Askep - Asuhan Keperawatan Waham Kebesaran

Asuhan Keperawatan Waham Kebesaran

Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas yang salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar belakang budaya klien. Penyebab secara umum dari waham adalah gannguan konsep diri : harga diri rendah. Harga diri rendah dimanifestasikan dengan perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan.

ASKEP | Asuhan Keperawatan Hemoroid


askep Asuhan Keperawatan Hemoroid



ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.S
DENGAN DIAGNOSA MEDIS : HEMOROID
DI RUANGAN PERAWATAN UMUM KELAS II – B
RSI HJ.SITI MUNIROH TASIKMALAYA

ASKEP | Asuhan Keperawatan Hipertensi

asuhan-keperawatan-hipertensi


Contoh Askep 1

Asuhan Keperawatan (Askep) Hipertensi


A. Konsep Dasar Teori

1. Pengertian
Sampai saat ini masih belum ada defenisi yang tepat mengenai hipertensi karena tidak ada batas yang tegas yang membedakan antara hipertensi dan normotensi. Secara teoritis hipertensi didefenisikan sebagai suatu tingkat tekanan darah tertentu.
Definisi hipertensi menurut Mansjoer. A. adalah tekanan darah sistolik ³ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik ³ 90 mmHg, atau bila pasien memakai obat anti hipertensi.
Hipertensi didefinisikan oleh Joint National Committee on Detection, Evaluation and Treatment of High Blood pressure (JNC) sebagai tekanan yang lebih tinggi dari 140/90 mmHg dan diklasifikasikan sesuai derajat keparahannya, mempunyai rentang dari tekanan darah (TD) normal tinggi sampai hipertensi maligna. Keadaan ini dikategorikan sebagai primer/esensial (hampir 90% dari semua kasus) atau sekunder, terjadi sebagai akibat dari kondisi patologi yang dapat dikenali, seringkali dapat diperbaiki.
Klasifikasi menurut WHO/ISH
Klasifikasi
Sistolik (mmHg)
Diastolik (mmHg)
Normotensi
Hipertensi ringan
Hipertensi perbatasan
Hipertensi sedang dan berat
Hipertensi sistolik terisolasi
Hipertensi sistolik perbatasan
< 140
140-180
140-160
> 180
> 140
140-160
< 90
90-105
90-95
> 105
< 90
< 100
2. Etiologi
Berdasarkan etiologinya hipertensi dibagi menjadi dua golongan yaitu:
a. Hipertensi esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya, disebut juga hipertensi idiopatik. Terdapat sekitar 95% kasus. Banyak faktor yang mempengaruhinya seperti genetik, lingkungan, hiperaktivitas susunan saraf simpatis, sistem renin –  angiotensin, defek dalam ekskresi Na, peningkatan Na dan Ca interselular, dan faktor – faktor yang meningkatkan risiko, seperti obesitas, alkohol, merokok, serta polisitemia.
b.      Hipertensi sekunder atau hipertensi renal. Terdapat sekitar 5% kasus. Penyebab spesifiknya diketahui seperti penggunaan estrogen, penyakit ginjal, hipertensi vaskular renal, hiperaldosteronisme primer, dan sindrom Cushing, feokromositoma, koarktasio aorta, hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan, dan lain–lain. (Mansjoer,A,1999).
3. Patofisiologi
Tekanan darah =   Curah Jantung             x          Tahanan perifer



4. Tanda dan Gejala
Peninggian tekanan darah kadang – kadang merupakan satu – satunya gejala. Bila demikian, gejala baru akan muncul setelah terjadi komplikasi pada ginjal, mata, otak, atau jantung. Gejala lain yang sering ditemukan adalah sakit kepala, epistaksis, marah, telinga berdenging, rasa berat ditengkuk, sukar tidur, mata berkunang – kunang dan pusing.

5. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium rutin yang dilakukan sebelum memulai terapi bertujuan menentukan adanya kerusakan organ atau faktor resiko lain atau mencari penyebab hipertensi. Biasanya diperiksa urinalisa, darah lengkap, kimia darah (kalium, Natrium, gula darah puasa, kolesterol total, kolesterol HDL) dan EKG
Sebagai tambahan dapat dilakukan pemeriksaan lain seperti klirens kreatinin, protein, urine 24 jam, asam urat, kolesterol LDL, TSH dan Echokardiografi.

6. Penatalaksanaan
a.       Tujuan Pengobatan Hipertensi
1)      Menurunkan tekanan darah sampai normal atau mendekati normal, tanpa menggangu aktivitas sehari-hari. Dengan demikian dapat komplikasi dan menurunkan morbiditas dan mortalitas.
2)      Prevansi terhadap peninggian tekanan darah dan “heat rate” secara akut selama “exercise” dan stress.
b.      Obat-obat Anti Hipertensi
1)      Diuretik
a)      Kemanjuran maksimal rendah.
Indapamid (Lozol), Ftalimidin, Tiazid.
b)      Kemanjuran maksimal tinggi
Bumetanid (Bumex), Asam Etakrinat (Edeerin), Furosemid (Lasix).
c)      Hemat Kalium.
Amilorid (Midomir), Spironolakton (Aldaetone), Trianteren (Dyrenium).
2)      Obat Simpatolitik
a)      Bekerja pada SPP
Klonidin (Catapres), Guanabenz (Wytensin), Metildopa (Aldomet).
b)      Bekerja pada gonglion otonom
Trimetafan (Arfonad).
c)      Bekerja pada neuron simpatis pasca ganglion
Guanadrel (Hylorel), Guanetidin (Isenelin), Penghambat monoamin oksidase, Reserpin.
d)     Penghambat reseptor
(1)   Adrenoreseptor Alfa Bloker
Fenoksibenzamin (Dibenzyline), Fentolamin (Reqitinin), Prazosin (Minipres).
(2)   Adrenoreseptor Beta Bloker
Atenol (Tenormin), Labetol (Normodyne, Trandate), Metoprolol (Lopressor), Nadolol (Corgard), Pindolol (Visken), Propanolol (Inderal), Timolol (Blocadren).
(3)   Vasodilator
Diazoksid (Hyperstat), Diltiazem (Cardizem), Hydralazin (Apresoline), Minoksidil (Lomitmen), Nifedipin (Adelat, Procardia), Verapamil (Calan, Isoptin).
(4)   Penghambat sistem renin angiostenin
Captopril (Capoten), Enalapril (Vasotec), Saralisin (Sarenin).
c.       Diit Hipertensi/Diit Rendah Garam
Hipertensi dapat dikendalikan dengan Diit rendah Garam. Diit Rendah Garam merupakan diit dengan pembatasan konsumsi garam untuk membantu menghilangkan retensi garam/air dalam jaringan tubuh dan menurunkan Tekanan Darah pada Hipertensi.
1)      Syarat-syarat Diit Rendah Garam
a)      Cukup kalori, mineral dan vitamin
b)      Bentuk makanan disesuaikan dengan keadaan penyakit
c)      Jumlah natrium yang diperoleh disesuaikan dengan berat tidaknya retensi garam/air dan/atau Hipertensi.
2)      Macam Diit Rendah Garam
Jika ditinjau dari jumlah natrium yang perlu dikonsumsi, Diit Rendah Garam dibagi menjadi 3 yaitu :
a)      Diit Rendah Garam I (DRG I) mengandung natrium 200-400 mg.
b)      Diit Rendah Garam II (DRG II) mengandung natrium 600-800 mg.
c)      Diit Rendah Garam III (DRG III) mengandung natrium 1000-1200 mg.
Ad. a) DRG I
Dalam pemasakan tidak ditambahkan garam dapur. Bahan makanan tinggi natrium dihindarkan. Makanan diberikan kepada penderita dengan Oedema, Acites dan/atau Hipertensi Berat.
Ad. b) DRG II
Pemberian makanan sama dengan DRG I. dalam pemasakan makanan diperbolehkan menggunakan ¼ sendok teh garam dapur (1 gr). Bahan makanan tinggi natrium dihindarkan. Makanan ini diberikan kepada penderita dengan Oedema, Ascites dan/atau Hipertensi sedang
Ad. c) DRG III
Pemberian makanan sama dengan DRG I. Dalam pemasakan boleh diberi garam dapur ½ sendok teh (2 gr). Makanan ini diberikan kepada penderita dengan edema, dan/atau Hipertensi Ringan.

7. Komplikasi
Penyakit hipertensi bila tidak dikontrol secara teratur akan berlanjut kearah penyakit yang mematikan seperti :
a.        Penyakit jantung
b.       Cedera serebrovaskular pada otak
c.        Gagal ginjal
d.       Kerusakan optik retina

B.     Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian
Pengkajian adalah dasar utama dari proses keperawatan. Pengkajian adalah langkah awal dalam salah satu proses keperawatan (Gaffar, 1999) Kegiatan yang dilaksanakan dalam pengkajian adalah pengumpulan data dan merumuskan prioritas masalah. Pada pengkajian – pengumpulan data yang cermat tentang klien, keluarga, didapatkan data melalui wawancara, observasi dan pemeriksaan.
Tujuan dari pengkajian keperawatan adalah mengumpulkan data, mengelompokkan data dan menganalisa data. Sehingga disimpulkan menjadi diagnosa keperawatan (Gaffar, 1999).
Dasar data pengkajian klien menurut Doenges (2000) :
a.       Aktivitas/istirahat
Gejala          :   kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton.
Tanda          :   frekuensi jantung meningkat, perubahan irama jantung.
b.      Sirkulasi
Gejala          :   riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/katup dan panyakit serebrovaskular. Episode palpitasi, perspirasi.
Tanda          :   kenaikan tekanan darah, hipotensi postural, takikardi, pengisian kapiler lambat, pucat, sianosis, diaforesis, dan kemerahan (feokromositoma).   
c.       Integritas Ego
Gejala          :   ansietas, marah.
Tanda          :   gerak tangan empati, peningkatan pola bicara.
d.      Eliminasi
Gejala          :   gangguan ginjal saat ini atau yang lalu.
e.       Makanan/Cairan
Gejala          :   makanan yang disukai, yang mencakup makanan tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol, mual, muntah, perubahan berat badan (meningkat/menurun).
f.       Neurosensori
Gejala          :   keluhan pening/pusing, berdenyut, sakit kepala suboksipital.
episode kebas dan/atau kelemahan pada satu sisi, gangguan penglihatan.
Tanda          :   status mental: perubahan keterjagaan, orientasi, pola/isi bicara, afek, proses pikir, atau memori (ingatan).
g.      Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala          :   angina, sakit kepala oksipital berat seperti pernah terjadi sebelumnya.
h.      Pernafasan
Gejala          :   dispnea, takipnea, riwayat merokok, batuk dengan/tanpa sputum.
Tanda          :   distress respirasi, bunyi nafas tambahan, sianosis.
i.        Keamanan
Gejala          :  gangguan koordinasi/cara berjalan, hipotensi postural.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan dibagi sesuai dengan masalah kesehatan klien yaitu :
a.        Aktual, diagnosa keperawatan yang menjelaskan masalah nyata saat ini sesuai dengan data klinik yang ditemukan.
b.       Potensial, diagnosa keperawatan yang menjelaskan bahwa masalah kesehatan yang nyata akan terjadi jika tidak dilakukan intervensi keperawatan. Saat ini masalah belum ada tapi etiologi sudah ada.
c.        Kemungkinan, diagnosa keperawatan yang mejelaskan bahwa perlu data tambahan untuk memastikan tambahan masalah. Pada keadaan ini masalah dan faktor pendukung belum ada tapi sudah ada faktor yang menimbulkan masalah.
Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul pada klien dengan hipertensi, menurut Doenges (2000), yaitu :
a.        Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan Peningkatan afterload, vasokonstriksi dan Iskemia miokardia.
b.       Intoleran aktivitas berhubungan dengan Kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
c.        Nyeri (sakit kepala) berhubungan dengan Peningkatan tekanan vaskular serebral.
d.       Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan yang berlebihan, pola hidup monoton, keyakinan budaya.
e.        Koping individu inefektif berhubungan dengan Krisis situasional/maturasional, sistem pendukung tidak adekuat, metode koping tidak efektif.
f.        Kurang pengetahuan mengenai kondisi, rencana pengobatan berhubungan dengan Kurang pengetahuan/daya ingat, mis interpretasi informasi, keterbatasan kognitif.

3. Perencanaan
Setelah merumuskan diagnosa keperawatan, maka disusunlah perencanaan keperawatan. Perencanaan adalah tahap ketiga dari proses keperawatan, yang dimulai setelah data-data terkumpul sudah dianalisa. Pada bagian ini ditentukan sasaran yang akan tercapai dan rencana tindakan keperawatan dikembangkan.
Tahapan dari perencanaan ini terdiri dari :
a.     Menetapkan prioritas masalah berdasarkan pola kebutuhan dasar manusia menurut hirarki Maslow
b.       Merumuskan tujuan keperawatan yang dicapai
c.       Menetapkan kriteria evaluasi
d.      Merumuskan intervensi keperawatan dan aktifitas keperawatan
Tujuan yang ditetapkan harus nyata, dapat diukur dan mempunyai batasan waktu pencapaian.
Yang dimaksud dengan tujuan jangka pendek adalah tujuan yang biasanya harus dicapai sebelum pemulangan atau perpindahan pasien ke tingkat perawatan yang kurang akut dan tujuan ini biasanya mengarah kepada penyebab masalah pasien. Sedangkan tujuan jangka panjang mengidentifikasi arah keseluruhan atau hasil akhir perawatan dan mungkin sangat baik mengarah pada masalah pasien (Donges, Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa Keperawatan, 1998).
Perencanaan dengan berpedoman pada SMART yaitu : Spesifik (khusus dilakukan pada pasien den keluarga lainnya), Measurable (dapat diukur), Achievable (dapat dicapai), Reasonable (nyata) dan Time ( menggunakan batas waktu dalam pencapaiannya)..
1.      Diagnosa keperawatan  I
Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan Peningkatan afterload, vasokonstriksi dan Iskemia miokardia, hipertropi/rigiditas (kekakuan) ventrikular.
Hasil yang diharapkan/kriteria hasil :
a.    Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan tekanan darah/beban kerja jantung
b.   Mempertahankan tekanan darah dalam rentang individu yang dapat diterima
c.    Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil dalam rentang normal pasien.
Intervensi :
1)      Pantau tekanan darah, ukur  pada kedua tangan/paha untuk evaluasi awal. Gunakan ukuran manset yang tepat dan tehnik yang akurat
Rasional               :    Perbandingan  dari tekanan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keterlibatan/bidang masalah vaskular.
2)      Catat keberadaan, kualitas denyutan, sentral dan perifer
Rasional               :    Denyutan karotis,jugularis, radialis dan femoralis mungkin teramati/terpalpasi.
3)      Auskultasi tonus jantung dan bunyi nafas
Rasional               :    S4 umum terdengar pada pasien hipertensi berat karena adanya hipertrofi atrium(peningkatan volume/tekanan atrium).
4)      Amati warna kulit, kelemahan suhu, dan masa pengisian kapiler
Rasional               :    Adanya pucat, dingin, kulit lembab dan masa pengisian kapiler lambat mungkin berkaitan dengan vasokontriksi atau mencerminkan dekompensasi/penurunan curah jantung.
5)      Catat odema umum/tertentu.
Rasional               :    Dapat mengindikasikan gagal jantung, kerusakan ginjal atau vaskular.
6)      Berikan lingkungan yang tenang, nyaman, kurangi aktivitas/keributan lingkungan, batasi jumlah pengunjung.
Rasional               :    Membantu untuk menurunkan rangsangan simpatis; meningkatkan relaksasi.
7)      Pertahankan pembatasan aktivitas
Rasional               :    menurunkan strees dan ketegangan yang mempengaruhi tekanan darah dan prjalanan penyakit hipertensi.
8)      Lakukan tindakan-tindakan yang nyaman seperti pijatan punggung, leher, meninggikan kepala tempat tidur.
Rasional               :    mengurangi ketidaknyamanan dan dapatkan menurunkan rangsangan simpatis.
9)      Anjurkan teknik relaksasi, panduan imajinasi, aktivitas pengalihan.
Rasional               :    Dapat meurunkan rangsangan yang menimbulkan stres, membuat efek tenang, sehingga akan menurunkan tekanan darah.
2.     Diagnosa  Keperawatan :II
Intoleran aktivitas berhubungan dengan Kelemahan umum, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
Hasil yang diharapkan/kriteria hasil :
a.       Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan
b.      Melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur.
c.       Menunjukkan penurunan dalam tanda-tanda intoleransi aktivitas.
Intervensi :
1)      Kaji respon pasien terhadap aktivitas, perhatikan frekuensi nadi lebih dari 20x/menit diatas frekuensi istirahat. Peningkatan tekanan darah yang nyata selama/sesudah aktivitas.
Selidiki adanya dispnea atau nyeri dada, keletihan dan kelemahan yang berlebihan, diaforesis, pusing atau pingsan.
Rasional               :    Menyebutkan parameter membantu dalam mengkaji respons fisiologis terhadap stres aktivitas dan, bila ada merupakan indikator dari kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktivitas
2)      Ajarkan teknik penghematan energi.
Rasional               :    Tehnik penghematan energi mengurangi penggunaan energi, juga membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
3)      Beri dorongan untuk melakukan aktivitas/perawatan diri secara bertahap yang dapat ditoleransi.
Rasional               :    Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan kerja jantung tiba – tiba. Memberikan bantuan hanya sebatas kebutuhan dan mendorong kemandirian dalam melakukan aktivitas.
3.     Diagnosa III
Nyeri (sakit kepala) berhubungan dengan Peningkatan tekanan vaskular serebral.
Hasil yang diharapkan/kriteria hasil :
a)      Melaporkan nyeri/ketidaknyamanan hilang/terkontrol
b)      Mengungkapkan metode yang memberikan pengurangan
c)      Mengikuti regimen farmakologi yang diresepkan.
Intervensi :
1)       Pertahankan tirah baring selama fase akut
Rasional               :    Meminimalkan stimulasi/meningkatkan relaksasi.
2)       Berikan tindakan non farmakologis untuk menghilangkan nyeri kepala
Rasional               :    Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serebral dan yang memperlambat/memblok respons simpatis efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya.
3)       Hilangkan/minimalkan aktivitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala.
Rasional               :    Aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan sakit kepala, pasien juga dapat mengalami episode hipotensi postural.
4)       Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan
Rasional               :    Pusing dan penglihatan kabur sering berhubungan dengan episode hipotensi postural.
5)       Berikan makanan lunak, cairan dan perawatan mulut
Rasional               :    Meningkatkan kenyamanan umum.
6)       Bila terjadi perdarahan hidung kompres hidung
Rasional               :    Kompres hidung dapat mengganggu menelan atau membutuhkan nafas dengan mulut, menimbulkan stagnasi sekresi oral dan mengeringkan membran mukosa.
7)       Kolaborasi obat-obatan sesuai indikasi : analgesik, antiansietas.
Rasional               :    Menurunkankan/mengontrol nyeri, mengurangi ketegangan dan ketidak nyamanan yang diperberat stres.
4.     Diagnosa IV
Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan masukan yang berlebihan, pola hidup monoton, keyakinan budaya.
Hasil yang diharapkan/kriteria hasil :
a)      Mengidentifikasi hubungan antara hipertensi dengan kegemukan
b)      Menunjukkan perubahan pola makan
c)      Melakukan/mempertahankan program olahraga
Intervensi :
1)       Kaji pemahaman klien tentang hubungan langsung antara hipertensi dan kegemukan.
Rasional               :    Kegemukan adalah resiko tambahan pada hipertensikarena disproporsi antara kapasitas aorta dan peningkatan curah jantung berkaitan dengan peningkatan massa tubuh.
2)       Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori, lemak dan garam.
Rasional               :    Kesalahan kebiasaan makan menunjang terjadinya arterosklerosis dan kegemukan yang merupakan predisposisi dari hipertensi dan komplikasinya, misal : stroke penyakit ginjal, gagal jantung.
3)       Tetapkan keinginan pasien menurunkan berat badan.
Rasional               :    Motivasi untuk menurunkan berat badan adalah internal.
4)       Kaji ulang masukan kalori harian dari pilihan diet.
Rasional               :    Mengidentifikasi kekuatan/kelemahan dalam program diit terakhir.
5)       Tetapkan rencana penurunan berat badan yang realistis.
Rasional               :    Penurunan masukan kalori seseorang sebanyak 500 kalori per hari secara teori dapat menurunkan berat badan 0,5 kg/minggu.
6)       Dorong pasien untuk mempertahankan masukan makanan harian.
Rasional               :    Memberikan data  dasar tentang keadekuatan nutrisi yang dimakan, dan kondisi emosi saat makan.
7)       Ajarkan untuk memilih makanan yang tepat
Rasional               :    Menghindari makanan yang tinggi lemak jenuh dan kolesterol penting dalam mencegah perkembangan aterogenesis..
8)       Kolaborasi dengan ahli gizi.
Rasional               :    Memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diit individu.
5.     Diagnosa V
Koping individu inefektif berhubungan dengan Krisis situasional/maturasional, sistem pendukung tidak adekuat, metode koping tidak efektif.
Hasil yang diharapkan/kriteria hasil :
a)      Mengidentifikasi perilaku koping efektif dan konsekuensinya.
b)      Menyatakan kesadaran kemampuan koping/kekuatan pribadi.
c)      Mengidentifikasi situasi stress dan mengambil langkah untuk menghindari.
d)     Mendemonstrasikan keterampilan metode koping efektif.
Intervensi :
1)       Kaji keefektifan strategi koping.
Rasional               :    Mekanisme adaftif perlu untuk mengubah pola hidup seseorang , menghindari hipertensi kronis, mengintegrasikan terapi yang diharuskan kedalam kehidupan sehari – hari.
2)       Catat laporan gangguan tidur, peningkatan keletihan, konsentrasi, peka rangsangan, toleransi sakit kepala.
Rasional               :    Manifestasi mekanisme koping maladaftif mungkin merupakan indikator, marah yang ditekan dan diketahui telah menjadi penentu tekanan darah diastolik.
3)       Bantu pasien mengidentifikasi stressor.
Rasional               :    Pengenalan terhadap stressor adalah langkah pertama dalam mengubah respons seseorang terhadap stressor.
4)       Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan.
Rasinal                 :    Keterlibatan memberikan  pasien perasaan kontrol diri yang berkelanjutan, memperbaiki keterampilan koping, dan dapat meningkatkan kerja sama dalam regimen terapiutik.
5)       Dorong pasien untuk mengevaluasi prioritas/tujuan hidup.
Rasional               :    Fokus realitas pasien pada situasi yang ada relatif terhadap pandangan pasien tentang apa yang diinginkan.
6)       Bantu pasien untuk mengidentifikasi dan mulai merencanakan perubahan hidup.
Rasional               :    Perubahan yang perlu harus diprioritaskan secara realistik untuk menghindari rasa tidak menentu dan tidak berdaya.
6.     Diagnosa VI
Kurang pengetahuan mengenai kondisi, rencana pengobatan berhubungan dengan Kurang pengetahuan/daya ingat, misinterpretasi informasi, keterbatasan kognitif.
Hasil yang diharapkan/kriteria hasil :
a)      Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit
b)      Mengidentifikasi efek samping obat dan kemungkinan komplikasi yang perlu diperhatikan.
c)      Mempertahankan tekanan darah dalam parameter normal.
Intervensi :
1)       Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar
Rasional               :    Kesalahan konsep dan menyangkal diagnosa karena perasaan sejahtera yang sudah lama dinikmati mempengaruhi minat pasien/orang terdekat untuk mempelajari penyakit, kemajuan,  dan prognosis.
2)       Tetapkan dan nyatakan batas tekanan darah normal
Rasional               :    Memberikan dasar untuk pemahaman tentang peningkatan tekanan darah dan mengklarifikasikan istilah medis yang sering digunakan.
3)       Hindari mengatakan “tekanan darah normal” gunakan istilah “terkontrol dengan baik”.
Rasional               :    Karena pengobatan hipertensi adalah sepanjang kehidupan, maka ide penyampaian ide “terkontrol” akan membantu pasien untuk memahami kebutuhan untuk melanjutkan pengobatan/medikasi.
4)       Bantu pasien dalam mengidentifikasi faktor resiko kardiovaskuler yang dapat dirubah, misalnya : obesitas, rokok dan alkohol, pola hidup penuh stress.
Rasional               :    Faktor – faktor risiko ini telah menunjukkan hubungan dalam menunjang hipertensi dan penyakit kardiovaskuler dan ginjal.
5)       Identifikasi perubahan gaya hidup yang tepat untuk mengurangi faktor-faktor diatas.
Rasional               :    Fakto – faktor risiko dapat meningkatkan proses penyakit atau memperburuk gejala.
6)       Bahas pentingnya menghentikan merokok
Rasional               :    Nikotin meningkatkan pelepasan katekolamin, mengakibatkan  peningkatan frekuensi jantung, tekanan darah,dan vasokontriksi, mengurangi oksigenisasi jaringan, dan meningkatkan keberhasilan pasien dalam menyelesaikan tugas ini.
7)       Beri penguatan pentingnya kerja sama dalam regimen pengobatan dan mempertahankan perjanjian tindak lanjut..
Rasional               :    Kurangnya kerja sama adalah alasan umum kegagalan terapi antihipertensif
8)       Intruksikan dan peragakan tehnik pemantauan tekanan darah mandiri.
Rasional                :    Dengan mengajarkan klien atau orang terdekat untuk memantau tekanan darah adalah meyakinkan untuk klien.
9)       Bantu pasien untuk menegmbangkan jadwal yang sederhana, memudahkan untuk minum obat.
Rasional               :    Dengan mengindividualisasikan jadwal pengobatan sehingga sesuai dengan kebiasaan/kebutuhan pribadi klien.
10)   Beri penjelasan obat (dosis dan efek samping).
Rasional               :    Informasikan yang adekuat dan pemahaman bahwa efek samping adalah umum dan sering menghilang dengan berjalannya waktu.
11)   Motovasi untuk membuat program olahraga sendiri.
Rasional               :    Selain membantu menuryunkan tekanan darah, aktivitas aerobik merupakan alat menguatkan sistem kardiovaskular.
12)   Bila terjadi perdarahan hidung lakukan kompres es pada punggung leher dan tekan pada 1/3 ujung hidung dan anjurkan pasien untuk menundukkan kepala ke depan.
Rasional               :    Kapiler nasal dapat ruptur sebagai akibat dari tekanan vaskular berlebihan.
4. Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah penerapan tindakan-tindakan perawatan yang telah direncanakan. Pada tahap pelaksanaan yang dilakukan adalah melakukan tindakan-tindakan keperawatan yang telah direncanakan dan dilanjutkan dengan pendokumentasian semua tindakan yang telah dilakukan beserta hasil-hasilnya.
Beberapa petunjuk pada pelaksanaan adalah sebagai berikut :
a.       Intervensi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi.
b.      Keterampilan interpersonal, intelektual, teknikal, dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat.
c.       Keamanan fisik dan psikologis dilindungi.
d.      Dokumentasi intervensi dan respons klien.
Setelah pelaksanaan selesai, dilakukan dokumentasi intervensi secara tertulis pada catatan keperawatan dan proses keperawatan.
Pada klien Hipertensi beberapa prinsip pelaksanaan yang dapat dilakukan adalah :
a.        Latihan gerak badan/olahraga teratur khususnya pada penderita yang gemuk.
b.       Hindari mengkonsumsi makan makanan yang banyak mengandung garam dan lemak yang tinggi.
c.        Hindari perilaku hidup tidak sehat seperti merokok, minum alkohol, dan stres yang berlebihan.
d.       Selalu melakukan kontrol terhadap kesehatannya ke pusat pelayanan kesehatan.
5. Evaluasi
Evaluasi asuhan keperawatan adalah tahap akhir proses keperawatan yang bertujuan untuk menilai hasil akhir dari keseluruhan tindakan keperawatan yang telah dilakukan. Tahap evaluasi merupakan indikator keberhasilan dalam penggunaan proses keperawatan.
Evaluasi terdiri dari dua bagian yaitu :
a.       Tinjauan laporan klien harus mencakup riwayat perawatan, kartu catatan, hasil-hasil tes dan semua laporan observasi.
b.       Pengkajian kembali terhadap klien berdasarkan pada tujuan kriteria yang diukur dan mencakup reaksi klien terhadap lingkungan yang dilakukan. Reaksi klien secara fisiologis dapat diukur dengan kriteria seperti mengukur tekanan darah, suhu dan lain – lain..
Evaluasi yang dapat dilihat pada klien dengan Hipertensi :
a.        Klien menunjukan kepatuhan terhadap anjuran-anjuran yang diberikan.
b.       Klien dapat melakukan kontrol rutin ke tempat pusat pelayanan kesehatan.
c.        Menunjukan perubahan dalam pola hidup kearah yang sehat.





Contoh Askep #2


LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN HIPERTENSI


KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis mengucapkan kehadirat Allah SWT atas segalanya berkat limpahan rahmatnya yang mana telah memberikan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan yang berjudul “Asuhan Keperawatan dengan Gangguan Sistem Kardiovascular Hipertensi di Ruang Mengkudu RSUD Dr.RM Djoelham Binjai”.
            Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan dan kelemahan baik dari segi penulisan, isi dan juga penggunaan tata bahasa yang baik dalam penulisan laporan ilmiah ini. Penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak, baik dalam bantuan moril maupun materil, maka pada kesempatan ini penulis menyampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada :
1.      Bapak H. Hasan Basri Nasution,SKM,M.Kes selaku Ketua Yayasan Akademi Keperawatan Sehat Binjai
2.      Bapak Ilham Syahputra Siregar,S.Kep selaku Direktur Akademi Keperawatan Sehat Binjai
3.      Bapak Dr.Mahim M.S Siregar Mars selaku Direktur RSUD RM Djoelham Kota Binjai
4.      Ibu Tukinem AMK selaku Kepala Ruangan Mengkudu yang banyak membantu dalam proses penyelesaian laporan kasus ini
5.      Ibu Rahayu Kumala Dewi,S.Kep selaku Dosen Pembimbing yang telah member pengarahan dalam menyusun laporan kasus ini
6.      Para staff dosen Akademi Keperawatan Sehat Binjai
7.      Kepada orang tua tercinta yang telah member dukungan baik itu moril maupun materil, serta selalu mendoakan penulisa dalam menjalankan pendidikan di Akademi Keperawatan Sehat Binjai
8.      Rekan mahasiswa/i Akper Sehat Binjai atas motivasi serta saran dan kritik sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini.
Akhir dengan rendah hati dan hanya kepada Allah SWT penulis berserah diri. Semoga laporan karya tulis ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri dan pembaca pada umumnya, semoga Allah SWT memberi berkahnya bagi kita semua. Amiin
                                                                                        Binjai,         April 2012
                                                                                                                 Tim Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB    I     :................................................................................................................ PENDAHULUAN
1.1.                                                                                                                                                                                                                                                             Latar Belakang
1.2.                                                                                                                                                                                                                                                             Ruang Lingkup Masalah
1.3.                                                                                                                                                                                                                                                             Tujuan Penulisan
1.3.1.                                                                                                                                                                                                                               Tujuan Umum
1.3.2.                                                                                                                                                                                                                               Tujuan Khusus
1.4.                                                                                                                                                                                                                                                             Metode Penulisan
BAB    II   :................................................................................................................ TINJAUAN TEORITIS
2.1. ............................................................................................................................ Hipertensi
2.1.1. . Defenisi
2.1.2.   Anatomi Fisiologi
2.1.3. . Etiologi
2.1.4. . Patofisiologi
2.1.5. . Tanda dan gejala
2.1.6. . Komplikasi
2.1.7. . Penatalaksanaan
2.1.8.   Pencegahan
2.1.9.   Pengobatan
2.1.10. Pemeriksaan penunjang......................................................................
2.2. ............................................................................................................................ Asuhan Keperawatan
2.2.1. . Pengertian
2.2.2. . Diagnosa keperawatan
2.2.3. . Intervensi
2.2.4. . Implementasi
2.2.5... Evaluasi
BAB    III ................................................................................................................. :           TINJAUAN KASUS
3.1. .... Pengkajian
3.1.1... Identitas pasien
................................................................................................................................... 3.1.2.   Keluhan utama pasien
................................................................................................................................... 3.1.3    Riwayat kesehatan sekarang
................................................................................................................................... 3.1.4    Riwayat kesehatan dahulu
................................................................................................................................... 3.1.5    Riwayat kesehatan keluarga
................................................................................................................................... 3.1.6.   Riwayat / keadaan psikososial
................................................................................................................................... 3.1.7.   Pemeriksaan fisik
................................................................................................................................... 3.1.8.   Pengkajian pola fungsional
................................................................................................................................... 3.1.9    Data penunjang
................................................................................................................................... 3.1.10  Analisa data
................................................................................................................................... 3.1.11  Diagnosa keperawatan
BAB    IV :................................................................................................................ PEMBAHASAN
4.1. ............................................................................................................................ Pengkajian
4.2. ............................................................................................................................ Diagnosa keperawatan
4.3.............................................................................................................................. Perencanaan
4.4.............................................................................................................................. Pelaksanaan
4.5.............................................................................................................................. Evaluasi
BAB    V   :................................................................................................................ KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.      Kesimpulan
5.2.      Saran
DAFTAR PUSTAKA


BAB   I
PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakang
Di Negara industri hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan utama. Di Indonesia Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang perlu diperbaikan oleh dokter yang bekerja pada kesehatan primer, karena angka prevalensinya yang tinggi dan akibat jangka panjang yang di timbulkannya. Berdasrkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi 2 yaitu : Hipertensi primer, yang tidak di ketahui penyebabnya atau diopatik, Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain.
(Suyono, 2001, h 453)
            Di Indonesia banyak penderita hipertensi diperkirakan 15 juta orang, tetapi hanya 4%, yang merupaka hipertensi terkontrol. Privalensi 6-15% pada orang dewasa, 50% diantaranya tidak menyadari sebagai penderita hipertensi sehingga mereka cenderung untuk menjadi hipertensi berat karena tidak menghindari dan tidak mengetahui faktor resikonya, dan 90% merupakan hipertensi esensial. Hasil peneltian dari MONICA (multinational monitoring kardiovascular diseases), angka kejadian di Indonesia berkisar 2-18% diberbagai daerah, jadi di Indonesia saat ini kira-kira terdapat 20 juta orang penderita hipertensi.
(Weblog, ririns)
Perjalanan penyakit hipertensi sangatlah perlahan. Penderita hipertensi mungkin tidak menunjukan gejala selama bertahun-tahun, masa laten ini menyelubungi perkembangan penyakit, sampai terjadi kerusakan organ yang penting. Bila terdapat gejala maka biasanya bersifat non-spesifik. Misalnya sakit kepala atau pusing, apabila hipertensi tetap tidak diketahui dan tidak dirawat mengakibatkan kelemahan karena stroke atau gagal ginjal mekanis.
(Sylvia Anderson, 2006 : h 583)
Penyakit jantung hipertensi ditegakan bila dapat dideteksi hipertrofi ventrikel kiri sebagai akibat langsung dari peningkatan bertahap tahanan pembuluh ferifer dan beban aktif ventrikel kiri. Faktor yang menentukan hipertrofi ventrikel kiri adalah derajat dan lamanya peningkatan diastolik. Pengaruh faktor genetik disini lebih jelas.
(Mansjoer, 2001 : h 441)
            Hipertensi biasanya dimulai “diam-diam” umumnya setelah usia 30 tahun atau 40 tahun. Dalam kasus-kasus pencegahan, penyakit ini bisa dimulai lebih awal. Pada tahap awal, tekanannya mungkin naik secara berkala, misalnya pada situasi stress biasanya, ketika mengendarai mobil jarak jauh, dan kembali ke normal lebih lama dari biasanya. Atau tekanannya mungkin hanya naik saat bekerja, tidak pada istirahat atau berlibur. Pada kasus-kasus seperti ini kita membicarakan “hipertensi labil”. Atau jika angkanya terletak diatas kesasaran normal, kita menyebutnya “hipertensi perbatasan” namun, jika angkanya diatas normal secara konsisten, penyakitnya telah berkembang ketahap “stabil” hipertensi kronis bisa memiliki berbagai bentuk. Contohnya sangat banyak, bahkan setiap rumah sakit mengetahui orang-orang muda dengan tekanan darah yang sangat tinggi, dari 200/120 samapi 250-140.
(Hans p. wolf. 2006 : h 63)
            Pada pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka. Angka yang lebih  tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi (sistolik) angka yang lebih rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi (diastolik) tekanan darah kurang dari 120/80 mmHg di defenisikan sebagai “normal” pada tekanan darah tinggi bisanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi biasanya terjadi pada tekanan darah 140/90 mmHg atau keatas, diukur kedua lengan iga dalam jangka beberapa minggu.
(weblog, Wikipedia-indonesia/)
1.2              Ruang lingkup
Dalam penulisan kasus ini penulisa akan mengambil kasus yaitu “Asuhan Keperawatan pada Tn.M dengan Gangguan Sistem Kardiovascular Hipertensi di Ruang Mengkudu” di RSUD DR.RM Djoelham Kota Binjai.
1.3              Tujuan Penulisan
1.3.1    Tujuan Umum
Untuk menerapkan dan mengetahui gambaran Asuan Keperawatan pada Tn.M dengan Gangguan Sistem Kardiovasculer Hipertensi di ruang Mengkudu RSUD Dr. RM Djoelham kota binjai.
1.3.2        Tujuan Khusus
a.       Mahasiswa mampu melaksanakan pengkajian pada Tn.M dengan gangguan sistem Kardiovasculer Hipertensi di ruang mengkudu RSUD Dr.RM Djoelham kota Binjai
b.      Dapat menegakkan diagnosa keperawatan pada Tn.M dengan gangguan sistem Kardiovasculer Hipertensi di ruang mengkudu RSUD Dr.RM Djoelham kota Binjai
c.       Mampu menyusun perencanaan keperawatan pada Tn.M dengan gangguan sistem Kardiovasculer Hipertensi di ruang mengkudu RSUD Dr.RM Djoelham kota Binjai
d.      Mampu melaksanakan pelaksanaan keperawatan pada Tn.M dengan gangguan sistem Kardiovasculer Hipertensi di ruang mengkudu RSUD Dr.RM Djoelham kota Binjai
e.       Mampu melaksanakan evaluasi pada Tn.M dengan gangguan sistem Kardiovasculer Hipertensi di ruang mengkudu RSUD Dr.RM Djoelham kota Binjai.
1.4       Metode Penelitian
Metode yang digunakan penulis dalam penulisan Karya Ilmiah ini adalah metode kognitif yang metode ilmiah yang bersifat menggambarkan keadaan yang sebenarnya dan metode deskriptif yang memaparkan pokok masalah yaitu dengan cara :
a.       Study kepustakaan
Yaitu dengan membaca  dan mempelajari buku-buku yang mengacu dan berhubungan dengan pembahasan yang dibahas pada kardiovascular hipertensi
b.      Study kasus
Yaitu dengan mengadakan pengamatan langsung atau melaksanakan asuhan keperawatan langsung pada pasien melalui wawancara, observasi langsung dan dokumentasi.
-          Wawancara
Yaitu melakukan wawancara langsung pada pasien maupun pada kelurga pasien dan juga perawat yang ada diruangan tersebut untuk memperoleh keterangan yang jelas, baik subjektif maupun objektif.
-          Dokumentasi
Yaitu penulisan memperoleh data dari status pasien dan medical record.


BAB    II
TINJAUAN TEORITIS
2.1       Hipertensi
2.1.1    Definisi
            Imu pengobatan mendefinisikan hipertensi sebagai suatu peningkatan kronis (yaitu meningkat secara berlahan-lahan, bersifat menetap) dalam tekanan darah arteri sistolik yang bisa disebabkan oleh berbagai faktor, tetapi tidak peduli apa penyebabnya, mengikuti suau pola yang khas. (Wolff.2006 : h 62)
            Hipertensi didefenisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik sedikitnya 140 mmHg atau tekanan diastoliknya sedikitnya 90 mmHg. Istilah tradisional tentang hipertensi “ringan” dan “sedang” gagal menjelaskan pengaruh utama tekanan darah tinggi pada penyakit kardiovaskular. (Anderson : 2006. h 582)
            Darah tinggi atau hipertensi merupakan suatu keadaan tekanan darah seseorang berada pada tingkatan diatas normal. Konsekwensi dan keadaan ini adalah timbulnya penyakit yang menggangu tubuh penderita. Dalam penyakit hipertensi merupakan masalah kesehatan dan memerlukan penanggulangan dengan baik. (Sudjaswandi : 2002. h 17)
            Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis dimana terjadi peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka lama) penderita yang mempunyai sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi. Tekanan darah tinggi adalah salah satu resiko untuk stroke, serangan jantung, gagal jantung, dan merupakan penyebab utama gagal jantung kronis. (weblog, wikipedia indonesia)
2.1.2    Anatomi Fisiologi
            Sistem peredaran darah manusia terdiri atas jantung, pembuluh darah, dan saluran limfe. Jantung merupakan organ penting yang memompa darah dan memelihara peredaran melalui saluran tubuh.
            Arteri membawa darah dari jantung
            Vena membawa dara ke jantung
            Kapiler menggabungkan arteri dan vena, terentang diantaranya dan merupakan jalan lalu lintas antara makanan dan bahan buangan. Disini juga terjadi pertukaran gas dalam cairan ekstra seluler atau intershil. Saluran limfe mengumpulkan, menggiring dan menyalurkan kembali ke dalam limfenya yang dikeluarkan melalui dinaing kapiler halus untuk membersihkan jaringan. Saluran limfe ini juga dapat dianggap menjadi bagian sistem peredaran.
            Denyut arteri adalah suatu gelombang yang teraba pada arteri bila darah dipompa keluar jantung. Denyut ini mudah diraba ditempat arteri temporalis diatas tulang temporal atau arteri dorsalis pedis di belokan mata kaki. Kecepatan denyut jantung dalam keadaan sehat berbeda-beda, dipengaruhi penghidupan, pekerjaan, makanan, umur dan emosi. Irama dan denyut sesuai dengan siklus jantung jumlah denyut jantung 70 berarti siklus jantung 70 kali per menit.
Kecepatan normal denyut nadi per menit :
Pada bayi yang baru lahir
Selama tahun pertama
Selama tahun kedua
Pada umur 5 tahun
Pada umur 10 tahun
Pada orang dewasa
140
120
110
96-100
80-90
60-80
 (Pearce. 2009 : h 151)
Tekanan Darah
            Tekanan darah sangat penting dalam sirkulasi darah dan selalu diperlukan untuk daya dorong yang mengalirkan darah didalam arteri, arteriola, kapiler dan sistem vena sehingga darah didalam arteri, arteriola, kapiler dan sistem vena sehingga terbentuk aliran darah yang menetap. Jantung bekerja sebagai pemompa darah dapat memindahkan darah dari pembuluh vena ke pembuluh arteri. Pada sirkulasi tertutup aktivitas pompa jantug berlangsung dengan cara mengadakan kontraksi dan relaksasi sehingga menimbulkan perubahan tekanan darah dan sirkulasi darah. Pada tekanan darah didalam arteri kenaikan arteri pada puncaknya sekitar 120 mmHg tekanan ini disebut tekanan stroke. Kenaikan ini menyebabkan aorta mengalami distensi sehingga tekanan didalamnya turun sedikit. Pada saat diastole ventrikel, tekanan aorta cenderung menurun sampai dengan 80 mmHg. Tekanan ini dalam pemeriksaan disebut dengan tekanan diastole.
Kecepatan Tekanan
            Kecepatan aliran darah bergantung pada ukuran palung dari pembuluh darah. Darah dalam aorta bergerak cepat, dalam arteri kecepatan berkurang dan sangat lambat pada kapiler, dalam arteri kecepatan berkurang dan sangat lambat pada kapiler. Faktor lain yang membantu aliran darah kejantung maupun gerakan otot kerangka mengeluarkan tekanan diatas vena, gerakkan yang dihasilkan pernafasan  dengan naik turunnya diafragma yang bekerja sebagai pemopa, isapan yang dikeluarkan oleh atrium yang kosong sewaktu diastole menarik darah dari vena dan tekanan darah arterial mendorong darah maju. Perubahan tekanan nadi pengaruhi oleh faktor yang mempengaruhi tekanan darah, misalnya pengaruh usia dan penyakit arteriosklerosis. Pada keadaan arteriosklorosis, olasitias pembuluh darah kurang bahkan menghilang sama sekali, sehingga tekanan nadi meningkat.
            Kecepatan aliran darah dibagian tengah dan pada bagian tepi (ferifer) yang dekat dengan permukaan bagian dalam dinding arteri adalah sama, aliran bersifat sejajar yang konsentris dengan arah yang sama jika dijumpai suatu aliran darah dalam arteri yang mengarah kesegala jurusan sehingga memberikan gambaran aliran yang yang tidak lancer. Keadaan dapat terjadi pada darah yang mengatur melalui bagian pembuluh darah yang mengalami sumbatan atau vasokonstriksi. (Drs_H.Syaifuddin. 2006 : h 130)
2.1.3    Etiologi
            Hipertensi merupakan masalah kesehatan global yang memerlukan penanggulangan yang baik. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi prevalensi hipertensi seperti umur, obesitas, asupan garam yang tinggi adanya riwayat hipertensi dalam keluarga.
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi dua golongan, yaitu :
1.      Hipertensi  esensial atau hipertensi primer yang tidak diketahui penyebabnya disebut juga hipertensi idiopatik. Terdapat sekitar 95% kasus banyak faktor yang mempengaruhi seperti genetik, lingkungan hiperaktivitas susunan saraf simpatis. Dalam defekekstesi Na peningkatan Na dan Ca intra selular dan faktor-faktor yang meningkatkan resiko seperti obesitas, alkohol, merokok, serta polisitemia.
2.      Hipertensi sekunder atau hipertensi renal terdapat sekitar 5% kasus. Penyebab spesifiknya diketahui seperti penggunaan esterogen, penyakit ginjal. Hipertensi vascular renal dan hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan dan lain-lain. (Arif Manjoer. 2001 : h 518)
Penyebab hipertensi lainnya adalah feokromositoma, yaitu tumor pada kalenjar adrenal yang menghasilkan hormone edinefrin (adrenalim) atau noredinefrin (noradrenalin) kegemukan (obesitas), gaya hidup yang tidak aktif (malas), stress, alkohol, atau garam dalam makanan bisa memicu terjadinya hipertensi pada orang-orang yang memiliki kenaikan yang diturunkan stress cenderung menyebabkan kenaikan tekanan darah untuk sementara waktu. Jika stress berlalu, maka tekanan darah biasanya akan kembali normal. (Weblog, Wikipedia indonesia)
2.1.4    Patofisiologi
            Pada stadium permulaan hipertensi hipertrofi yang terjadi adalah difusi (konsentik). Pada masa dan volume akhir diastolik ventrikel kiri. Pada stadium selanjutnya, karena penyakit berlanjut terus, hipertrofi menjadi tak teratur dan akhirnya akibat terbatasnya aliran darah koroner menjadi eksentrik, berkurangnya rasio antara masa dan volume jantung akibat peningkatan volume diastolik akhir adalah khas pada jantung dengan hipertrofi eksentrik. Hal ini diperlihatkan sebagai penurunan secara menyeluruh fungsi pompa (penurunan fraksieleksi) penigkatan tegangan dinding ventrikel pada saat sistolik peningkatan konsumsi oksigen ke otot jantung serta penurunan efek-efek mekanik pompa jantung. Diperburuk lagi bila disertai dengAn penyakit dalam jantung koroner.
            Walaupun tekanan perkusi koroner meningkat, tahanan pembumluh darah koroner juga meningkat sehingga cadangan aliran darah koroner berkurang. Perubahan hemodinamik sirkulasi koroner pada hipertensi berhubungan erat dengan derajat hipertrofi otot jantung.
Ada 2 faktor utama penyebab penurunan cadangan aliran darah koroner yaitu :
1.      Penebalan arteriol koroner, yaitu bagian dari hipertrofi otot polar dalam resitensi seluruh badan. Kemudian terjadi valensi garam dan air mengakibatkan berkurangnya compliance pembuluh ini dan meningkatnya tahanan perifer.
2.      Peningkatan hipertrofi mengakibatkan berkurangnya kepadatan kapiler per unit otot jantung bila timbul hipertrofi menjadi faktor utama pada stadium lanjut dan gambaran hemodinamik ini
Jadi faktor koroner pada hipertensi berkembang menjadi akibat penyakit meskipun tampak sebagai penyebab patologis yang utama dari gangguan aktivitas mekanik ventrikel kiri. (Arif Manjoer. 2001 : h 441)
2.1.5    Tanda dan Gejala
            Pemeriksaan yang paling sederhana adalah palpasi hipertensi karateristik lama, untuk bertambah bila terjadi dibatasi ventrikel kiri iktusikordis bergerak kiri bawah, pada kultasi Pasien dengan hipertensi konsentri dapat ditemukan 5 bila sudah terjadi jantung didapatkan tanda-tanda rusiensi mitra velature. (Arif Mansjoer. 2001 : h 442)
            Pada stadium ini hipertensi, tampak tanda-tanda rangsangan sipatis yang diakibatkan peningkatan aktivitas system neohormonal disertai hipertomia pada stadium, selanjutnya mekanisme kopensasi pada otot jantung berupa hiperpeuti. (Arir Mansjoer. 2001 : h 442)
            Gambaran klinis seperti sakit kepala adalah serta gejala gangguan fungsi distolik dan peningkatan tekanan pengsien ventrikel walaupun fungsi distolik masih normal, bila berkembang terus terjadi hipertensi eksentri dan akhirnya menjadi dilarasi ventrikel kemudian gejal banyak datang. Stadium ini kadang kala disertai dengan sirkulasi ada cadangan aliran darah ovoner dan makin membentuk kelaianan fungsi mekanik/pompa jantung yang selektif. (Mansjor, 2001 : h 442)
2.1.6    Komplikasi
           
            Organ-organ tubuh sering terserang akibat hipertensi antara lain masa berupa pendarahan vetria, bahkan gangguan pada penglihatan sampai kebutahan, gagal jantung, pecahnya darah otak. (Arif Mansjoer, 2001)
2.1.7    Penatalaksanaan
            Pengbobatan dirujukan untuk menurunkan tekanan darah menjadi normal, pengobatan jantung karena hipertensi, mengurangi morbilitas dan moralitas terhadap penyakit kardiovascular dan menurunkan faktor resiko terhadap penyakit kardiovascular semaksimal mungkin.
            Untuk menurunkan tekanan darah, dapat ditujukan 3 faktor fisiologis yaitu : menurunkan isi cairan intravascular dan non darah dengan neolistik menurunkan aktivitas susunan saraf simpatis dan respon kardiovascular terhadap rangsangan tahanan prifer dengan obat vasediator. (Arif Manjoer, 2001)
2.1.8    Pencegahan
1.      Berhenti merokok secara total dan tidak mengkonsumsi alkohol
2.      Melakukan antisipasi fisik secara teratur atau berolaraga secara teratur dapat mengurangi ketegangan pikiran (strees) membantu menurunkan berat badan, dapat membakar lemak yang berlebihan.
3.      Diet rendah garam atau makanan, kegemukan (kelebihan berat badan harus segera di kurangi)
4.      Latihan ohlaraga yang dapat seperti senam aerobic, jalan cepat, dan bersepeda paling sedikit 7 kali dalam seminggu.
5.      Memperbanyak minum air putih, minum 8- 10 gelas/ hari.
6.      Memeriksakan tekanan darah secara normal / berkala terutama bagi seseorabg yang memiliki riwayat penderita hipertensi.
7.      Menjalani gaya hidup yang wajar mempelejari cara yang tepat untuk mengendalikan stress.
(Bambang Sadewo, 2004)
2.1.9    Pengobatan
            Jenis-jenis pengobatan
1.      Arti hipertensi non Farmokologis
     Tindakan pengobatan supparat, sesuai anjuran dari natural cammitoe dictation evalution treatmori of high blood preasure
a.       Tumpukan berat badan obesitas
b.      Konsumsi garam dapur
c.       Kurangi alkohol
d.      Menghentikan merokok
e.       Olaraga teratur
f.       Diet rendah lemak penuh
g.      Pemberian kalium dalam bentuk makanan sayur dan buah
2.      Obat anti hipertensi
a.       Dioverika, pelancar kencing yang diterapkan kurangin volume input
b.      Penyakit beta (B.Blocker)
c.       Antoganis kalsium
d.      Lanbi ACE (Anti Canvertity Enzyine)
e.       Obat anti hipertensi santral (simpatokolim)
f.       Obat penyekar ben
g.      Vasodilatov
(Arif Mansjoer, 2001, 522)
3.      Perubahan gaya hidup
Dilain pihak gaya hidup yang baik untuk menghindari terjangkitnya penyakit hipertensi dan berbagai penyakit digeneratif lainnya.
·         Mengkurangi konsumsi garam
·         Melakukan olaraga secara teratur dan dinamik
·         Membiasakan bersikap dinamik seperti memilih menggunakan tangga dari pada limfa
·         Menghentikan kebiasaan merokok
·         Menjaga kestabilan BB
Menjauhkan dan menghindari stress dengan pendalaman angka sebagai salah satu upayahnya.
2.1.10  Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium rutin yang dilakukan sebelum melakukan terapi bertujuan menentukan adanya kerusakan organ dan faktor lain atau mencari penyebab hipertensi, biasanya diperiksa unaralis darah perifer lengkap kemih darah (kalium, natrium, kreatinin, gula darah puasa, kolestrol total, kolestrol HDI, dan EKG).
Sebagai tambahan dapat dilakukan pemeriksaan lain seperti klirens kreatinin protein urine 24 jam, asam urat, kolestrol LDL, TSH dan ekokardiografi.
(Mansjoer Arif,2000 : 49)
2.2       Asuhan Keperawatan
Asuhan keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktek keperawatan. Hal ini biasanya disebut sebagai suatu pendekatan problem solving yang memerlukan ilmu teknik dan keterampilan interversional dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan klien.
(Iyert el, al, 1996)
2.2.1    Pengkajian
            Pengkajian adalah langkah pertama dari proses keperawatan melalui kegiatan pengumpulan data atau perolehan data yang akurat dapat pasien guna mengetahui berbagai permasalahan yang ada.
(Aziz Alimul. 2009 : h 85)
Adapun pengkajian pada pasien hipertensi menurut Doengoes, et al (2001) adalah
1.      Aktivitas istirahat
Gejala    :  Kelelahan umum, kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup
Tanda    :  -  Frekuensi jantung meningkat
                                    -  Perubahan trauma jantung (takipnea)
2.      Sirkulasi
Gejala    :  Riwayat hipertensi ateros klerosis, penyakit jantung koroner / katup dan penyakit screbiovakuolar, episode palpitasi, perpirasi.
Tanda    :  -  Kenaikan TD (pengukuran serial dan kenaikan TD diperlukan untuk menaikkan diagnosis
                 -    Hipotensi postural (mungkin berhubungan dengan regimen otak)
                 -    Nada denyutan jelas dari karotis, juguralis, radialis
                 -    Denyut apical : Pm, kemungkinan bergeser dan sangat kuat
                 -    Frekuensi/irama : Tarikardia berbagai distrimia
                 -    Bunyi, jantung terdengar S2 pada dasar S3 (CHF dini) S4 (pengerasan vertikel kiri / hipertrofi vertical kiri).
3.      Integritas ego
Gejala   :  Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi eufuria atau jarah kronis (dapat mengidentifikasi kerusakan serebral ) faktor-faktor inulhfel, hubungan keuangan yang berkaitan dengan pekerjaan.
Tanda    :  Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontiniu perhatian, tangisan yang meledak, gerak tangan empeti otot muka tegang (khususnya sekitar mata) gerakkan fisik cepat, pernafasan mengelam peningkatan pola bicara.
4.      Eliminasi
Gejala   :  Gangguan ginjal sakit ini atau yang lalu
5.      Makanan/Cairan
      Gejala   :  Makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolestrol, mual, muntah, perubahan berat badan (meningkatkan/menurun) riwayat pengguna diuretik.
Tanda    :  -  Berat badan normal atau obesitas
           -  Adanya edema (mungkin umum atau tertentu)
           -  Kongestiva
           -  Glikosuria (hampir 10% hipertensi adalah diabetik).
6.      Neurosensori
                   Gejala    :  -  Keluhan pening/pusing
-    Berdenyut, sakit kepala suboksipital (terjadi saat bangun dan menghilang secara spontan setelah beberapa jam)
           -  Episode kebas dan kelemahan pada satu sisi tubuh
           -  Gangguan penglihatan
           -  Episode epistaksis
Tanda    :  -  Status mental perubahan keterjagaan orientasi, pola isi bicara, efek, proses fikir atau memori.
7.      Nyeri/Ketidak nyamanan
Gejala    :  -    Angma (penyakit arteri koroner/keterlibatan jantung)
                 -    Nyeri hilang timbul pada tungkai/klaudikasi
                 -    Sakit kepala oksipital berat seperti yang pernah terjadi sebelumnya
                 -  Nyeri abdomen / massa
8.      Pernapasan
Gejala    :  -    Dispenea yang berkaitan dengan aktivitas kerja
                 -    Riwayat merokok, batuk dengan / tanpa seputum
Tanda    :  -    Distres respirasi
                 -    Bunyi nafas tambahan
                 -  Sianosis
9.      Keamanan
Gejala    :  -    Gangguan koordinas / cara berjalan
                 -    Hipotesia pastural
Tanda    :  -    Frekuensi jantung meningkat
                 -    Perubahan trauma jantung (takipnea)
10.  Pembelajaran/Penyebab
Gejala   :     Faktor resiko keluarga : hipertensi, aterosporosis, penyakit jantung, DM
2.2.2    Diagnosa Keperawatan
            Diagnosa keperawatan merupakan keputusan klinis mengenai seseorang, keluarga atau masyarakat sebagai akibat dari masalah kesehatan atau proses kehidupan yang aktual atau potensial. (Aziz Alimul, 2009 : h 92)
            Nanda menyatakan bahwa diagnosa keperawatan adalah keputusan klinik tentang respon individu. Keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau potensial. Sebagai dasar seleksi intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan sesuai dengan kewenangan perawat. Semua diagnosa keperawatan harus didukung oleh data. Dimana menurut Nanda diartikan sebagai defensial arakteristik definisi karakteristik tersebut dinamakan tanda dan gejala suatu yang dapat diobservasi dan gejala sesuai yang dirasakan oleh klien.
            Menurut Doengoes, et al (2001), diagnosa keperawatan yang mungkin ditemukan pada pasien dengan hipertensi adalah :
  1. Curah jantung, penurunan, resiko tinggi terhadap b/d peningkatan afterload, vasokontriksi, iskemia miokardia, hipertrofi d/d tidak dapat diterapkan adanya tanda-tanda dan gejala yang menetapkan diagnosis aktual
  2. Nyeri (akut), sakit kepala b/d peningkatan tekanan vaskuler selebral d/d melaporkan tentang nyeri berdenyut yang terletak pada regiu suboksipital. Terjadi pada saat bangun dan hilang secara spontan setelah beberapa waktu
  3. Intoleran aktivitas b/d kelemahan umum d/d laporan verbal tentang kelebihan atau kelemahan
  4. Nutrisi, perubahan lebih dari kebutuhan tubuh b/d masukan berlebihan dengan kebutuhan merabolik d/d berat badan 10%-20% lebih dari ideal untuk tinggi dan bentuk tubuh
  5. Koping, individual, infektif b/d krisis situasional/maturasional, perubahan hidup beragam d/d menyatakan ketidak mampuan untuk mengatasi atau meminta bantuan
  6. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi rencana pengobatan b/d kurang pengetahuan / daya ingat d/d menyatakan masalah, meminta informasi.
2.2.3    Perencanaan
            Perencanaan adalah proses penyusunan berbagai intervensi keperawatan yang dibutuhkan untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi masalah pasien.
(Aziz Alimul. 2009 : h 106)
            Perencanaan keperawatan pada pasien dengan hipertensi menurut dongoes et al (2000) adalah :
Diagnosa keperawatan I
Curah jantung, penurunan, resiko tinggi terhadap b/d peningkatan afterload, vasokontruksi, iskemia miorkadia, hipertrofi b/d tidak dapat diterapkan adanya tanda-tanda dan gejala yang menetapkan diagnosis actual.
Intervensi :
·         Pantau TD
·         Catat keberadaan
·         Aukultasi tonus jantung dan bunyi nafas
·         Berikan lingkungan yang tenang, nyaman, kurang aktivitas/keributan lingkungan
·         Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi
Rasionalisasi
·         Perbandingan dari tekanan memberi gambaran yang lebih lengkap tentang keterlibatan/bidang masalah kaskuler
·         Mencerminkan efek dari kosakontraksi (peningkatan SVR 0 dan kongesti vena)
·         Dapat mengidentifikasi kongesti paru sekunder terhadap terjadinya atau gagal jantung kronik
·         Adanya pucat, dingin, kulit, lembab dan masa pengisian kapiler lambat mungkin keterkaitan dengan kosokentreksi atau mencerminkan kekomposisi/penurunan curah jantung
·         Dapat mengidentifikasi gagal jantung, kerusakan ginjal atau vaskuler
·         Membantu untuk menurunkan rangsang simpatis meningkatkan relaksasi
·         Menurunkan stress dan ketegangan yang mempengaruhi TP dan perjalanan penyakit hipertensi
·         Dapat menurunkan rangsangan yang menimbulkan stress, membuat efek tenang sehingga tak menurunkan TD
·         Karena efek samping obat tersebut maka penting untuk menggunakan obat dalam jumlah penting sedikit dan dosis paling rendah.
Diagnosa Keperawatan II
Nyeri (akut), sakit kepala b/d peningkatan tekanan vaskuler selebral d/d melaporkan tentang nyeri berdenyut yang terletak pada regium suboksipital. Terjadi pada saat bangun dan hilang secara spontan setelah beberapa waktu.
Intervensi :
·         Kaji  respon pasien terhadap aktivitas
·         Berikan dorongan untuk melakukan aktivitas
·         Instruksikan pasien terhadap teknik penghematan energi
Rasionalisasi :
·         Tekhnik menghemat energy, mengurangi penggunaan energy, membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
·         Kemajuan aktifitas berharap mencegah peningkatan kerja jantung tiba-tiba
Diagnosa keperawatan III
Intoleran aktivitas b/d kelemahan umum b/d laporan verbal tentang kelebihan atau kelemahan.
Intervensi :
·         Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi masukan lemak, garam dan gula sesuai indikasi
·         Tetapkan keinginan pasien menurunkan berat badan
·         Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diet
Rasionalisasi :
·         Meminimalkan stimulus / meningkatkan relaksasi
·         Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serebral dan yang memperlambat / memblok respon simpatis efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komlikasinya
·         Aktifitas yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan sakit kepala adanya peningkatan tekanan vaskuler serebral
·         Pusing dan penglihatan kabur sehingga b/d sakit kepala
·         Menurunkan / mengontrol nyeri dan menurunkan rangsang system saraf simfatis
·         Dapat mengurangi tegangan dan ketidak nyamanan yang diperberat.
Diagnosa IV
            Nutrisi perubahan lebih dari kebutuhan tubuh b/d masukan berlebihan dengan kebutuhan merabolik d/d berat badan 10%-20% lebih dari ideal untuk tinggi dan bentuk tubuh.
Intervensi :
·         Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi prilaku
·         Saraf laporan gangguan tidur
·         Bantu pasien untuk mengidentifikasi sresor spesifik dan kemungkinan startegi untuk mengatasinya
·         Dorong pasien untuk mengevaluasi prioitas tubuh.
Rasionalisasi :
·         Kegemukan adalah resiko tambahan pada tekanan darah tinggi karena disproporsi antara kapasitas aorta dan peningkatan curah jantung berkaitan dengan peningkatan masa tubuh
·         Kesalahan kebiasaan makanan menunjang terjadinya ateroskelrosis dan kegemukan yang merupakan preposisi untuk hipertensi dan komlikasinya
·         Motivasi untuk penurunan berat badan adalah internal, individu harus berkeinginan untuk menurunkan berat badan, bila tidak maka program sama sekali tidak berhasil
·         Mengindikasikan kekuatan/kelemahan dalam menentukan kebutuhan individu untuk penyesuaian / penyuluhan
·         Penurunan masukan kalori seseorang sebanyak 50 kalori per hari secara teori dapat menurunkan BB 0,5 kg/hari
·         Membantu untuk memfokuskan perhatian pada faktor mana pasien telah/dapat mengontrol perubahan
·         Penting untuk mencegah perkembangan heterogenesis
·         Memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diet individual.
Diagnosa V
            Koping, individual, infektif b/d krisis situasional / maturasional, perubahan hidup beragam d/d menyatakan ketidak mampuan untuk mengatasi atau meminta bantuan.
Intervensi :
·         Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar
·         Tetapkan dan nyatakan batas Hd normal
·         Bantu pasien untuk mengidentifikasi faktor-faktor resiko kardiovaskular
·         Bahan pentingnya menghentikan merokok
Rasionalisasi :
·         Mekanisme adaptif perlu untuk mengubah pola hidup seseorang mengatasi hipertensi klanik menginterasikan tetapi yang diharuskan ke dalam kehidupan sehari-hari
·         Manifestasi mekanisme koping maladaftif mungkin merupakan indicator yang ditekan dan diketahui telah menjadi penentu utama TD distolik
·         Fokus perhatian pasien pada realitas situasi yang ada relative terhadap pandangan pasien tentang apa yang diinginkan
·         Perubahan yang perlu harus diprioritaskan secara realistik untuk menghindari rasa yang tidak menentu dan tidak berdaya.
Diagnosa keperawatan IV
            Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kondisi rencana pengobatan b/d pengetahuan / daya ingat d/d menyatakan masalah, menerima informasi
Intervensi :
·         Bela penguatan pentingnya kerjasama dalam regimen pengobatan dan mempertahankan perjanjian tindak lanjut
·         Jelaskan tentang obat yang diresep bersamaan dengan rasional
·         Sarankan untuk sering mengubah posisi, olaraga kaki saat baring
Rasionalisasi :
·         Bila pasien tidak menerima realities bahwa membutuhkan pengobatan kontinyu, maka perubahan perilaku tidak akan dipertahanakan
·         Pemahaman bahwa TD tinggi dapat terjadi tanpa gejala adalah ini untuk memungkinkan pasien melanjutkan pengobatan meskipun ketidak merasa sehat
·         Faktor-faktor ini telah menunjukkan hubungan dalam menunjang hipertensi dan penyakit kardiovaskular
·         Nikotin meningkatakan pelepasan katekolomamin, mengakibatkan peningkatan frekwensi jantung, TD fasokontriksi, mengurangi oksigenasi jaringan dan meningkatkan beban kerja miokardium.
(Doengoes et al, 2001 : 41-49)
2.2.4    Implementasi
            Implementasi adalah proses keperawatan dengan melaksanakan berbagai strategis keperawatan (tindakan keperawatan) yaitu telah direncanakan. (Aziz Alimuml. 2001 : h 11)
            Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan yang mencakup peningkatan kesehatan pencegahan penyakit. Pemulihan kesehatan dan mempasilitas koping perencanaan tindakan keperawatan akan dapat dilaksanakan dengan baik. Jika klien mempunyai keinginan untuk berpatisipasi dalam pelaksanaan tindakan keperawatan selama tahap pelaksanaan perawat terus melakukan pengumpulan data dan memilih tindakan perawatan yang paling sesuai dengan kebutuhan klien tindakan.
Adapun implementasi pada pasien hipertensi adalah :
Diagnosa keperawatan I :
·         Memantau TD
·         Mencatat keberadaan
·         Aukultasi tonus jantung dan bunyi nafas
·         Memberikan lingkungan yang tenang, nyaman, kurang aktivitas / keributan lingkungan
·         Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi
Diagnosa keperawatan II :
·         Mengkaji respon pasien terhadap aktivitas
·         Memberikan dorongan untuk melakukan aktivitas
·         Mengintruksikan pasien terhadap teknik penghematan energy
Diagnosa keperawatan III :
·         Membicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi masukan lemak, garam dan gula sesuai indikasi
·         Menetapkan keinginan pasien menurunkan berat badan
·         Mengkaji ulang masukkan kalori harian dan pilihan diet
Diagnosa keperawatan IV
·         Mengkaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi prilaku
·         Mencatat laporan gangguan tidur
·         Membantu pasien untuk mengidentifikasi stesor spesifik dan kemungkinan strategi untuk mengatasinya
·         Mendorong pasien untuk mengevaluasi prioritas tubuh
Diagnosa keperawatan V
·         Mengkaji kesiapan dan hambatan dalam belajar
·         Menetapkan dan nyatakan batas Hd normal
·         Membantu pasien untuk mengidentifikasi faktor-faktor resiko kardiovaskuler
·         Membahas pentingnya menghentikan merokok
Diagnosa keperawatan VI :
·         Memberi penguatan pentingnya kerjasama dalam regimen pengobatan dan mempertahankan perjanjian tindak lanjut
·         Menjelaskan tentang obat yang diresep bersamaan dengan rasional
·         Menyarankan untuk sering mengubah posisi, olaraga kaki saat baring
2.2.5    Evaluasi
            Evaluasi adalah tahap terakhir proses keperawatan dengan cara menilai sejauh mana tujuan diri rencana keperawatan tercapai atau tidak. (Aziz Alimul. 2009 : hi 12)
            Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien dalam mencapai tujuan. Hal ini dapat dilaksanakan dengan mengadakan hubungan dengan klien berdasarkan respon klien terhadap tindakan keperawatan yang diberikan sehingga perawat dapat mengambil keputusan:
1.      Mengakhiri tindakan keperawatan (klien telah mencapai tujuan yang ditetapkan)
2.      Memodifikasi rencana tindakan keperawatan (klien memerlukan waktu yang lebih lama untuk mencapai tujuan)
(lyer, at al, 1996)
Adapun evaluasi keperawatan pada pasien dengan hipertensi adalah :
            Diagnosa I
·         Berpatisipasi dalam aktivitas yang menurunkan Td beban kerja jantung
·         Mempertahankan Td dalam rentang individu yang dapat diterima
·         Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil dalam rentang normal pasien
Diagnosa II
·         Berpatisipasi dalam aktivitas yang diinginkan/diperlukan
·         Melaporkan tindakan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur
·         Menunjukkan penurunan dalam tanda intoleransi fisiologi
Diagnosa III
·         Melaporkan nyeri / ketidak nyamanan hilang / terkontrol
·         Mengungkan metode yang memberikan pengurangan
·         Mengikuti reqman farmokologi yang diresepkan
Diagnosa IV
·         Mengidentifikasi hubungan antara hipertensi dan kegemukan
·         Menunjukkan perubahan pola makan
·         Melakukan / mempertahankan program olaraga yang tepat seacar individual
Diagnosa V
·         Mengidentifikasi prilaku koping efektif konsekuensinya
·         Mendemontrasikan penggunaan keterampilan / metode koping efektif
Diagnosa VI
·         Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan regimen
·         Mempertahankan Td dalam perimeter normal


BAB    III
TINJAUAN KASUS
3.1       Pengkajian
3.1.1    Identitas Pasien
a.       Identitas Pengkajian
Nama                                 :  Tn.M
Jenis Kelamin                    :  Laki-laki
Umur                                 :  60 Tahun
Status Perkawinan                        :  Kawin
Agama                               :  Islam
Pendidikan                                    :  SMA
Pekerjaan                           :  Pensiun
Alamat                              :  Jln.Sederhana Gg.Sempurna Kec.Binjai Selatan
Tanggal Masuk                  :  16 April 2012
No.Register                       :  06-46-47
Ruangan/Kamar                :  Mengkudu (K2B2)
Golongan Darah                :  O
Tanggal Pengkajian           :  17 April 2012
Tanggal Operasi                :  -
Diagnosa Keperawatan     :  Hipertensi


b.      Penanggung Jawab
Nama                                 :  Tn.D
Hubungan dengan Pasien :  anak
Pekerjaan                           :  PNS
Umur                                 :  25 Tahun
Alamat                              :  Jln.Sederhana Gg.Sempurna Kec.Binjai Selatan
3.1.2    Keluhan Utama
            Pasien datang kerumah sakit, mengatakan kapala pusing, nyeri pada tungkai, sakit kepala disertai leher terasa tegang dan kaku.
3.1.3    Riwayat Kesehatan Sekarang
            Pasien dirawat dirumah sakit umum Dr.Rm Djoelham di ruangn mengkudu dengan keluhan kepala pusing, nyeri pada ulu hati, leher dan tengkuk terasa tegang, pasien mengatakan sulit beraktivitas.
3.1.4    Riwayat Masa Lalu
            Pasien pernah dirawat dirumah sakit selama 4 hari pada tahun 1987 dengan kasus yang sama, pasien dirawat dan diberi obat untuk proses penyembuhan
3.1.5    Riwayat Kesehatan Keluarga
            Riwayat kesehatan dari keluarga bahwa penyakit hipertensi yang diderita pasien adalah faktor keturunan dari ibu karena sebelum pasien menderita hipertensi ibu pasien juga pernah menderita hipertensi, ibu pasien meninggal dengan riwayat penyakit hipertensi.
3.1.6    Riwayat Keadaan Psikososial
            Pasien mempergunakan bahasa Indonesia, presepsi terhadap penyakitnya, pasien sangat optimis untuk cepat sembuh dan pasien selalu berharap dan berdoa kepada Allah SWT, pasien memilki hubungan yang sangat baik dengan keluarga dan saudara.
Genogram
 


Keterangan  :
            :  Laki-laki
            :  Perempuan
            :  Laki-laki exit (meninggal)
 

            :  Perempuan exit (meninggal)
            :  Tinggal satu rumah
            :  Hubungan / pertalian keluarga
            :  Penderita / pasien
            Dari keterangan genogram diatas orangtua pasien keduanya sudah meninggal, orang tua laki-laki pasien meninggal karena terserang penyakit kanker hati, sedangkan ibu pasien meninggal karena penyakit hipertensi, dari hasil perkawinan ke-2 orangtua pasien terdapat 10 jumlah saudara pasien, dari kesepuluh jumlah saudara kandung pasien tersebut dirinci sebagai beriku : anak pertama perempuan, dan anak kedua perempuan, kedua anak perempuan tersebut meninggal karena menderita penyakit kanker rahim. Kemudian anak ketiga laki-laki adalah pasien yang menderita penyakit hipertensi yang dirawat dirumah sakit umum Dr.RM.Djoelham. Anak keempat perempuan, anak kelima adalah laki-laki dan meninggal karena penyakit stroke, anak keenam laki-laki, anak ketujuh laki-laki, anak kedelapan laki-laki, anak kesembilan laki-laki dan anak kesepuluh perempuan. Anak kesepuluh ini meninggal karena menderita penyakit stroke.
            Pasien menikah dan mempunyai tiga orang anak, yang pertama laki-laki yang sudah menikah, anak kedua perempuan dan anak ketiga perempuan, mereka tinggal dalam satu rumah terkecuali anak pertama yang sudah berumah tangga. Sementara riwayat sang istri pasien, kedua orang tuanya itu sudah meninggal dan orang tua laki-laki dari istri meninggal dikarenakan menderita penyakit kanker hati. Jumlah saudara istri pasien ada delapan, belum ada yang meninggal dari delapan saudara pasien tersebut.
3.1.7    Pemeriksaan Fisik
TD       :  170/100 mmHg
Pols     :  90 x/i
RR       :  22 x/i
Temp   :  350c
Keadaan umum           :  Lemah
Penampilan                  :  Pasien kurang rapi dan bersih
Kesadaran                   :  Compos mentis (conscious) yaitu kesadaran normal (dengan prevalensi 15) sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaannya
TB                               :  178 cm
BB                               :  94 Kg
Ciri Tubuh                   :  Gemuk
3.1.8    Pengkajian Pola Fungsional
a.       Kepala
Bentuk kepala bulat, rambut hitam lurus kulit kepala bersih tidak terdapat ketombe
b.      Penglihatan
Baik, tidak ada ikterus, konjungtiva tidak anemis pupil isokor dan slekta baik tidak dijumpai
c.       Penciuman
Bentuk dan posisi, anatomis tidak dijumpai kelainan dapat membedakan bau-bauan
d.      Pendengaran
Pendengaran baik serumen ada dalam batas normal tidak ada dijumpai adanya peradangan dan pendarahan
e.       Mulut
Tidak ada masalah pada rongga mulut, gigi bersih, tidak ada pendarahan maupun peradangan
f.       Pernafasan
Tidak ada masalah pada frekuensi dan irama pernafasan
g.      Jantung
Frekwensi denyut jantung dibawah normal 100x/i, bunyi jantung berirama, tidak adanya dijumpai nyeri pada dada
h.      Abdomen
Pada abdomen tidak dijumpai kelainan begitu juga pada palpasi hepar
i.        Ekstremilasi
pasien mengatakan susah menggerakkan kedua kakinya dan pasien sulit beraktivitas, semua aktivitas pasien dibantu oleh keluarga dan perawat
j.        Pola Kebiasaan
1.      Nutrisi
Sebelum masuk Rumah Sakit pola makan biasa  3 x 1 hari, makanan kesukaan  yang berlemak, sedangkan makanan pantangan tidak ada.
Sesudah masuk Rumah Sakit pola makan 3 x 1 hari. Porsi yang disajikan habis 1/3 porsi dengan diet M2, pasien dilarang makan makanan yang banyak mengandung minyak dan lemak.
2.      Eliminasi
BAB       :    Sebelum masuk Rumah Sakit BAB 2 x 1 hari dengan konsistensi lembek
                    Sesudah masuk Rumah Sakit BAB 1 x 1 hari dengan konsistensi lembek
BAK      :    Sebelum masuk Rumah Sakit BAK 5-6 x sehari
                    Sesudah masuk Rumah Sakit BAK 4-5 x sehari
3.      Pola Istirahat
Sebelum masuk Rumah Sakit pasien  tidur malam + 8 jam dan tidur siang + 1-2 jam,
Sesudah masuk Rumah Sakit tidur malam hanya + 2 jam pada siang hari pasientidak bisa tidur karena suasana yang tidak tenang, kurang nyaman, sehingga klien tampak kusam dan pucat.
4.      Pola Aktivitas
Pada aktivitas sebagai kepala rumah tangga yang tiap waktu sedikit dirumah dan jumlah jam kerja yang tiada henti, istirahat yang hanya sebentar adanya hospitalisasi suasana dirumah sakit tidak terlaksana optimal karena badrest
5.      Personal Hygine
Sebelum masuk Rumah Sakit pasien  mandi 3 x sehari, cuci rambut 2 hari sekali kulit kepala bersih, sikat gigi 2 x sehari.
6.      Therapy
Infus RL                           : 20 gtt/i
Furosemide                       : 1 amp/12 jam
Amlodepine                      : 2 x 10 mg
Dulculax syrp                    : 3 x 1
Cotrimoxazole                   : 3x4 80 mg
B.Laxadine                       : 3x1
Ludios                               : 2x1
Sohobion                           : 2x1
3.1.9    Data Penunjang
            Adapun data penunjang dapat dilihat dari hasil laboratoriun sebagai berikut :
No
Kimia Darah
Hasil
Normal
Unit
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Bil.total
Bil.Direk
SGOT
SGPT
Ureum
Kreatinim
Uric acid
Cholesterol total
Mglyceride
HDL
LDL
1,35
0,59
30,5
38,4
27,2
1,08
7,8
129
93
38
72
<1
<0,25
<37
<40
10-15
0,6-11
3,4-70
<200
<150
>55
<150
Mg/dL
Mg/Dl
U/I
U/I
Mg/dL
Mg/dL
Mg/dL
Mg/dL
Mg/dL
Mg/dL
Mg/dL
No
Gula Darah
Hasil Normal
1
2
3
4
Puasa
2 Jam pp
dd random
serologi
75-115
<120
92
3.1.10  Analisa Data
NO
DATA
PENYEBAB
MASALAH
1
DS:    Pasien mengatakan kepala pusing, dan  leher terasa tegang.
DO: : Px tampak meringis kesakitan, kondisi badan lemah.
        TD    : 170/100 mmHg
        Pols  :  90 x/i
        RR    : 22 x/i
        Temp : 370C
Peningkatan tekanan darah
Gangguan rasa nyaman nyeri
2
DS:  Pasien mengatakan tidak selera makan
DO: pasien tampak lemah, Makanan yang di sajikan habis 1/3 porsi
Perubahan jenis diet
Gangguan  pola  nutrisi
3
DS:  Pasien mengatakan susah tidur
DO: pasien tampak pucat, mata cekung, tidur malam + 2 jam  pasien susah tidur siang
Efek Hospitalisasi
Gangguan istirahat tidur
4
Ds  : pasien mengatakan kedua kakinya susah digerakkan
Do  : aktivitas pasiens di bantu oleh keluarga dan perawat
kelemahan fisik
Gangguan pola aktivitas
Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman nyeri b/d peningkatan  tekanan darah  d/d pasien tampak meringis kesakitan, kondisi badan lemah.
        TD : 170/100 mmHg
        Pols  :  90 x/i
        RR    : 22 x/i
        Temp : 370C
2.  Gangguan pola nutrisi b/d perubahan  jenis diet d/d Makanan yang di sajikan habis 1/3 porsi
3.  Gangguan istirahat tidur b/d efek hospitalisasi d/d pasien tampak pucat, mata cekung, tidur malam + 2 jam, pasien  susah tidur siang
4.  Gangguan pola aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik di tandai dengan  aktivitas pasien  dibantu oleh keluarga dan perawat.


3.1.11  Diagnosa  Keperawatan
            Nama               :  Tn.M
            Umur               :  60 Tahun
            Ruang              :  Mengkudu
            No.Reg            :  06-46-47
 Tabel Asuhan Keperawatan
NO
DATA
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
TUJUAN
PERENCANAAN
IMPLEMENTASI
EVALUASI
INTERVENSI
RASIONALISASI
1
DS:    Pasien mengatakan kepala pusing, dan  leher terasa tegang.
DO: : Px tampak meringis kesakitan, kondisi badan lemah
        TD    : 170/100 mmHg
        Pols  :  90 x/i
        RR    : 22 x/i
        Temp : 370C
Gangguan rasa nyaman nyeri b/d peningkatan tekanan darah d/d pasien tampak meringis kesakitan, kondisi badan lemah.
        TD : 170/100 mmHg
        Pols  :  90 x/i
        RR    : 22 x/i
        Temp : 370C
Nyeri dan pusing hilang
·    Atur posisi semifowler pasien
·    Berikan istirahat yang cukup
·    Anjurkan pasien untuk menghindari makanan yang mengandung garam
·    Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat
·    Dengan mengatur posisi semi fowler pasien diharapkan pasien merasa nyaman
·    Dengan memberikan istirahat yang cukup diharapkan rasa nyeri pasien berkurang
·    Dengan menghindari makanan yang mengndung garam diharapkan dapat menghindari peningkatan tekanan darah
·    Dengan berkolaborasi dengan dokter diharapkan pasien mendapat penanganan lebih lanjut.
·      Mengatur posisi pasien
·      Memberikan istirahat yang cukup
·      Menganjurkan pasien untuk menghindari makanan yang mengandung garam
·        Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat :
Furosemide = 1 amp/12 jam
Amlodepine = 2 x 10 mg
S:  Pasien mengatakan kepala masih pusing
O:TD:160/100  mmHg
A: Masalah belum teratasi
P:  R/T dilanjutkan
2
DS:  Pasien mengatakan tidak selera makan
DO: pasien tampak lemah,
Makanan yang di sajikan habis 1/3 porsi
Gangguan pola nutrisi b/d perubahan jenis diet d/d Makanan yang di sajikan habis 1/3 porsi
Kebutuhan nutrisi terpenuhi
·      Beri makan pasien sedikit tapi sering
·      Beri makanan dalam keadaan hangat
·      Beri makanan yang berpariasi
·      Beri penjelasan tentang manfaat makanan
·      Dengan memberikan makan makan pasien sedikit tapi sering diharapkan  pasien mudah mencerna makanan yang dimakannya
·      Dengan memberikan makanan dalam keadaan hangat diharapkan dapat menambah nafsu makan pasien
·      Dengan memberikan makanan yang berpariasi diharapkan pasien tidak bosan dengan makanan yang disediakan
·      Dengan memberikan penjelasan makanan pada pasien, agar pasien mengetahui manfaat makanan
·    Memberikan makan pasien sedikit tapi sering
·    Memberikan makanan yang hangat
·    Memberikan makanan yang berpariasi
·    Memberi penjelasan tentang manfaat makanan
S:  Pasien mengatakan selera makan pasien ada
O:  Pasien masih tampak lemah
A:  Masalah sebagian teratasi
P:  R/T dilanjutkan
3
DS:  Pasien mengatakan susah tidur
DO: pasien tampak pucat, mata cekung, tidur malam + 2 jam  pasien susah tidur siang
Gangguan istirahat tidur b/d efek hospitalisasi d/d pasien tampak pucat, mata cekung, tidur malam + 2 jam susah tidur siang
Istirahat tidur pasien terpenuhi
·    Beri pasien ruangan yang nyaman
·    Batasi jam berkunjung pasien ; pagi jam 10-12
Sore 16-17
Malam 19-21
·    Batasi jumlah pengunjung
·    Hindari keributan
·    Rapikan tempat tidur pasien
·    Dengan memberikan pasien ruangan yang nyaman diharapkan pasien merasa nyaman
·    Dengan membatasi jam berkunjung diharapkan pasien dapat beristirahat
·    Dengan membatasi jumlah pengunjung agar pasien merasa tenang
·    Dengan menghindari keributan diharapkan pasien dapat beristirahat dengan nyaman
·    Dengan merapikan tempat tidur pasien setiap hari diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan pasien setiap hari
·    Memberikan pasien ruangan yang nyaman
·    Membatasi jamberkunjung
·    Batasi jumlah pengunjung
·    Menghindari keributan
·    Merapikan tempat tidur pasien setiap hari
S:  Pasien mengataka bisa tidur siang
O:  Pasien tampak lemas
A:  Masalah sebagian teratasi
P:  R/T dilanjutkan
4
Ds  : pasien mengatakan kedua kakinya susah digerakkan
Do  : aktivitas paiens di bantu oleh keluarga dan perawat
Gangguan pola aktivitas b/d kelemahan fisik d/d pasien tampak susah melakukan aktivitas, semua aktivitas dibantu oleh keluarga dan perawat
aktivitas pasien terpenuhi
·    Bantu aktivitas pasien
·    Beri posisi yang nyaman semi fowler
·         Dekatkan barang-barang dibutuhkan pasien
-       Dengan membantu pasien untuk berativitas
Agar kedua kaki pasien  tidak terasa kaku
-      Dengan memberikan posisi semifowler di harapkan dapat mengurangi rasa nyeri pada pasien
·         Pasien dapat menjangkau barang-barang yang diperlukan pasien
 membantu aktivitas pasien
-        
-       Memberi posisi yang nyaman semi fowler
-       Mendekatkan barang-barang yang dibutuhkan pasien
·     
S  :  Pasien mengatakan kedua kakinya sudah bias di gerakan
O :  Pasien susah untuk beraktivitas
A :  Masalah sebagian teratasi
P  :  R/T dilanjutkan


BAB    IV
PEMBAHASAN
Pada bab ini penulis akan membahas tentang kesenjangan, yang penulis temukan dalam praktek tentang kasus implementasi antara tinjauan teoritis dengan tinjauan kasus di Rumah Sakit Umum DR.RM.Djoelham Kota Binjai. Pada pembahasan ini penulis akan menguraikan mulai dari tahap pengkajian sampai dengan evaluasi.
4.1       Pengkajian
                        Pada tahap pengkajian dilakukan pendekatan umum untuk memperoleh pengumpulan data yuang meliputi aspek bio, psiko, spiritual. Pada tahap ini tidak ditemukan kesulitan, karena px dalam sadar dan mau bekerja sama sehingga data dapat diperoleh dengan mudah.
4.2       Diagnosa Keperawatan
            Berdasarkan hasil pengumpulan data pada tahap pengkajian, maka ditemukan 3 diagnosa keperawatan pada tinjauan kasus, sedangkan pada tinjauan teoritis ditemukan 6 diagnosa keperawatan
Adapun diagnosa keperawatan yang ditemukan pada tinjauan teoritis :
1.      Curah jantung, penurunan resiko tinggi terhadap b/d peningkatan after lood vasoontriksi, iskemia miokardia, hipertrapi d/d tidak dapat diterapkan adanya tanda dan gejala yang menetapkan diagnosa
2.      Nyeri (akut) sakit kepala b/d peningkatan tekanan paskuler serebral d/d melaporkan tentang nyeri berdenyut yang teletak region selebral terjadi pada saat bangun tidur dan tulangn secara spontan
3.      Intoleransi aktivitas b/d kelemahan fisik d/d laporan verbal tentang keletian dan kelemahan
4.      Nutrisi perubahan lebih dari kebutuhan tubuh d/d masukan berlebihan dengan kebutuhan matabolik d/d berat badan 10-20% lebih dari ideal untuk tinggi dan bentuk tubuh
5.      Koping individual, infektif b/d krisis situasional imaturrasional, perubahan hidup beragam d/d menyatakan ketidak mampuan untuk mengatasi atau meminta bantuan
6.      Kurang pengetahuan mengenai kondisi rencana pengobatan b/d kurang pengetahuan/daya ingat d/d menyatakan masalah meminta informasi.
Sedangkan diagnosa keperawatan yang ditemukan pada tinjauan kasus
1. Gangguan rasa nyaman nyeri b/d peningkatan tekanan darah d/d pasien tampak meringis kesakitan, kondisi badan lemas.
        TD : 170/100 mmHg
        Pols  :  90 x/i
        RR    : 22 x/i
        Temp : 370C
    
2.  Gangguan pola nutrisi b/d perubahan jenis diet d/d Makanan yang di sajikan habis 1/3 porsi
3.  Gangguan istirahat tidur b/d efek hospitalisasi d/d pasien tampak pucat, mata cekung, tidur malam + 2 jam   pasien susah tidur siang
4.  Gangguan pola aktivitas b/d kelemahan fisik d/d aktivitas pasien dibantu oleh keluarga dan perawat.


Adapun berbandingan antara diagnosa keperawatan menurut tinjauan teoritis yang tidak terdapat pada tinjauan kasus
1.      Curah jantung, penurunan resiko tinggi terhadap b/d peningkatan arteroid vasa kontriksi, iskemia intruksi d/d tidak dapat diterapkan adanya tanda dan gejala yang menetapkan diagnosis aktual. Ini tidak dijumpai pada tinjauan kasus karena px tidak ada penurunan resiko tinggi terhadap curah jantung
2.      Mekanisme koping  b/d krisis situasional d/d ketidak nyamanan untuk mengatasi atau meminta bantuan. Ini tidak dijumpai pada tinjauan kasus karena px mempunyai mekanisme koping yang baik
3.      Kurangnya pengetahuan mengenai rencana pengobatan b/d kognitif. Ini tidak baik dijumpai pada tinjauan karena px memahami prosedur pengobatan yang diberikan oleh tim medis.
Sedangkan diagnosa keperawatan pada tinjauan kasus yang tidak ditemukan pada tinjauan teoritis
1.  Gangguan istirahat tidur b/d efek hospitalisasi d/d pasien tampak pucat, mata cekung, tidur malam + 4 jam  susah tidur siang
4.3       Perencanaan
Merupakan lanjutan dari diagnose keperawatan dalam rangka mengatasi permasalahan yang timbul, penulis menyusun satu perencanaan tindakan keperawatan agar asuhan keperawatan yang diberikan dapat dilakasanakan lebih rasional dan benar-benar berkualitas sehingga kebutuhan px dapat terpenuhi dengan optimal.
4.4       Pelaksanaan
            Pada dasarnya dalam tahap pelaksanaan penulis tetap mengacu pada perencanaan yang disusun sebelumnya dimana semua rencana tindakan dapat dilaksanakan dengan baik tanpa adanya kesulitan atau hambatan yang berarti. Hal ini dapat terlaksana dengan baik berkat adanya kerja sama yang baik antara penulis dengan px, keluarga px dan tim medis juga tersedianya fasilitas yang memadai.
4.5       Evaluasi
                
Merupakan proses pencapaian tujuan yang baik antara penulis dengan keluarga px, dokter dan perawat ruangan, sehinigga hasil yang ditetapkan dapat diamati dengan jelas, disamping itu px memberikan respon yang positif terhadap tindakan keperawatan yang diberikan oleh perawat.


BAB    V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1       Kesimpulan
            Setelah penulis menguraikan tentang proses keperawatan pada pasien hipertensi yang dirawat di Rumah Sakit Umum DR.RM. Djoelham Kota Binjai. Selanjutnya penulis akan menguraikan kesimpulan dan saran untuk menguraikan mutu asuahan keperawatan pada klien dengan hiperetensi.
            Kesimpulan
-          Penyakit hipertensi adalah tekanan darah sistolik < 140 mmHg dan tekanan distolik > 90 mmHg
-          Penyakit hipertensi merupakan penyakit yang paling banyak di jumpai pada orang yang lanjut usia
-          Pada penerapan asuhan keperawatan pada kenyataannya hampir seluruhnya ada pada tinjauan kasus
-          Pada tahap evaluasi dan diagnosa keperawatan tertentu memerlukan tindakan keperawatan dalam proses penyembuhan.
5.2       Saran
-          Pendekatan yang baik pada pasien hendaknya dilakukan oleh semua tim kesehatan terutama perawatan sehari-hari, hubungan yang dekat pasien agar pasien merasa diperhatikan
-          Didalam proses keperawatan perlu adanya motivasi atau bimbingan dan perawat, berharap px agar keperawatan berjalan efektif dengan menggunakan tujuan pelaksanaan dari tindakan yang dibuat seperti hasil dari tujuan yang diberikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti
-          Catatan perawatan di dokumentasikan dengan menggunakan implementasi dan tindakan tersebut
-          Perlu adanya peningkatan kerjasama yang baik antara perawat dan keluarga pasien, tim medis dalam proses keperawatan.


DAFTAR PUSTAKA
Dorgoes, 2001, Rencana Asuhan Keperawatan, BBC, Jakarta
Http//askep, blogspot/2008/02/askep hipertensi
C.pearce, 2009, anatomi dan fisiologi, penerbit gramedia, Jakarta
Aziz alimul, 2009, konsep dasar manusia, penerbit salemba medika, Jakarta
Nursalam, 2000, proses dan dokumentasi keperawatan, penerbit salemba medika, Jakarta.
Suyono, 2001, ilmu penyakit dalam, penerbit FKUI
p.wolff,2006, hipertensi, penerbit PT BHUANA ILMU POPULER