanda – tanda infeksi seperti rubor, kalor, dolor, tumor ataupun kenaikan suhu tubuh klien.

C.     Perencanaan

Penyusun dapat menyusun rencana tindakan keperawatan sesuai dengan diagnosa keperawatan yang muncul, kesediaan dan kemampuan klien, situasi dan kondisi didukung oleh sikap keluarga dan klien yang aktif dan kooperatif. Perencanaan yang sehat berdasarkan teori yang diperoleh dari beberapa literature yang mendukung.
Penulis merencanakan tindakan untuk menanggulangi masalah – masalah tersebut pada klien. Dalam kenyataannya tidak seluruh rencana dilaksanakan sesuai teori. Hal ini disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang dapat memungkinkan berhasilnya tindakan perawatan yang diberikan.

D.    Implementasi

Setelah perencanaan, penulis mengacu pada tahap implementasi. Pada tahap ini, penulis hanya memaparkan implementasi yang tindakan keperawatannya penulis lakukan dan melaksanakan asuhan keperawatan sesuai dengan perencanaan yang telah di susun sebelumnya.
Tindakan keperawatan dilaksanakan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan dengan melibatkan kerja sama klien, keluarga dan tim medis lain. Pada pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien penulis hanya melaksanakan tindakan keperawatan selama dua hari ( pada tanggal 23 – 24 oktober 2014 ) dikarenakan kondisi yang tidak memungkinkan dan klien pulang paksa.
Banyak faktor yang mendukung terlaksananya tindakan keperawatan sesuai dengan perencanaan, diantaranya peran keluarga yang mendukung, tersedianya alat – alat serta adanya bimbingan dari perawat, bimbingan akademik, serta adanya peran dokter yang menentukan diagnosa menurut medis.

E.     Evaluasi

Tahap ini adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang berguna untuk menilai perkembangan klien setelah dilakukan asuhan keperawatan selama satu hari. Evaluasi dilaksanakan secara langsung melalui observasi atau catatan keperawatan yang ada. Karena keterbatasan penulis dalam mengevaluasi asuhan keperawatan maka dari itu penulis menanyakan kepada keluarga klien dan perawat ruangan sehingga perkembangan klien dapat diketahui.
Penulis tidak mendapatkan banyak kesulitan saat melakukan evaluasi pada klien karena diagnosa yang diangkat oleh penulis tidak jauh berbeda dengan landasan teori yang penulis dapatkan.
Dalam kasus ini setelah dilakukan evaluasi ternyata ada masalah yang belum teratasi. Masalah – masalah lain yang belum teratasi dalam diagnosa adalah sebagai berikut :
1.      Perdarahan di anus berhubungan dengan pecahnya vena hemoroidalis.
2.      Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan adanya hemoroid.
3.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri karna hemoroid.
Masalah – masalah tersebut belum teratasi karena adanya satu hal yang belum disetujui oleh klien yaitu pengangkatan benjolan di daerah anus.



BAB V

PENUTUP



A.    Kesimpulan

Dari berbagai definisi yang dikemukakan dalam bab II, penulis menyimpulkan bahwa hemoroid adalah suatu benjolan yang tidak wajar yang terdapat di daerah anus yang dapat menyebabkan nyeri pada saat BAB.
Gejala utama hemoroid adalah perdarahan melaui anus yang berupa darah segar tanpa rasa nyeri dan prolaps yang berasal dari tonjolan hemoroid sesuai gradasinya.
Kasus hemoroid pada Ny. S dengan keluhan utama yaitu BAB bercampur / dilumuti darah.
Diagnosa yang muncul adalah sebagai berikut :
1.      Perdarahan di anus berhubungan dengan pecahnya vena hemoroidalis.
2.      Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan adanya hemoroid.
3.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri karena hemoroid.
4.      Defisit personal hygiene berhubungan dengan kelemahan fisik.

B.     Saran

1.      Untuk Klien dan Keluarga
Diharapkan klien dapat memotivasi dirinya sendiri dan mengubah pola hidup yang lebih sehat agar terhindar dari komplikasi penyakit hemoroid.
Diharapkan keluarga klien dapat respon yang positif bagi klien demi peningkatan status kesehatan klien dan diharapkan keluarga klien waspada terhadap resiko pada keluarga klien sendiri.
2.      Untuk Siswa / siswi SMK Bhakti Kencana Ciawi
Diharapkan siswa / siswi dapat lebih mempersiapkan diri baik dari segi materi, skill, maupun mental dalam menghadapi klien agar dapat memberikan kontribusi yang maksimal bagi peningkatan status klien. Dan siswa / siswi diharapkan dapat memberikan asuhan keperawatan yangkomprehensif bagi klien dengan melihat aspek bio-psiko-spiritual.
3.      Untuk Masyarakat
Kesehatan adalah harta yang paling penting dalam kehidupan kita, selayaknya kita menjaga kesehatan dari kerusakan penyakit. Maka dari itu kita harus tahu pencegahan tanda dan gejala dari berbagai penyakit.



DAFTAR PUSTAKA


Askanda, Sumitro. 1989, Ringkasan Ilmu Bedah. Jakarta : PT. Bina Aksara

Dongoes Moorhouse Geissle, 2001. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta : EGC

Price, Sylvia Anderson. 1989. Patofisiologi Edisi 4. Jakarta : EGC

Schrock, Theodore R. 1991. Ilmu Bedah. Jakarta : EGC


No comments:

Post a Comment